RadarMadura.id— Siapa sangka jajanan sederhana dari masa kecil ini kembali bersinar di era digital?
Kue rangi, camilan khas Betawi dengan tampilan bersahaja, kini sukses mencuri perhatian generasi muda.
Dulu dijajakan di pinggir jalan dengan gerobak sederhana, kini kue rangi tampil di kafe kekinian hingga festival kuliner dengan gaya lebih modern tanpa kehilangan identitas rasa.
Rahasia kelezatan kue rangi ada pada kombinasi unik antara adonan gurih dan kuah gula merah yang legit.
Proses memasaknya pun terbilang unik. Setelah adonan dicetak dan dipadatkan, ia dimasak di atas wajan panas lalu ditutup agar matang merata.
Bagian bawahnya akan berubah menjadi kecokelatan dan mengeluarkan aroma kelapa yang menggiurkan. Saat diangkat, tampilannya sederhana—tapi jangan tertipu, rasanya luar biasa!
Kuah gula merah adalah si pemeran utama yang tak boleh dilupakan.
Terbuat dari campuran gula merah, air, daun pandan, sedikit garam, dan larutan maizena, kuah ini direbus hingga mendidih dan mengental sempurna.
Saat disiramkan ke atas kue rangi hangat, wangi manisnya langsung membangkitkan selera.
Bagi kamu yang ingin membuatnya di rumah, tak perlu alat canggih atau bahan sulit.
Cukup siapkan 150 gram tepung tapioka atau sagu, 100 gram kelapa parut setengah tua, 50 ml air, dan 1/4 sendok teh garam.
Campur semuanya hingga padat, masak di atas wajan, dan tutup rapat. Dalam hitungan menit, kue rangi siap disantap.
Kue ini bukan hanya sekadar makanan ringan, tapi juga pembawa memori kolektif masyarakat Jakarta tempo dulu.
Rasanya yang khas membuat banyak orang rindu pada masa-masa sederhana saat camilan ini menjadi teman setia sepulang sekolah.
Kini, kue rangi tak lagi dipandang sebelah mata. Banyak kreator kuliner mencoba mengeksplorasinya dengan topping baru seperti cokelat, keju, hingga matcha.
Tapi bagi penikmat sejati, versi original dengan kuah gula merah tetap tak tergantikan.
Jadi, jika kamu ingin menyajikan sesuatu yang berbeda untuk keluarga di rumah, kue rangi bisa jadi pilihan.
Mudah dibuat, hemat biaya, dan penuh rasa. Dan yang paling penting, ia membawa pulang kenangan. (Fadila)
Editor : Fadila An Naila