RadarMadura.id – Plaza modern telah menjadi pusat kehidupan sehari-hari bagi masyarakat Indonesia, menjadi tempat tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk bersosialisasi dan menghabiskan waktu luang.
Namun, di balik gemerlap lampu dan kegembiraan di dalamnya, terdapat sisi gelap yang melingkupi sejarah pembangunan gedung-gedung bertingkat ini.
Sisi kelam ini tidak dapat dipisahkan dari atmosfer mistis yang menggigit, memunculkan sensasi tak tertahankan yang membuat bulu kuduk merinding.
Di Surabaya, terdapat sebuah mall bernama Delta Plaza Surabaya yang memiliki reputasi sebagai salah satu mall paling angker di Indonesia.
Meskipun tampak megah dan mewah, mall ini menyimpan sejumlah fakta horor yang menyeramkan dan mungkin tidak diketahui oleh banyak orang.
Berikut adalah beberapa fakta yang pernah terjadi di mall Delta Plaza Surabaya:
1. Awalnya merupakan Rumah Sakit
Pada tahun 1940-an, bangunan yang kini menjadi Delta Plaza Surabaya dulunya adalah rumah sakit bernama RS Simpang.
Rumah sakit ini terkenal karena merawat korban pertempuran melawan penjajah, pada tahun 1980-an, bangunan ini diubah menjadi mall yang megah dan mewah.
2. Perawat tewas terjepit lift
Ketika masih berfungsi sebagai rumah sakit, terdapat cerita mengerikan tentang seorang perawat wanita yang tewas terjepit lift.
Kondisinya sangat mengenaskan, dan arwahnya diyakini masih bergentayangan di area mall, dikenal sebagai suster gepeng.
3. Wanita tewas tertimpa pohon
Di area parkir mall, terdapat sebuah pohon besar dimana konon seorang wanita tewas karena tertimpa pohon tersebut yang tersambar petir.
Hingga kini, arwah wanita ini sering dikabarkan muncul di area parkir sebelah barat mall.
4. Dekat dengan Monumen Kapal Selam
Delta Plaza Surabaya bersebelahan dengan Monumen Kapal Selam yang dikenal ramai dikunjungi warga karena penasaran dengan kondisi di dalamnya.
Monumen ini juga sering dianggap sebagai tempat angker karena sejarahnya yang sudah lama.
Jadi, meskipun terlihat megah, Delta Plaza Surabaya memiliki sejarah yang mencekam yang mungkin membuat pengunjung harus merasa waspada. (andrian)
Editor : Achmad Andrian F