Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Sate Madura: Jejak Legendaris Kuliner Para Pahlawan

Amin Basiri • Jumat, 15 Maret 2024 | 04:31 WIB
Sate Madura, Kuliner yang Ada Di Mana-Mana.
Sate Madura, Kuliner yang Ada Di Mana-Mana.

RadarMadura.id - Kelezatan Sate Madura tak perlu diragukan lagi.

Siapa yang tak tergoda dengan daging ayam atau kambing yang ditusuk rapat dalam lidi, kemudian dibakar hingga matang sempurna di atas bara api?

Ditambah dengan bumbu kacang yang gurih, kecap manis yang menggoda selera, dan sambal rawit yang menggigit, membuatnya menjadi hidangan yang selalu dinantikan.

Namun, siapa sangka dibalik kelezatan tersebut terdapat kisah yang begitu menarik.

Konon, asal-usul Sate Madura bermula dari petualangan seorang penguasa gagah Madura, Arya Panoleh, ke tanah Ponorogo, tempat kakaknya, Batara Katong, memerintah.

Di Ponorogo, Arya Panoleh diperkenalkan pada Sate Ponorogo, sebuah hidangan yang tak kalah menggiurkan.

Daging ayam yang ditusuk lidi dan dibumbui dengan rempah-rempah khas, seperti bawang putih, kunyit, jahe, dan garam, memang memberikan cita rasa yang memikat.

Awalnya, Arya Panoleh ragu untuk mencicipi hidangan tersebut.

Namun, keyakinan kakaknya bahwa Sate Ponorogo adalah makanan favorit para pendekar yang berani dan tangguh berhasil membujuknya.

Setelah mencicipi, Arya Panoleh tak bisa menolak kelezatan Sate Ponorogo.

Dari sini, petualangan Arya Panoleh berlanjut.

Ia membawa pulang resep Sate Ponorogo dan sedikit memodifikasinya sesuai selera lidah orang Madura.

Bumbu kacang yang khas ditambahkan, bersama dengan petis dan bawang merah, memberikan sentuhan baru pada hidangan tersebut.

Menurut Dra. Elly Lasmanawati, M.Si, dari Program Studi Pendidikan Tata Boga Universitas Pendidikan Indonesia, bumbu kacang inilah yang menjadi ciri khas Sate Madura.

Tak hanya itu, penggunaan daging kambing sebagai variasi dari daging ayam juga menambah keberagaman cita rasa Sate Madura.

Nama "sate" sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu "sak biting" (dibaca "sak beteng"), yang artinya "daging yang ditusuk".

Namun, di Madura, mereka lebih akrab menyebutnya "sati".

Seiring berjalannya waktu, pelafalan ini berubah menjadi "sate", yang kemudian menjadi nama umum bagi hidangan ini.

Namun, Sate Madura tak hanya sekadar makanan lezat.

Ia juga memiliki makna filosofis yang dalam.

Bagi Kadarisman Sastrodiwirjo, pensiunan peneliti Balitbang Provinsi Jawa Timur, Sate Madura melambangkan persatuan dan kesatuan.

Daging yang terpotong dan ditusuk melambangkan berbagai elemen yang bersatu menjadi satu.

Filosofi ini tak hanya menjadi cerita di atas kertas.

Masyarakat Madura, terutama yang merantau ke kota-kota besar, menjadikan Sate Madura sebagai mata pencaharian mereka.

Mereka menjualnya bukan sekadar untuk mencari nafkah, tapi juga sebagai upaya melestarikan budaya dan sejarah mereka.

Jadi, jauh sebelum kita menikmati potongan daging yang beraroma memikat di atas lidi, ingatlah bahwa Sate Madura bukan hanya sekadar makanan, tapi juga merupakan warisan berharga yang tak ternilai harganya.(yos)

Editor : Amin Basiri
#kuliner #Asal #Sate Madura #kuliner madura #legendaris #madura