RadarMadura.id— Di salah satu sudut Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, berdiri sebuah gunung yang tidak terlalu menjulang tinggi, namun sarat dengan cerita penuh misteri.
Namanya Gunung Pegat, sebuah tempat yang menyimpan mitos yang dipercaya masyarakat sejak masa lampau. Kisah ini, bagaimanapun, bukan hanya tentang mitos, melainkan juga tentang sejarah kelam yang terukir di baliknya.
Jejak Pahit di Era Kolonial
Pada zaman penjajahan Belanda, kawasan Babat-Jombang menjadi salah satu titik penting perdagangan.
Demi melancarkan arus ekonomi, pemerintah kolonial merancang pembangunan jalur jalan dan rel kereta api. Pembangunan ini, yang tampak menjanjikan kemajuan, ternyata menyisakan kisah pilu yang tak terlupakan.
Gunung Pegat, yang kala itu masih berupa gundukan kapur, harus dipecah untuk membuka akses tersebut. Namun, cara yang digunakan jauh dari manusiawi.
Ratusan pekerja rodi dipaksa bekerja siang dan malam di bawah ancaman dan perlakuan kasar. Setiap pukulan palu pada batu kapur seolah juga menghantam tubuh dan jiwa mereka yang terpaksa menuruti perintah penjajah.
Dalam penderitaan yang tak bertepi itu, para pekerja akhirnya melampiaskan rasa sakit dan dendam mereka.
Dengan hati penuh luka, mereka mengucapkan sumpah yang menggetarkan: siapa pun yang melintasi gunung ini tidak akan pernah merasakan kebahagiaan, terutama mereka yang sudah berkeluarga. Sumpah itu, diyakini, terus bergaung hingga hari ini.
Kutukan "Pegat" yang Melekat
Nama Gunung Pegat sendiri berasal dari kata dalam bahasa Jawa, "pegat," yang berarti perpisahan. Tidak sedikit masyarakat setempat yang percaya bahwa kutukan tersebut nyata.
Menurut cerita, pasangan yang sudah menikah dan melintasi Gunung Pegat berisiko menghadapi perpisahan, baik berupa keretakan rumah tangga maupun kesulitan hidup yang tiada habisnya.
Bagi mereka yang belum menikah, cerita itu tidak kalah menyeramkan. Konon, mereka akan sulit menemukan kebahagiaan dalam berumah tangga. Kehidupan yang dibayangkan penuh cinta malah akan diwarnai kesulitan, bahkan perpisahan yang tak terelakkan.
Cerita ini, meski terdengar tidak masuk akal bagi sebagian orang, tetap hidup dalam tradisi lisan masyarakat sekitar. Mereka yang percaya memilih untuk menghindari Gunung Pegat, terutama jika memiliki ikatan keluarga yang ingin dijaga keutuhannya.
Narasi Mistis dan Perspektif Modern
Namun, waktu terus bergulir, dan pandangan terhadap Gunung Pegat pun mulai beragam. Bagi generasi muda, cerita ini dianggap sebagai warisan tradisi yang kaya akan nilai-nilai lokal. Ada pula yang melihatnya sebagai pengingat tentang kerasnya kehidupan di masa penjajahan.
Di sisi lain, sebagian besar wisatawan mengunjungi kawasan ini dengan rasa penasaran, ingin menyaksikan langsung gunung yang menjadi pusat cerita penuh misteri.
Meski demikian, banyak dari mereka tetap menghormati kepercayaan masyarakat setempat. Tidak sedikit yang berhati-hati, seolah tak ingin mengundang nasib buruk yang dikisahkan turun-temurun.
Gunung Pegat adalah lebih dari sekadar bukit kapur yang dibelah untuk pembangunan. Ia adalah simbol perjuangan, penderitaan, dan dendam yang membekas di hati mereka yang pernah menderita di masa lalu.
Kutukan yang diceritakan mungkin hanyalah mitos, tetapi ia menjadi jendela untuk memahami betapa dalamnya luka yang ditinggalkan oleh sejarah.
Mungkin benar, mungkin juga tidak. Namun, cerita Gunung Pegat mengajarkan kita untuk tidak melupakan masa lalu, menghormati tradisi, dan memahami makna di balik kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Apakah Anda cukup berani untuk melintasinya? Atau, seperti banyak orang lainnya, memilih untuk menjauh demi rasa aman? Keputusan itu, tentu, ada di tangan Anda.
Editor : Fadila An Naila