BANGKALAN, RadarMadura.id – Kecanggihan teknologi membawa dampak yang positif bagi mereka yang hidup berjauhan. Sebab, bisa mendekatkan sosok yang jauh di mata agar terasa dekat di hati. Caranya, dengan memanfaatkan layanan video call. Hal itulah yang dirasakan Ika sejak hidup terpisah dengan orang tua (ortu).
”Sejak duduk di bangku kelas 2 SMAS Permata Insani Islamic School Tangerang, saya rajin video call untuk mengobati rasa rindu. Ortu dan kedua adik saya merantau di Malaysia,” katanya.
Ika mengatakan, dengan layanan video call, dia bisa melihat dan mendengar suara ortu dan saudaranya. ”Awalnya saya tidak betah sekolah di Tangerang. Sebab, sejak kecil sampai SMP terbiasa kumpul dengan orang tua dan adik-adik. Apalagi, selama sekolah di Tangerang saya tinggal di asrama,” ucap dara berusia 20 tahun itu.
Menurutnya, awal-awal sekolah sempat tidak teratur makan. Akibatnya, daya tahan tubuhnya menurun dan drop.
”Saya kembali semangat setelah mendapat motivasi dari ortu. Termasuk, dari teman-teman satu asrama. Terus terang saja, memang tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Tapi syukurlah, saya bisa melewati itu semua,” ucapnya.
Dijelaskan, Ika membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk beradaptasi. Sebab, suasananya memang berbeda dengan kehidupan masa kecilnya di Malaysia.
”Harus mulai dari nol lagi. Tapi, itu semua menjadi pengalaman dan bekal penting bagi saya saat ditakdirkan merantau ke Bangkalan dan berkuliah di UTM,” tuturnya.
Baca Juga: Wujudkan Mimpi demi Ortu: Riska, Anak PMI Asal Sulsel Mantap Pilih Kuliah di UTM
Ika menyakini setiap lembar hidup yang dijalani membawa berkah. Misalnya, dia mengaku bisa berkuliah di UTM berkat bantuan kakak tingkat (kating) di SMAS Permata Insani Islamic School Tangerang.
”Informasi awal dari kating. Setelah melewati sederet pertimbangan, seusai mengantongi restu ortu, akhirnya saya mantap kuliah di UTM,” kenangnya.
Kepala Divisi Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa Cesfa (Celebes Student Family) itu mengungkapkan, kebiasaan yang dilakukan saat menempuh studi di Tangerang terbawa sampai ke Bangkalan.
”Saya dilatih dan dididik untuk menabung. Saya ingat betul, saya membawa uang Rp 5 juta saat berangkat ke Bangkalan. Itu hasil tabungan saya selama berada di Tangerang,” kenangnya.
Sebelum mengakhiri obrolan, Ika mengucapkan terima kasih kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Sebab, diberi kesempatan untuk menempuh studi informal selama empat bulan.
”Saya sudah berjanji untuk membahagiakan ortu. Makanya, saya ingin lekas lulus dan bekerja. Entah bekerja di Indonesia atau di Malaysia,” pungkasnya. (yan)
Editor : Amin Basiri