RadarMadura.id— Anime One Punch Man kembali mengguncang dunia hiburan global setelah enam tahun menghilang dari layar.
Namun, alih-alih disambut sorak sorai, kemunculan Season 3 justru memantik badai kekecewaan dan perdebatan panas di kalangan penggemar setianya.
Ironisnya, di tengah kritik tajam dan rating yang menurun, serial ini justru berhasil menembus daftar Top Global Netflix dan bertengger di posisi ketujuh dunia.
Hebatnya lagi, One Punch Man menjadi satu-satunya serial animasi yang berhasil masuk daftar bergengsi tersebut.
Data global menunjukkan, anime ini bahkan merajai peringkat teratas di enam negara termasuk Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Maladewa, dan Peru.
Di Jepang, negeri asalnya, One Punch Man sempat duduk manis di posisi #1 pada 21 Oktober, sebelum merosot ke posisi #3 keesokan harinya.
Namun, keberhasilan itu tak mampu meredam kekecewaan para penonton. Episode pembuka berjudul Strategy Meeting dianggap gagal total.
Para penggemar ramai-ramai melampiaskan amarah di forum daring karena animasinya disebut datar dan ceritanya kehilangan arah.
“Ini bukan One Punch Man yang kami tunggu selama bertahun-tahun,” tulis seorang pengguna X dengan nada kecewa.
Kontroversi makin memanas ketika Shinpei Nagai, sutradara musim ketiga, menutup akun media sosialnya akibat serangan komentar negatif.
Dalam unggahan terakhirnya, Nagai mengaku kecewa dengan pihak-pihak yang sengaja memelintir ucapannya untuk memancing kemarahan.
“Saya telah memutuskan untuk menghapus akun saya,” tulisnya, menegaskan bahwa tekanan dan salah tafsir publik sudah di luar batas wajar.
Bagi banyak penggemar lama, One Punch Man tak sekadar anime aksi. Serial yang pertama kali tayang pada 2015 ini dikenal karena kualitas animasi spektakuler dan humor satir yang cerdas.
Sayangnya, sejak musim kedua pada 2019, penurunan kualitas produksi mulai terasa—dan kini mencapai puncaknya di musim ketiga.
Dengan rating rata-rata global sekitar 3,9, publik terbelah antara mereka yang masih bertahan menonton demi nostalgia dan mereka yang memilih meninggalkannya.
Beberapa pengamat bahkan menyebut bahwa perubahan studio produksi dan tekanan untuk cepat menayangkan menjadi faktor utama merosotnya kualitas visual dan naratif.
Meski begitu, fenomena One Punch Man Season 3 tetap menjadi bukti kuat bahwa daya tarik sang pahlawan botak belum pudar.
Saitama, dengan kekuatan super absurdnya yang mampu menumbangkan lawan dengan satu pukulan, masih menjadi ikon tak tergantikan dalam dunia anime modern.
Kini, semua mata tertuju pada apakah episode-episode berikutnya mampu membalikkan keadaan dan mengembalikan reputasi yang dulu sempat membuatnya jadi legenda. (Hasan)
Editor : Hasan Bashri