Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menelusuri Jejak Sejarah di Pulau Kelor, Kepulauan Seribu yang Terkenal Angker dan Horor

Hasan Bashri • Senin, 3 Juni 2024 | 18:42 WIB

 

Menelusuri Jejak Sejarah Pulau Kelor
Menelusuri Jejak Sejarah Pulau Kelor

RadarMadura.id - Pulau Kelor, salah satu permata tersembunyi di Kepulauan Seribu, Jakarta, merupakan destinasi wisata sejarah yang menyimpan banyak peninggalan masa kolonial Belanda.

Berada di wilayah Kelurahan Pulau Untung Jawa, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, pulau ini menawarkan pesona sejarah dan keindahan alam yang menarik untuk dijelajahi.

Awalnya, pulau ini dikenal dengan nama Pulau Keurkof yang dalam bahasa Belanda berarti pulau makam.

Nama tersebut diberikan karena pada masa kolonial Belanda, pulau ini digunakan sebagai tempat pemakaman para tahanan.

Namun, setelah Indonesia merdeka, pulau ini diberi nama baru yaitu Pulau Kelor. Perubahan nama ini menandai babak baru dalam sejarah pulau yang sarat dengan kisah masa lampau.

Salah satu peninggalan bersejarah yang paling menonjol di Pulau Kelor adalah Benteng Martello. Benteng ini merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang dibangun oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada abad ke-17.

Benteng Martello dibangun sebagai galangan kapal dan benteng pertahanan untuk menghadapi serangan Portugis.

Menurut data dari Unit Pengelola (UP) Museum Kebaharian Jakarta, Benteng Martello didirikan sekitar tahun 1850 dan difungsikan sebagai sistem pertahanan sekaligus pengawas kapal-kapal yang berlabuh di sekitar perairan tersebut.

Namun, pada tahun 1883, letusan dahsyat Gunung Krakatau mengakibatkan gelombang pasang gempa yang menghancurkan sebagian besar struktur benteng.

Kini, yang tersisa hanya bagian inti dari benteng tersebut, namun tetap memancarkan aura sejarah yang kuat bagi setiap pengunjung yang datang.

Untuk mengunjungi Pulau Kelor, pengunjung dapat memulai perjalanan dengan menggunakan KRL hingga Stasiun Rawa Buaya.

Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan Mikrotrans Jaklingko JAK 50 dan JAK 80 menuju Dermaga Muara Kamal di Cengkareng, Jakarta Barat.

Setelah sampai di dermaga, pengunjung bisa menyewa kapal kayu nelayan untuk menyeberang ke Pulau Kelor. Meskipun perjalanan menuju pulau ini memerlukan beberapa kali transit, namun keindahan dan nilai sejarah yang ditawarkan sepadan dengan usaha yang dilakukan.

Harga tiket masuk ke Pulau Kelor cukup terjangkau. Untuk pengunjung dewasa, tiket masuk dibanderol dengan harga Rp 5.000, sementara untuk mahasiswa dikenakan tarif Rp 3.000 dan pelajar Rp 2.000.

Bagi rombongan, tarif masuknya adalah Rp 3.750 untuk dewasa, Rp 2.250 untuk mahasiswa, dan Rp 1.500 untuk pelajar. Harga tiket tersebut belum termasuk biaya transportasi menuju pulau. Menurut Kepala UP Museum Kebaharian Jakarta, Mis Ari, operasional pulau ini buka setiap hari dari Senin hingga Minggu, dan selama bulan Ramadan buka mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB.

Selain menawarkan perjalanan sejarah, Pulau Kelor juga menjadi lokasi yang ideal untuk kegiatan ngabuburit sambil memancing.

Keindahan pulau dengan pesona alamnya yang masih alami memberikan pengalaman berbeda bagi para pengunjung.

Memancing sambil menikmati suasana sore di Pulau Kelor menjadi kegiatan yang menenangkan dan menyenangkan, apalagi saat menunggu waktu berbuka puasa.

Pulau Kelor tidak hanya sekadar destinasi wisata, tetapi juga merupakan saksi bisu sejarah yang menyimpan banyak cerita dari masa kolonial Belanda. Dengan segala keindahan dan nilai sejarahnya, Pulau Kelor layak menjadi salah satu tujuan wisata yang harus dikunjungi di Kepulauan Seribu. (hasan)

Editor : Hasan Bashri
#wisata angker #belanda #pulau kelor #kepulauan seribu #sejarah #mistis