Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Wujudkan Mimpi demi Ortu: Riska, Anak PMI Asal Sulsel Mantap Pilih Kuliah di UTM

Amin Basiri • Sabtu, 11 April 2026 | 04:16 WIB
f-Inspirasi 2-vin
RINDU: Riska hanya bisa memandangi foto keluarga ketika keluarga berada di Malaysia.
f-Inspirasi 2-vin RINDU: Riska hanya bisa memandangi foto keluarga ketika keluarga berada di Malaysia.

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Hidup mandiri dan berjauhan dengan keluarga memang tidak mudah. Tapi, demi mewujudkan mimpi dan kebahagiaan orang tua, Riska rela menjalani itu semua. Orang tuanya hidup di Malaysia, sementara dia saat ini sedang menempuh studi di Universitas Trunodjoyo Madura (UTM).

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), perempuan yang akrab disapa Ika itu mengakui, hari-harinya memang tidak seperti teman-temannya. Jika yang lain bisa kuliah dan hidup seatap dengan orang tua (ortu), dia justru terpisah jarak ribuan kilometer. ”Saya anak pekerja migran Indonesia (PMI). Ortu kerja di Malaysia,” katanya.

Ika menuturkan, ortunya berasal dari Sulawesi Selatan (Sulsel). Tapi, sejak kecil kedua orang tuanya tinggal di Malaysia. Sebab, kakek dan neneknya sudah sejak lama bekerja di Malaysia.

”Saat bekerja di Malaysia, ibu hamil. Tapi, saya dilahirkan di Desa Mattoanging, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan,” ucapnya.

Menurutnya, tidak lama setelah kelahirannya, kedua orang tuanya kembali ke Malaysia. Masa kecil Ika dihabiskan di Malaysia. Bahkan, menempuh studi di SD Community Learning Center (CLC) Sungai Balung Malaysia dan SMP CLC Sungai Balung Malaysia. Saya pulang ke Indonesia karena menempuh studi di SMAS Permata Insani Islamic School Tangerang, Banten,” ulasnya.

Baca Juga: Pembekuan Berdampak pada Atlet PON, Pengkab KBI Bangkalan Tidak Dapat Cairkan Anggaran

Karena saat itu Indonesia sedang dilanda Covid-19, lanjut Ika, maka harus menjalani studi melalui daring. ”2020 kan covid, jadi tetap di Malaysia. Saya mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar di Tangerang saat duduk di bangku kelas dua. Saya lulus setelah dua tahun menghuni asrama SMAS Permata Insani Islamic School Tangerang,” tuturnya.

Dijelaskan, ortunya menganjurkan Ika untuk kuliah di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Salah satu tujuannya, agar kembali dan kumpul bersama keluarga besar di Sulsel.

 Namun, dia minta restu ortunya untuk bisa kuliah di UTM. ”Sempat adu argumen awalnya, tapi pada akhirnya orang tua menghargai dan menerima keputusan saya,” paparnya.

Ika menyadari, setiap keputusan tentunya diimbangi dengan konsekuensi. Karena itu, dia harus mempertanggungjawabkan pilihan hidupnya dengan memilih berkuliah di UTM. ”Ini pilihan hidup saya. Jadi, saya harus menunjukkan kepada orang tua bahwa dirinya bisa menjadi sosok yang mandiri yang bisa diandalkan,” tegasnya.

Dia mengakui bahwa orang tuanya sangat mengkhawatirkan kehidupannya saat menempuh studi. Sebab, dia anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara.

 ”Jujur tidak mudah menyakinkan ortu. Sebab, sangat wajar karena jarak Malaysia dengan Bangkalan sangat jauh. Tapi seiring bergulirnya waktu, alhamdulillah ortu semakin menguatkan saya,” ulasnya.

Ika optimistis ikhtiar meraih gelar akademik sarjana bakal dipermudah oleh Sang Pencipta. Sebab, dia menyakini doa orang tua menjadi bekal dan menjadi penguat yang luar biasa.

”Saya selalu ingat pesan ayah dan ibu. Saya anak sulung harus menjaga kepercayaan mereka yang sudah luar biasa melahirkan dan menghidupi saya,” terangnya.

Salah satu pesan ayahnya adalah, harus pandai menjaga diri. Sebab, realitasnya memang tidak mudah hidup di perantauan jika tidak piawai beradaptasi. ”Ayah berpesan untuk jaga perilaku, tutur kata, dan memilih teman.

Apalagi, ayah mengingatkan bahwa kuliah membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Kemudian, ayah minta saya pintar memilih teman bergaul,” kenangnya.

Kalau pesan ibu, lanjut Ika, minta untuk rajin beribadah dan berdoa. Sebab, hal itu yang akan menjadi salah satu penolong saya ketika diterpa permasalahan. ”Banyak sebenarnya, namanya ibu. Tapi, itu salah satu pesan ibu yang terpatri di hati,” tandas mahasiswi semester 6 prodi Ilmu Komunikasi (Ikom) FISIB UTM tersebut. (yan)

Editor : Amin Basiri
#mahasiwi sulsel #mahasiswi #Universitas Trunodjoyo Madura