Guru Madrasah Nasy-atul Muta’allimin Candi Ikuti Pendampingan Implementasi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta

SUMENEP, RadarMadura.id – Suasana berbeda terlihat di Pantai Lombang, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep. Sejak Senin 3 Agustus 2026, para guru di Madrasah Nasy-atul Muta’allimin, Desa Candi, Kecamatan Dungkek, Sumenep, mengikuti pendampingan langsung dari para dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Madura.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Mandiri yang digagas para dosen UIN Madura.
Tema yang diusung cukup menarik perhatian, yakni Pendampingan Implementasi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta Bagi Guru. Program ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari hingga 6 Agustus 2026.
Sembilan nama fasilitator yang turun langsung mendampingi para madrasah di bawah naungan Yayasan Al-Jailani tersebut. Yakni Prof Dr Nor Hasan, M.Ag; Prof Dr Mohammad Hasan, M.Ag; Drs Saiful Arif, M.Pd; Dr Waqiatul Masruroh, M.Si; Siti Azizah, M.Pd; Prof Dr Atiqullah, M.Pd; Abbadi Ishomuddin, MA; Prof Dr Mohammad Thoha, M.Pd.I; Iswah Adriana, S.Ag.,M.Pd.
Kehadiran para guru besar dan dosen ini menunjukkan keseriusan kampus dalam mengawal mutu pendidikan. Pemilihan Madrasah Nasy-atul Muta’allimin Candi karena selama ini dikenal aktif, namun para guru masih membutuhkan penguatan dalam menghadapi perubahan kurikulum dan tuntutan pembelajaran abad 21.
Deep Learning dipilih karena dianggap mampu membuat siswa tidak hanya menghafal, tetapi benar-benar memahami dan mengaitkan materi dengan kehidupan. Konsep Kurikulum Berbasis Cinta juga menjadi sorotan.
Menurut para pemateri, cinta di sini bukan sekadar slogan. Guru didorong membangun hubungan emosional yang sehat dengan murid, menciptakan kelas yang aman, dan menanamkan nilai empati sejak dini.

Harapannya, pembelajaran agama dan umum bisa berjalan beriringan tanpa membuat anak merasa tertekan.
Salah satu sesi yang paling dinanti adalah praktik membuat perangkat ajar berbasis Deep Learning. Para guru diminta membawa materi yang biasa mereka ajarkan, lalu bersama fasilitator dibedah ulang. Mulai dari merumuskan tujuan, memilih metode, sampai membuat asesmen yang mengukur pemahaman, bukan sekadar ingatan.
Ketua Yayasan Al-Jailani A. Ruhan menyambut baik program ini. Dia menyebut selama ini guru-guru di Dungkek sering kesulitan mengakses pelatihan yang mutakhir karena jarak dan biaya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




