Pendidikan memiliki peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat. Bidang ini menjadi prioritas Ikatan Santri dan Alumni Mauidzul Amin (Iksam) Bunangkah.
MOH. ALI MUHSIN, Pamekasan
PONDOK Pesantren Mauidzul Amin Bunangkah, Desa Pasanggar, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, terlihat ramai pada Sabtu malam (18/5). Sejumlah santri mengikuti kegiatan Pondok Ramadan atau Pesantren Kilat Milenial (PKM). Di ruang-ruang kelas, mereka mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Ada yang mengikuti kursus bahasa Arab, bahasa Inggris, cepat baca kitab kuning, tahfidz Alquran, kursus komputer, dan pelajaran lainnya. Kedatangan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) disambut Ustad Ach. Zuhri Ar-Ridho, pengurus Ponpes Mauidzul Amin.
Lalu, Ustad Ach. Zuhri mengantarkan JPRM bertemu KH. Moh Amin Rifqi, pengasuh Ponpes Mauidzul Amin di kediamannya. KH Amin Rifqi menyambut hangat kedatangan wartawan JPRM. Saat itu dia mengenakan jas abu-abu dan kopiah putih.
Kami duduk di kursi tamu yang berada di sisi barat. ”Sehat? Silakan duduk,” ujarnya mengawali obrolan malam itu.
Kiai muda itu menceritakan mengenai kiprah organisasi alumni di pesantrennya. Organisasi alumni yang diberi nama Iksam tersebut berdiri sekitar tahun 2003. ”Ketika itu almarhum KH Abd. Mughni Makruf berinisiasi membentuk organisasi alumni,” terangnya sambil mempersilakan hidangan buah kurma di meja tamu.
Dibentuknya organisasi tersebut untuk mempererat silaturahmi, meningkatkan komunikasi antar pesantren dan alumni, antara pengasuh dan kepengurusan. Tujuannya, bagaimana alumni bisa terarah dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat dan pesantren.
”Alhamdulillah, sejauh ini alumni di sini sudah banyak yang berkontribusi kepada masyarakat, baik dalam bidang dakwah dan sosial,” tuturnya.
Salah satu hal yang menjadi prioritas dari gerakan alumni yaitu menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat dalam pendidikan. Sebab, di wilayah tersebut masih banyak masyarakat yang mengabaikan pentingnya pendidikan.
”Dulu, di wilayah ini untuk mencari lulusan SD sangat sulit. Alhamdulillah sekarang sudah banyak yang memiliki himmah atau cita-cita untuk melanjutkan ke S-1 dan S-2,” ungkap dia.
Pemikiran masyarakat terdahulu yang penting anak-anaknya bisa bekerja. Tak heran masyarakat di sana banyak yang pergi ke luar negeri untuk menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) meski belum memiliki life skill.
”Di antara mereka berpikiran karena backrgound petani, mereka beranggapan tidak bisa menjadi orang sukses. Karenanya, meskipun anaknya sekolah, tapi drop out di tengah jalan,” bebernya.
Karena itu, pesantren dan alumni berupaya untuk mengubah mindset masyarakat agar lebih progresif dan berpikiran jauh ke depan. Sebab, kesuksesan seseorang itu bergantung pada kadar ikhtiar dan ilmu yang diperoleh di lembaga pendidikan.
Buktinya, saat ini sudah banyak orang desa yang sukses. Baik sebagai pengusaha, politisi, dan bidang lainnya. ”Kesuksesan itu tergantung seberapa tinggi minat belajar dan usaha kita,” sambungnya.
Kemudian, dia mengarahkan santri-santrinya ketika sudah menjadi alumni agar bisa bekerja di berbagai sektor sesuai keahliannya. Tidak harus menjadi tenaga pendidik. ”Ke depan alumni bisa masuk di kepolisian, TNI, perbankan, dan profesi-profesi lainnya,” tegasnya.
Alumni, menurut KH Amin Rifqi, seperti sepak bola. Ada yang harus menjadi kiper, bek, gelandang, penyerang, wasit, dan tugas-tugas lainnya. Karenanya, santri di era milenial dituntut bisa menjadi manusia yang multifungsi dan multidimensi.
”Santri milenial juga dituntut untuk bisa menjadi seorang entrepreneur untuk meningkatkan ekonomi umat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Iksam Sahrawi menambahkan, tujuan dari organisasi itu untuk mempererat tali silaturahmi. Bagaimana alumni tidak melupakan jasa-jasa perjuangan guru di pesantren. Dengan demikian, alumni tetap ada hubungan emosional dan bisa berkontribusi untuk pesantren.
”Alumni harus bisa mengamalkan berbagai disiplin keilmuan yang didapat, sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat. Baik dalam bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan lain sebagainya,” katanya.
Struktur organisasi itu menurutnya juga sudah dibentuk mulai per kecamatan, desa hingga dusun. Bahkan, keanggotaan alumni juga menyebar hingga ke timur tengah. Seperti di Riyadh, Makkah, Madinah, dan Jeddah.
