Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Perjalanan Bermusik Badrus Zeman, Sponge Rock Haram Nyanyi Lagu Orang Lain

Fatmasari Margaretta • Rabu, 7 Agustus 2024 | 00:36 WIB
KREATIF: Tiga personel Lorjhu’ Badrus Zeman sebagai gitaris dan vokalis (tengah), Gaharaiden Soetansyah sebagai drummer (kiri), dan Insan Negara sebagai basis (kanan memakai celana).
KREATIF: Tiga personel Lorjhu’ Badrus Zeman sebagai gitaris dan vokalis (tengah), Gaharaiden Soetansyah sebagai drummer (kiri), dan Insan Negara sebagai basis (kanan memakai celana).

SUMENEP, RadarMadura.id – Nama Badrus Zeman sudah tidak asing di kalangan pencinta musik Indonesia.

Di balik ketenarannya, perjalanan bermusiknya hingga saat ini patut diapresiasi.

Badrus menekuni musik sejak belia, yakni ketika masih tinggal di Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan, Sumenep.

Saat itu dia masih nyantri di Ma’had Tahfidz Al-Qur’an Zainul Ibad Prenduan. Ketika itu, dia masih mengenyam pendidikan tsanawiyah kelas dua.

”Alhamdulillah, di pesantren kami dulu di-support untuk berkesenian, sehingga saya berinisiatif membuat sebuah project waktu itu, musik instrumental. Dulu bereksperimen menggunakan gentong air yang terbuat dari tanah liat sebagai alat musik,” kenangnya, Jumat (2/8).

Saat itu karya tersebut tidak dapat didokumentasikan karena belum mengenal teknologi untuk melakukan perekaman.

”Sebab, saat itu saya hanya sebagai santri yang mempunyai kreativitas bermusik. Itu kali pertama saya membuat karya di bidang musik yang bisa dikatakan serius,” terangnya.

Tidak berhenti di situ, saat Badrus kelas dua madrasah aliyah (MA), dia sempat membuat sebuah grup band bersama teman-temannya.

LOKALITAS: Badrus Zeman memakai songkok dan sarung saat manggung.
LOKALITAS: Badrus Zeman memakai songkok dan sarung saat manggung.

Meskipun, saat itu tidak memiliki dasar musik yang bagus. Namun, karena keinginan akhirnya dia mendirikan sebuah band.

”Saat itu sama-sama tidak paham musik. Namun karena keinginan, kami buat grup band yang bernama Sponge Rock. 

Nama itu terinspirasi dari kartun Spongebob,” ungkapnya.

Yang menarik dari band tersebut adalah setiap anggota berkomitmen untuk tidak menyanyikan lagu orang lain.

”Jadi setiap latihan itu kami haram hukumnya untuk menyanyikan lagu orang lain, sehingga kami membuat lagu sendiri,” katanya.

Menurutnya, saat itu pertama latihan di Studio Az-Dzikir kepunyaan Turmedzi Djaka.

Meskipun dengan alat seadanya, studio terbuat dari gedek, dan tidak ada peredam suara, tapi saat itu cukup banyak band yang berlatih di sana.

”Sangat menarik untuk kami jajal saat itu, karena kalau kami latihan akan terdengar ke mana-mana,” kenangnya.

Band itu tidak bertahan begitu lama, karena sebagian personel memilih aktivitas lain.

”Saat itu lumayan banyak perubahan, karena teman-teman banyak yang berhenti lantaran passion-nya mungkin bukan di musik,” ungkapnya.

Saat berada di madrasah aliyah itu, Badrus banyak menjajal berbagai proyek musik. Mulai dari Sponge Rock, Red Lizart, hingga Clurit.

Namun, pada akhirnya bubar karena tidak ada yang mengurus.

Grafis oleh SIGIT AP/JPRM
Grafis oleh SIGIT AP/JPRM

”Dari perubahan nama dan personel itu genrenya juga berubah. Yang pertama, Sponge Rock bergenre punk rock. Kemudian, berubah menjadi speed rock dan terakhir Clurit yang jadi band metal,” jelasnya.

Saat kuliah, Badrus banyak terlibat dalam proyek musik solo seperti Badzem (singkatan dari Badrus Zeman) dan bertahan sampai 2012.

Setelah itu, sempat juga membuat classic rock dengan nama Badrus Zeman. Lalu, pada 2015, dia melakukan sebuah project yang cukup serius meskipun dilakukan secara indi label.

”Waktu itu saya buat project musik folk acustik. Saat itu bikin mini album yang berisi empat lagu meskipun sebenarnya lagu-lagu itu berasal dari lagu lama yang saya perbarui dengan warna berbeda. Jadi, selama kuliah itu saya memiliki banyak lagu yang bermacam-macam mulai dari genre metal, rock, dan pop,” ucapnya.

MANGGUNG: Lorjhu’ saat tampil di salah satu acara di Jawa Timur.
MANGGUNG: Lorjhu’ saat tampil di salah satu acara di Jawa Timur.

Menurutnya, saat itu prosesnya sangat menarik karena semua dilakukan sendiri. Mulai perekaman hingga pemasaran.

Judul album Majeng dengan nama Zeman. Album itu berisi empat lagu. Yakni, Mungkin, Saling Merindu, Tanu Majâng, dan Pagi.

”Itu cukup banyak pendengarnya. Salah satunya di lingkungan kampus, di IKJ, beberapa tempat di Jakarta, dan kawan-kawan yang ada di luar negeri,” tuturnya.

Pada 2019, dia mencoba dengan genre baru yang menggunakan bahasa daerah.

Sehingga, saat itu dia berinisiatif memberi nama Lorjhu’. ”Itu kira-kira perjalanan saya dalam bermusik,” katanya.

Ketertarikannya pada dunia seni, Badrus mengaku dari awal memang berkeinginan menjadi seniman.

Sehingga, dia banyak mempelajari bidang seni. Mulai dari seni lukis, teater, musik hingga film.

”Semuanya saya pelajari, saat ini yang sedang saya jalani yakni musik dan film,” tandasnya. (tif/luq)

Editor : Fatmasari Margaretta
#Passion #seniman #Genre Musik #musik #perekaman #seni #pesantren #mini album #teknologi #kreativitas #studio #grup band