Vision 2030 Arab Saudi: Mimpi Besar atau Halusinasi Muhammad bin Salman?
Abdul Basri• Senin, 12 Januari 2026 | 18:10 WIB
Muhammad bin Salman yang saat itu masih menjabat Wakil Putra Mahkota Arab Saudi mengumumkan sebuah cetak biru ambisius bernama Vision 2030.
RadarMadura.id - Pada April 2016, Muhammad bin Salman yang saat itu masih menjabat Wakil Putra Mahkota Arab Saudi mengumumkan sebuah cetak biru ambisius bernama Vision 2030.
Dokumen ini diposisikan sebagai jawaban atas satu kegelisahan besar: bagaimana menyelamatkan masa depan Arab Saudi ketika minyak tak lagi menjadi penopang utama ekonomi.
Visi tersebut menjanjikan transformasi total. Arab Saudi ingin beralih dari negara petrostate menjadi pusat bisnis, pariwisata, budaya, dan teknologi global.
Dunia pun dibuat terpukau oleh visual futuristik yang menyertainya kota cermin raksasa, resor ski di tengah gurun, hingga taman hiburan dan kawasan budaya berskala planet.
Namun hampir satu dekade berlalu, pertanyaan kian menguat: apakah Vision 2030 merupakan lompatan strategis, atau sekadar fatamorgana mahal di tengah padang pasir?
Untuk memahami konteks Visi 2030, sejarah Arab Saudi tak bisa dilepaskan.
Pada 1932, Abdulaziz bin Saud menyatukan suku-suku di Semenanjung Arab menjadi Kerajaan Arab Saudi.
Negara ini kala itu miskin, hidup dari pertanian subsisten dan arus jemaah haji ke Mekkah.
Segalanya berubah pada 1938, ketika minyak ditemukan di sumur Dammam.
Penemuan itu melahirkan Saudi Aramco, perusahaan minyak paling menguntungkan di dunia.
Sejak 2020 saja, Aramco telah membagikan dividen lebih dari US$ 500 miliar kepada negara.
Namun keberlimpahan ini menyimpan risiko laten. Pada 2016, sekitar 82 persen ekspor Arab Saudi masih bergantung pada minyak.
Ketergantungan ekstrem inilah yang mendorong Muhammad bin Salman meluncurkan Visi 2030, dengan strategi utama: diversifikasi ekonomi melalui proyek-proyek raksasa atau giga projects.
NEOM dan The Line: Ikon Ambisi yang Tersandung
Proyek paling simbolik dari Visi 2030 adalah NEOM, megacity futuristik senilai awal US$ 500 miliar, diluncurkan pada 2017.
Di dalamnya terdapat proyek paling ambisius sekaligus kontroversial: The Line.
The Line digambarkan sebagai kota sepanjang 170 kilometer, setinggi 500 meter, berlapis kaca reflektif, tanpa mobil, dan mampu menampung 9 juta penduduk. Proyek ini disebut membutuhkan hampir 20 persen produksi baja dunia.
Namun realitas berkata lain.
Target dipangkas drastis: Fase awal The Line menyusut dari 170 km menjadi hanya 2,4 km—pemotongan 98,5 persen.
Populasi merosot: Target 9 juta penduduk kini diperkirakan hanya 300 ribu orang pada 2030.
Masalah utama terletak pada sentralisasi pengambilan keputusan. Muhammad bin Salman disebut mengendalikan hampir seluruh keputusan strategis, meski tanpa latar belakang teknik atau perencanaan kota.
Kritik internal kerap diabaikan. Bahkan arsitek awal The Line, Thomas Payne, dilaporkan dilarang menyampaikan kekhawatiran soal biaya dan kelayakan.
Perusahaan konsultan global seperti McKinsey pun menuai sorotan, dituding sekadar “memoles angka” demi kontrak bernilai ratusan juta dolar.
Akibatnya, estimasi biaya NEOM membengkak dari US$ 500 miliar menjadi US$ 8,8 triliun—setara 25 kali lipat anggaran tahunan Arab Saudi.
Pertumbuhan Ekonomi yang Semu
Pemerintah Saudi kerap menyoroti peningkatan PDB non-minyak sebagai bukti keberhasilan Visi 2030.
Angka tersebut memang naik, namun para ekonom memberi catatan penting.
Pertumbuhan non-minyak sebagian besar didorong oleh belanja negara melalui Public Investment Fund (PIF).
Dana minyak dialihkan ke proyek konstruksi raksasa bukan ke sektor swasta produktif.
Jika belanja pemerintah dihentikan, PDB non-minyak berpotensi turun tajam.
Artinya, diversifikasi ekonomi belum benar-benar terjadi. Yang ada baru pemindahan uang dari sektor minyak ke proyek-proyek yang belum jelas return on investment (ROI)-nya.
Siapa yang Mau Tinggal dan Bekerja di Sana?
Membangun kota futuristik tidak otomatis membuat orang ingin tinggal di dalamnya.
Arab Saudi menghadapi tantangan serius dalam menarik talenta global.
Secara sosial, banyak profesional kelas dunia memiliki nilai liberal sementara Saudi masih memberlakukan hukum perwalian pria, pembatasan kebebasan sipil, dan regulasi sosial yang ketat.
Dari sisi hak asasi manusia, catatan Saudi juga bermasalah. Negara ini masih mencatat tingkat eksekusi tinggi dan sistem ketenagakerjaan migran (kafala) yang kontroversial.
Laporan menyebut hingga 21.000 pekerja migran meninggal selama proses pembangunan NEOM.
Di dalam negeri, Saudi juga menghadapi krisis keterampilan. Kualitas pendidikan STEM dinilai belum memadai, sementara budaya kerja sektor publik lama dianggap kurang produktif akibat ketergantungan panjang pada subsidi negara.
Olahraga dan Pariwisata: Membeli Citra
Arab Saudi mencoba membangun daya tarik global lewat olahraga dan hiburan.
Mereka mendanai LIV Golf, mengakuisisi klub, serta mendatangkan bintang sepak bola seperti Cristiano Ronaldo dan Neymar dengan biaya fantastis.
Namun hasilnya terbatas. Rata-rata kehadiran penonton liga Saudi hanya sekitar 8.000 orang, jauh di bawah Premier League yang mencapai 40.000. Rating siaran televisi di pasar Barat juga rendah.
Masalahnya sederhana: sejarah dan keterikatan komunitas tidak bisa dibeli.
Di sektor pariwisata, jumlah pengunjung memang meningkat menjadi 30 juta orang pada 2024, namun lebih dari 60 persen adalah jemaah haji dan umrah.
Wisatawan non-religi masih ragu karena batasan budaya, larangan alkohol, dan aturan sosial yang ketat. ***