RadarMadura.id - Pesona Sumenep tak hanya terletak pada kekayaan budaya dan alamnya yang memukau, tetapi juga pada ragam kuliner yang menggugah selera.
Di antara beragam jajanan khasnya, ada satu yang menjadi favorit tak terbantahkan: getas.
Terbuat dari tepung ketan, kelapa parut, dan gula, getas memiliki cita rasa yang memikat dengan sentuhan manis dan gurih yang khas.
Tidak hanya itu, teksturnya yang kenyal dan renyah menjadikan setiap gigitan begitu memuaskan.
Getas bukanlah sembarang kuliner, melainkan simbol kekayaan tradisional yang dihargai.
Biasanya, jajanan ini hanya tersedia di pasar tradisional dan saat perayaan upacara Nyadar.
Nyadar, sebuah ritual adat yang diadakan oleh masyarakat Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget, Sumenep, merupakan wujud penghormatan terhadap leluhur mereka, Pangeran Anggosuto.
Pangeran Anggosuto dikenal sebagai tokoh yang menyebarkan pengetahuan tentang teknik pembuatan garam kepada penduduk setempat.
Upacara Nyadar dilaksanakan tiga kali dalam setahun, yakni pada bulan Juli, Agustus, dan September.
Acara ini dirayakan berdasarkan perhitungan pergerakan bintang antara tanggal 21 Maret dan 21 Juni, ketika bintang Karteka dan bintang Nanggala terlihat dari arah timur.
Pada saat itu, masyarakat Pinggirpapas berkumpul di makam Pangeran Anggosuto untuk melakukan doa bersama, tahlil, dan menyiapkan sesaji.
Getas menjadi salah satu sajian khas yang tak terpisahkan dari upacara Nyadar.
Kudapan ini menjadi simbol rasa syukur para petani garam atas hasil panen yang melimpah berkat karunia Tuhan.
Tidak heran, getas juga menjadi incaran para wisatawan yang datang ke Madura, terutama Sumenep, saat perayaan Nyadar.
Getas bisa dinikmati sebagai kudapan lezat di pagi atau sore hari, menjadi pasangan sempurna untuk secangkir teh atau kopi.
Dengan setiap gigitannya, getas membawa kenangan akan kekayaan budaya dan tradisi yang begitu kental di Sumenep.(yos)
Editor : Amin Basiri