RadarMadura.id — Indonesia, sebuah negara kepulauan yang megah dengan lebih dari 17.000 pulau, dikenal sebagai rumah bagi gunung berapi paling aktif di dunia.
Dengan sekitar 130 gunung berapi aktif dan banyak lagi yang telah punah, negeri ini menjadi surga bagi para penjelajah dan pecinta alam terbuka.
Di antara puncak-puncak yang menjulang, Gunung Welirang di Kabupaten Malang, Jawa Timur, menonjol sebagai permata yang menawarkan keindahan alam dan kekayaan budaya yang unik.
Nama ‘Welirang’ sendiri, yang dalam Bahasa Jawa berarti ‘belerang’, memberikan petunjuk tentang karakteristik khas gunung ini.
Di sekitar puncaknya, terdapat tambang batu belerang yang telah lama menjadi sumber penghidupan bagi petani belerang di desa-desa sekitar.
Kegiatan penambangan ini tidak hanya penting secara ekonomi tetapi juga membentuk lanskap sosial komunitas setempat.
Dengan ketinggian mencapai 3.156 meter di atas permukaan laut, Gunung Welirang adalah bagian dari rangkaian gunung berapi aktif yang mempesona.
Lerengnya yang subur ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman hijau, termasuk hutan Dipterokarp Bukit, Hutan Dipterokarp Atas, Hutan Montane, dan Hutan Ericaceous.
Keberagaman ekosistem ini menciptakan hamparan hijau yang luas dan menawarkan habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna.
Selain vegetasi yang subur, Gunung Welirang juga dikenal dengan air terjunnya yang masih alami dan mempesona. Di antara yang paling terkenal adalah Watu Ondo, Tutukan Sendi, dan Lemahbang di Cangar.
Tempat-tempat ini tidak hanya menjadi favorit bagi wisatawan tetapi juga menyediakan kesempatan untuk mengabadikan keindahan alam melalui fotografi, dengan latar belakang lembah hutan bambu dan air terjun yang mengagumkan.
Namun, di balik keindahan alamnya, Gunung Welirang juga menyimpan cerita-cerita mistis yang telah melekat dalam kepercayaan masyarakat setempat.
Kisah-kisah seperti ngunduh mantu, pasar setan, dan alas lali jiwo atau hutan lupa jiwa, telah menjadi bagian dari warisan budaya yang kaya.
Ngunduh mantu, yang paling populer di antara kisah-kisah ini, sering dikaitkan dengan suara gamelan dan gending yang misterius, yang konon terdengar oleh pendaki dan penambang belerang.
Menurut kepercayaan setempat, mendengar suara tersebut merupakan pertanda untuk tidak melanjutkan pendakian. Kisah lain, alas lali jiwo, mengisahkan pendaki yang tersesat atau terhipnotis saat melintasi hutan.
Sementara itu, pasar setan dikaitkan dengan suara gaduh yang terdengar seperti pasar pada malam hari. Untuk menghindari pengalaman yang tidak diinginkan, para pendaki diingatkan untuk selalu mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh petugas.
Gunung Welirang, dengan segala pesona alam dan misterinya, terus memikat hati para petualang dan menjadi saksi bisu atas interaksi manusia dengan alam serta kekayaan budaya yang terjaga.
Bagi Indonesia, gunung ini bukan hanya sebuah puncak yang harus ditaklukkan, tetapi juga simbol kekuatan dan keindahan yang harus dihormati dan dilestarikan. (hasan)