Selain di sana, juga banyak di Malaysia dan negara lainnya. Untuk di luar Madura seperti Jember, Probolinggo, Banyuwangi, dan Jakarta.
Kemudian pertemuan silaturahmi antar alumni rutin digelar setiap tiga bulan sekali. Kegiatannya ada doa bersama, tahlil, bahtsul masail, dan serap aspirasi berkenaan dengan keorganisasian dan kepesantrenan.
”Di Malaysia alhamdulillah juga aktif,” terangnya saat dihubungi via WhatsApp berhubung yang bersangkutan sedang berada di luar negeri.
Untuk diketahui, Ponpes Mauidzul Amin didirikan sekitar tahun 1870 M. Ponpes itu didirikan oleh KH Nurbidin bin Jada dan istrinya, Nyai Hawati binti Za’im.
Pasangan suami istri itu datang ke tengah hutan belantara yang saat ini menjadi lokasi pesantren. Mereka berdua bertapa, bermunajat, dan berzikir kepada Allah SWT selama bertahun-tahun.
Pada suatu malam ada orang yang tanpa sengaja mendengar suara bacaan salawat. Dan, akhirnya orang tersebut mencari datangnya suara tersebut. Kemudian, ditemukanlah sumber suara dari dalam hutan.
Ternyata beliau adalah KH Nurbidin bin Jada dan Nyai Hawati binti Za’im. Dari situlah tersebar di masyarakat luas bahwa ada seorang kiai besar yang berdiam diri dan bertapa.
Masyarakat terus berdatangan dan berbondong-bondong untuk menimba ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah. Sejak itu, berdirilah pesantren yang diberi nama Bunangkah Tengah yang sekarang ini lebih dikenal dengan PP Mauidzul Amin. Tanah yang ditempati pesantren di Bunangkah itu merupakan pemberian dari masyarakat (Pak Anom dan Bu Anom).
Konon, nama Bunangkah itu diambil dari cerita yang saat itu masyarakat mencium aroma harum buah nangka. Tapi dicari-cari sumber aroma itu tidak ada. Setelah ditelusuri ternyata buah nangka tersebut ada di dalam tanah. Itulah cikal bakal dinamakannya Dusun Bunangkah.
Mereka dikaruniai putra dan putri yang semuanya dilahirkan di Bunangkah Tengah. Di antaranya K. Barmawi, K. Muzawwir, K. Arif, K. Ma’ruf, K. Bazzar, Nyai Marwah Waru, K. Bakri, dan K. Lawi Garung Sokobanah, Sampang. Yang paling fenomenal dan sangat terkenal putra K. Nurbidin adalah Syaikhona Waliyullah K. Mujaddin bin Nurbidin.
Pasca meninggalnya almarhum K. Nurbidin bin Jada, tongkat estafet pengasuh dilanjutkan oleh salah seorang putranya yang bernama K. Ma’ruf bin Nurbidin selama beberapa puluh tahun. Setelah itu PP Bunangkahh Tengah dilanjutkan oleh salah seorang putra K. Ma’ruf, yaitu KH. Abd. Mughni Ma’ruf.
Tepat pada 7 September 1968 KH. Abd. Mughni Ma’ruf atau yang dikenal dengan K. Latifah mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Athfal pertama di kawasan Bunangkah dan tertua di wilayah Pegantenan Barat.
Tahun 1989 K. Abd. Mughni Ma’ruf mendirikan Madrasah Tsanawiyah Mauidzul Amin. Tahun 1997 KH Moh. Amin Rifqy, putra KH. Abd. Mughni Ma’ruf pulang menimba ilmu dari PP Mambaul Ulum Bata-Bata. Pada 2003, KH Moh. Amin Rifqy mendapatkan perintah dari gurunya KH. Abd. Hamid Bata-Bata untuk mendirikan Madrasah Aliyah Mauidzul Amin.
Tahun 2006 Kiai. Abd. Mughni Ma’ruf berpulang. Sejak 2006, putra Abd. Mughni Ma’ruf yaitu KH Moh. Amin Rifqy menjadi pengasuh utama PP Mauidzul Amin melanjutkan perjuangan ayahnya.
Di bawah kepemimpinan beliau hingga sekarang PP Maudizul Amin melakukan berbagai terobosan-terobosan baru berbekal sejuta pengetahuan dan pengalaman. Saat ini PP Mauidzul Amin membuka program-program pesantren unggulan.
Di antaranya program cepat baca kitab kuning, program cepat penguasaan ilmu Faraidh dan ilmu Fiqih, program cepat penguasaan ilmu logika, ushul fiqh, dan ilmu balaghah. Selain itu, program cepat menghafal Alfiyah Ibnu Malik, bahkan program cepat menghafal Alquran 30 juz sejak usia tujuh tahun atau yang dkenal dengan Pondok Kecil Tahfidzul Quran.
Editor : Abdul Basri