BANGKALAN, RadarMadura.id – Sembilan dari 18 kecamatan di Kabupaten Bangkalan berada di wilayah pesisir. Tidak heran banyak tempat wisata yang berada di wilayah pesisir. Jenis wisatanya tidak hanya pantai, tapi juga wisata hutan mangrove.
Namun, wisata berwawasan lingkungan tersebut saat ini banyak yang terbengkalai karena minimnya sarana dan prasarana. Salah satunya, wisata hutan mangrove di Desa Tajungan, Kecamatan Kamal, dan di Kelurahan Bancaran, Kecamatan Kota Bangkalan.
Tetapi, ada wisata hutan bakau yang saat ini masih eksis. Yaitu, wisata Taman Pendidikan Mangrove di Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu. Wisata alam di wilayah pantai utara (pantura) Kabupaten Bangkalan itu dikelola kelompok tani (poktan).
Penanggung Jawab Taman Pendidikan Mangrove Labuhan Ali Usman menyampaikan, tempat wisata yang dikelola saat ini jauh dari harapan yang diinginkan. Sebab, pengunjung yang datang tidak seramai waktu awal dioperasikan pada 2017.
”Mungkin karena sekarang sudah banyak wisata baru,” ucapnya Jumat (5/4).
Pembangunan pohon bakau di wisata Taman Pendidikan Mangrove Labuhan dimulai pada 2012. Saat itu ribuan bibit pohon bakau ditanam oleh salah satu perusahaan eksploitasi minyak dan gas bumi yang beroperasi di wilayah perairan pantura Bangkalan.
”Salah satu tujuan penanaman bibit mangrove ini tidak lain untuk menangkal abrasi,” tambahnya.
Empat tahun berikutnya dilanjutkan dengan pembangunan beberapa fasilitas penunjang wisata pendidikan mangrove. Mulai dari tracking hingga dengan didirikannya penginapan. Sehingga, pada awal wisata alam tersebut beroperasi tidak pernah sepi pengunjung.
Namun, saat ini, masyarakat yang datang dan berlibur sangat sedikit. Sementara saat Ramadan, tempat wisata itu ditutup karena hampir tidak ada wisatawan yang datang berlibur. ”Kecuali pengunjung yang sudah membuat janji untuk datang hari ini,” jelasnya.
Berkurangnya pengunjung terjadi saat pandemi Covid-19. Saat ini pengunjung yang datang didominasi oleh kelompok mahasiswa. Mereka berkunjung untuk melaksanakan kegiatan kampus di tempat pariwisata yang dibangun.
Tarif untuk tiap pengunjung Taman Pendidikan Mangrove tersebut sangat murah. Pengunjung cukup membayar Rp 5 ribu. Sedangkan bagi pengunjung yang hendak camping atau menginap ditarik Rp 10 ribu. Kecuali untuk membayar listrik biayanya Rp 100 ribu.
”Jika mereka mau masak sendiri, dua hari hanya membayar Rp 100 ribu,” terangnya.
Berdampak Positif pada Perekonomian Masyarakat
Taman Pendidikan Mangrove Labuhan dikelola Poktan Cemara Sejahtera dengan kemampuan manajerial yang sangat terbatas. Sedangkan biaya perawatan fasilitas tracking sepanjang 500 meter yang ada menguras keuangan.
”Jika (tracking) masih bisa kami perbaiki, akan kami perbaiki, itu bergantung pada pendapatan kami,” ucap penanggung jawab Taman Pendidikan Mangrove Labuhan Ali Usman.
Sedangkan ribuan pohon mangrove yang terdiri dari belasan jenis tersebut dibiarkan tumbuh bebas. Selama ini pihaknya tidak melakukan pembudidayaan secara berkala. Namun, saat ada program penanaman mangrove, pihaknya mempersilakan untuk ditanam di tempat wisata yang dikelola.
Usman mengungkapkan, tempat wisata yang dikembangkan kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Padahal, dampak dari keberadaan tempat wisata yang dikelola cukup membantu pemerintah. Utamanya dalam hal peningkatan perekonomian masyarakat.
”Kalau kami hanya berharap wisata ini kembali meningkat dengan sejumlah inovasi. Supaya anak muda di desa kami juga bisa mencari pendapatan dari wisata ini,” pungkasya. (ay/jup)
Editor : Ina Herdiyana