BANGKALAN, RadarMadura.id – Indonesia tidak hanya terkenal karena kekayaan dan keberagaman suku dan bahasa daerahnya.
Namun juga dari kulinernya yang beragam bentuk, nama, dan rasa. Salah satunya soto atau dikenal dengan nama lokal stroto, sauto, tauto, dan coto.
Kuliner berkuah satu ini hampir ada di berbagai daerah. Misalnya soto Madura.
Soto merupakan makanan berkuah yang terbuat dari kaldu ayam atau daging. Dengan bumbu kuning khas soto yang berminyak.
Khusus di Madura, soto Madura biasa dinikmati dengan nasi dan lontong atau ketupat.
Isian dari soto ini cukup beragam. Ada yang dilengkapi dengan irisan telur, potongan daging sapi atau ayam dengan taburan seledri, dan bawang goreng.
Makanan ini akan lebih nikmat menggoyang lidah saat masih hangat.
Mekipun di Madura memiliki kuliner soto sendiri, belakangan ini soto Madura jarang ditemui.
Apalagi mencari penjual soto Madura dengan nama Soto Madura. Kebanyakan yang ditemui adalah nasi soto di sejumlah warung makan.
”Sekilas memang sama, namun soto Madura berbeda dengan nasi soto,” kata Muhammad Rido’i penjual soto Madura dengan nama warung Soto Madura di Bangkalan, Jumat (6/4).
Menurut dia, perbedaan tersebut terlihat pada pelengkap soto.
Jika pada nasi soto ada tambahan kubis dan juga mihun serta ada juga yang meggunakan kecambah.
Sementara soto Madura hanya cukup daun seledri untuk pelengkap.
Rido’i merupakan generasi kedua penjual soto Madura. Sehingga, ciri khas bumbu dan komposisi soto dipahami betul dan tidak berubah. Usaha soto Madura yang dijalankan itu berdiri tahun 1967.
”Dari dulu hingga sekarang bumbu yang saya gunakan tetap. Saat itu, soto ini ada sebelum banyak warung makanan hingga sekarang,” tambahnya.
Pada soto Madura ada ciri khas yang khusus yang hanya ada di soto tersebut.
Perbedaannya ada pada kuah kaldu dagingnya yang berbeda dengan soto lain.
Soto Madura yang asli berasal dari kaldu sapi asli Madura dengan serat daging yang lebih enak.
”Bedanya dengan soto yang lain, mereka menggunakan sapi yang agak putih (limosin). Tentu rasanya berbeda dengan kaldu dari asli sapi Madura yang merah,” jelasnya.
Itulah yang menjadi alasan kenapa soto Madura lebih nikmat. Sebab, ada kelezatan tersendiri dari kaldu sapi Madura.
Hal itu berlaku juga pada varian soto dengan toping jeroan atau babat dan juga kikil sapi.
”Cuma yang tidak suka jeroan biasanya minta daging saja,” ucapnya.
Pria asal Kelurahan Kraton, Bangkalan, itu menambahkan, Madura juga memiliki soto merah.
Namun, soto merah tersebut berasal dari kuah yang berbumbu merah. Lumrah dimakan dengan lontong dan ada irisan gorengan.
”Yang bikin merah itu dari cabainya dan ada irisan ote-ote dan sayurannya. Kalau di sini tidak menggunakan itu,” ungkapnya.
Pada perkembangannya, soto Madura kini mulai bervariasi sesuai daerahnya.
Seperti di Kecamatan Kamal ada yang mengenalkan rujak soto.
Yakni, berkomposisi rujak yang diberi kuah kaldu daging dan irisan daging.
Sementara di di ujung timur Madura ada soto Sumenep. Dengan ciri khasnya kuah kuning atau ada yang bening dengan lontong. Dengan penambahan mihun dan gorengan perkedel.
”Sejenis soto Sumenep itu memang ada yang menggunakan perkedel itu. Dan, lauknya ayam dengan kecap manis. Bedanya kalau di kami menggunakan kecap asin yang itu bagian komposisi,” pungkasnya.
Selain perkedel, soto Sumenep terkenal dengan singkong sebagai pelengkapnya.
Potongan daging ayam atau sapi menambah memikat selera.
Penikmat kuliner juga bisa memilih potongan babat agar makin nikmat. (ay/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti