PAMEKASAN, RadarMadura.id – Usaha yang dirintis Agus Purwanto, warga Desa Laden, Kecamatan Kota Pamekasan, tidak lazim. Sebab, dia memelihara leophard gecko. Reptil yang konon berasal dari tiga negara tersebut dikenal sebagai binatang hias.
Setelah intens komunikasi, koran ini akhirnya bisa beranjangsana ke rumah Agus Purwanto, peternak leophard gecko. Letaknya di Desa Laden, Kecamatan Kota Pamekasan.
Untuk sampai ke rumah Agus, koran ini harus menempuh perjalanan sekitar 21 menit dari kantor JPRM Biro Pamekasan di Jalan Kabupaten, Nomor 106, Pamekasan.
Saat itu, arus lalu lintas menuju Desa Laden cukup padat. Setelah melintasi beberapa gang, JPRM akhirnya tiba di rumah Agus. Rumah Agus terlihat asri dan menghadap selatan.
”Maaf kalau sampai nyasar, Mbak. Terkadang memang kurang akurat aplikasi peta online-nya,” katanya.
Setelah itu, Agus mengajak koran ini ke dalam rumah. Sambil membuka obrolan, dia lalu mengeluarkan beberapa leopard gecko koleksinya. Leopard gecko peliharaan Agus terdiri atas berbagai macam warna, corak, dan ukuran.
Mulai warna oranye dengan motif garis-garis ungu, warna putih dengan motif bulat hitam, dan beberapa jenis lainnya.
Baca Juga: Cedera Parah di Bagian Lengan Kiri, Kapten Persepam Pamekasan Akhiri Kompetisi Lebih Cepat
Agus menyatakan, pada 2020, semula dia beternak ikan hias. Lalu pada 2020, dia beternak leopard gecko. Salah satu pertimbangannya, perawatannya mudah dan harga jualnya relatif tinggi. Karena itu, Agus bertahan sampai saat ini.
Menurut dia, leopard gecko berbeda dengan tokek lainnya. Mulai dari warna, ukuran, hingga ukuran tubuh lainnya. Pada umumnya, tokek berwarna abu-abu dengan motif bintik-bintik bulat merah.
Kalau leopard gecko kaya warna dan motifnya bervariasi. Ada yang oranye, putih, hitam, ungu, dan lain-lain.
”Leopard gecko ini memiliki kuku dan tidak punya selaput atau spatula. Makanya, dia ini tidak menempel di dinding dan banyak menghabiskan waktu di pasir,” ulas Agus.
Baca Juga: Kursi Payung Rusak, APKLI Sebut Diskop UKM dan Naker Pamekasan Tak Serius Kelola Sentra Sae Rassah
Dia menjelaskan, leopard gecko tidak mengeluarkan suara dan cenderung pemalu apabila bertemu manusia. ”Permukaan kulitnya kenyal seperti jeli. Panjang leophard gecko dewasa berkisar 26–27 cm dengan berat sekitar 50–60 gram,” tuturnya.
Agus menyampaikan, pada dasarnya permukaan kulit leopard gecko berwarna kuning dengan bintik-bintik hitam. Namun, setelah melewati perkawinan, leopard gecko melahirkan beberapa motif dan warna.
”Tiga kali sehari, saya beri pakan kecoa dan serangga lainnya. Hewan ini termasuk nokturnal. Karena itu, pada siang dia tidur,” tutur ayah satu anak ini.
Warna, motif, ukuran, dan berat badan leopard gecko menjadi salah satu pemicu mahalnya harga di pasaran. ”Apabila warnanya unik dan langka, harganya lebih mahal. Ukuran tubuhnya juga jadi pertimbangan,” ucapnya.
Baca Juga: Pendataan Produksi Perikanan di Bangkalan Tidak Teranggarkan
Sejak Covid-19 melanda, Agus mengaku hanya menjual anakan karena lebih cepat laku. ”Harga indukannya mulai dari Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. Kalau anakannya dibanderol Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu,” terangnya.
Leophard gecko piaraannya bertelur dua kali sebulan atau sebanyak empat butir. Tapi, pernah bertelur sampai enam kali. Selama enam bulan, leopard gecko betina tidak boleh dikawinkan untuk sementara waktu.
Telurnya tidak terlalu besar. Diameternya sekitar 3 cm,” ungkapnya.
”Saya tipikal orang yang kebetulan suka memelihara hewan-hewan unik dan langka. Jadi, semua ini saya lakukan bukan karena bisnis semata, tapi juga menjadi wahana untuk menyalurkan hobi,” tandasnya. (*/yan)
Editor : Fatmasari Margaretta