RadarMadura.id — Bagi pencinta wisata religi, kota ini memiliki beragam tempat bersejarah dan spiritual yang menarik untuk dikunjungi.
Ingin tahu lebih lanjut tentang wisata religi di Boyolali?
Berikut beberapa destinasi ziarah yang tak boleh dilewatkan.
1. Makam Ki Ageng Pantaran
Salah satu tempat yang penuh sejarah adalah Makam Ki Ageng Pantaran, atau dikenal juga dengan Syech Maulana Ibrahim Maghribi. Beliau adalah seorang penyebar agama Islam yang berjuang di wilayah lereng Gunung Merbabu pada masa Kerajaan Demak.
Makam ini terletak di Dukuh Pantaran, Desa Candisari, Gladagsari, Boyolali, dan sering menjadi tujuan ziarah bagi banyak orang.
Selain berziarah, kamu juga bisa menyaksikan tradisi tahunan yang menarik, yaitu Tradisi Buka Luwur yang dilaksanakan setiap Bulan Suro.
Tradisi ini berupa pergantian kain putih di makam yang diiringi dengan kirab dan tabur bunga, memberikan pengalaman unik yang tak terlupakan.
2. Makam Ki Ageng Kebo Kenongo
Destinasi religi lainnya yang layak dikunjungi adalah Makam Ki Ageng Kebo Kenongo di Dukuh Gedong, Desa Jembungan, Banyudono. Makam ini ramai dikunjungi terutama pada malam Selasa Kliwon, waktu yang dianggap istimewa bagi para peziarah.
Ki Ageng Kebo Kenongo adalah penguasa Kerajaan Pengging pada masa Kerajaan Demak, serta ayah dari tokoh penting Jawa, Joko Tingkir.
Lokasi makam ini hanya sekitar dua kilometer dari Alun-Alun Pengging, sehingga sangat mudah diakses.
Bagi kamu yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa, makam ini adalah tempat yang tepat untuk menapaktilasi jejak sejarahnya.
3. Masjid Cipto Mulyo Pengging
Tak jauh dari makam Ki Ageng Kebo Kenongo, kamu bisa menemukan Masjid Cipto Mulyo yang bersejarah. Dibangun oleh Pakubuwono X pada tahun 1905, masjid ini masih mempertahankan arsitektur tradisional Jawa kuno dengan atap limasan yang menyerupai pendopo.
Meskipun telah mengalami beberapa renovasi, masjid ini tetap menjaga keasliannya, mulai dari bentuk bangunan hingga bedug dan kentongan yang masih digunakan hingga sekarang.
Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menyimpan cerita sejarah yang kaya, dengan lima pintu utama yang masing-masing dihiasi ukiran bertuliskan "PB X", menambah kesan megah dan sakral.
4. Gua Maria Mawar Musuk
Beralih ke wisata religi bagi umat Katolik, Gua Maria Mawar Musuk di Desa Kembangsari, Musuk, Boyolali, adalah tempat yang sangat tenang dan nyaman untuk refleksi spiritual.
Suasana sejuk dan asri di sekitar gua, yang dikelilingi pepohonan rimbun dan aliran sungai, membuat tempat ini cocok untuk berdoa, bermeditasi, atau sekadar mencari ketenangan.
Di area ini, kamu dapat menemukan Gua Maria dengan patung Bunda Maria yang menjadi pusat devosi.
Tak hanya itu, tersedia pula fasilitas untuk kenyamanan pengunjung, seperti toilet, warung makan, hingga gazebo untuk bersantai.
5. Wisata Edukasi Religi Singkil
Destinasi terbaru yang hadir di Boyolali adalah Wisata Edukasi Religi Singkil. Resmi dibuka pada Oktober 2023, tempat ini menawarkan pengalaman religi yang lebih modern dengan konsep edukasi. Di sini, pengunjung bisa menjumpai miniatur Ka'bah, Bukit Safa dan Marwah, Masjid Nabawi, hingga Jabal Rahmah, yang dirancang khusus untuk latihan manasik haji dan umrah.
Tempat ini akan dibuka sepenuhnya pada Januari 2024, dengan tiket masuk terjangkau, Rp20 ribu untuk umum dan Rp10 ribu untuk pelajar.
Ini adalah pilihan ideal bagi kamu yang ingin mempersiapkan diri sebelum melaksanakan ibadah haji atau umrah, sekaligus mendapatkan pengalaman spiritual yang lebih mendalam.
Boyolali bukan hanya tentang keindahan alam yang menawan. Kota ini juga menyuguhkan beragam destinasi wisata religi yang sarat dengan nilai sejarah dan spiritual.
Mulai dari makam tokoh-tokoh penting, masjid bersejarah, hingga tempat refleksi umat Katolik, Boyolali menyimpan kekayaan budaya dan religi yang luar biasa.
Wisata Edukasi Religi Singkil yang baru dibuka menambah daya tarik Boyolali sebagai tujuan wisata spiritual yang komprehensif.
Segera rencanakan perjalananmu dan nikmati pengalaman wisata religi yang penuh makna di Boyolali! (hasan)
Editor : Hasan Bashri