RadarMadura.id - September 2025 menjadi saksi persetujuan pemegang saham Electronic Arts (EA) atas akuisisi senilai 55 miliar dolar AS oleh konsorsium yang didominasi Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi di bawah Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Dengan partisipasi Silver Lake dan Affinity Partners – yang dipimpin Jared Kushner – transaksi ini tidak hanya menjadi leveraged buyout terbesar sepanjang masa, tapi juga simbol ambisi geopolitik baru di era digital.
Perjalanan ini bermula dari Saudi Vision 2030, diluncurkan 2016 untuk mendiversifikasi ekonomi kerajaan.
Gaming dipilih karena potensinya sebagai soft power: industri senilai ratusan miliar dolar yang membentuk budaya generasi muda.
PIF, dengan aset mendekati 1 triliun dolar, membentuk Savvy Games Group pada 2022 dengan komitmen 38 miliar dolar.
Investasi awal berupa saham minoritas di Nintendo, Capcom, dan EA sendiri (sekitar 10 persen sebelum akuisisi).
Kemudian, akuisisi penuh seperti Scopely (penerbit Monopoly GO!) dan divisi Niantic (Pokémon GO).
Kini, EA – dengan franchise ikonik yang menjangkau miliaran jam bermain secara global – menjadi mahkota strategi itu.
PIF akan menguasai 93,4 persen, sementara EA delisting dari bursa dan bebas dari tekanan profit kuartalan. Andrew Wilson tetap sebagai CEO, menjanjikan kelanjutan kreativitas.
Namun, transaksi ini menuai pro dan kontra. Di satu sisi, ini peluang inovasi: budget lebih besar untuk game berkualitas, kolaborasi dengan Qiddiya City – proyek kota hiburan yang menargetkan 10 juta pengunjung tahunan.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, ini berarti turnamen esports lebih sering dan potensi funding bagi studio lokal.
Di sisi lain, ada kekhawatiran humanis. Organisasi seperti Human Rights Watch melihat ini sebagai ekstensi "sportswashing": investasi besar untuk mengalihkan perhatian dari isu hak asasi, termasuk represi dissiden.
Bagi ribuan karyawan EA, pertanyaan mendasar: apakah nilai perusahaan tetap netral, atau pengaruh pemilik baru akan terasa dalam konten?
Industri game, yang melibatkan jutaan anak muda sebagai pemain dan kreator, bukan lagi hiburan semata.
Ia menjadi arena pengaruh budaya. Akuisisi ini mengajak kita merefleksikan: siapa yang mengendalikan narasi di dunia virtual yang kita huni?
Untuk pembahasan lebih lanjut, simak analisis dalam video ini: Ambisi Arab Saudi Kuasai Industri Game Lewat EA. ***
Editor : Abdul Basri