SUMENEP, RadarMadura.id – Pembangunan destinasi wisata Bukit Tawap tidak berasal dari anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) Pagarbatu.
Pemerintah desa (pemdes) melibatkan masyarakat sebagai investor utama. Tercatat ada 698 kepala keluarga (KK) yang berinvestasi untuk pembangunan wisata tersebut.
Kepala Desa Pagarbatu Imam Daud menerangkan, pihaknya sengaja melibatkan warga dalam pembangunan Bukit Tawap.
Terdapat 698 KK yang bersedia investasi. Nilai investasi setiap KK tidak boleh lebih dari Rp 2.400.000.
Pengelolaan wisata dihendel pemdes melalui BUMDes. Hasil pengelolaan wisata dibagikan kepada para investor setiap tiga bulan sekali.
Nominal yang diterima tiap investor rata-rata Rp 300.000. Bagi hasil ini berlaku setahun setelah wisata beroperasi.
”Sekarang para investor sudah dapat hasil Rp 1.700.000. Artinya, modal sudah hampir kembali,” terangnya.
Karena itu, wisata ini juga dikenal dengan tabungan warga Desa Pagarbatu. Sebab, pembangunannya merupakan hasil gotong royong atau swadaya masyarakat setempat.
”Ini pembangunannya asli dari gotong royong dan swadaya masyarakat. Makanya, ada istilah tabungan warga Pagarbatu,” tuturnya.
Imam mengungkapkan, kehadiran Bukit Tawap membuka peluang kerja untuk warga setempat.
Sekarang ada puluhan orang yang direkrut dari berbagai dusun di Desa Pagarbatu. ”Ada 50 karyawan tetap yang bekerja,” ungkapnya.
Baca Juga: Bawaslu Sumenep Resmi Buka Pendaftaran Calon Panwaslu Kecamatan, Ini Jadwalnya
Menurut dia, keinginannya untuk meningkatkan perekonomian warga sudah tercapai. Pihaknya terus mendorong agar objek wisata tersebut terus berkembang dan dikenal masyarakat luas.
”Tujuan saya kan meningkatkan perekonomian masyarakat dan mewujudkan cita-cita untuk menjadi desa mandiri,” tukas Imam Daud. (iqb/bil)
Editor : Ina Herdiyana