Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Keseruan Pertunangan di Desa Tamberu Agung, Batumarmar, Pamekasan, Uang Hasil Ontalan Hampir Rp 10 Juta

Ina Herdiyana • Selasa, 17 Desember 2024 | 13:40 WIB
MERIAH: Warga menghitung uang hasil ontalan pertunangan di Desa Tamberu Agung, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan, Minggu (15/12). (TANGKAP LAYAR)
MERIAH: Warga menghitung uang hasil ontalan pertunangan di Desa Tamberu Agung, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan, Minggu (15/12). (TANGKAP LAYAR)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Tradisi ontalan tidak hanya berlaku pada saat sepasang kekasih sudah menikah. Di Desa Tamberu Agung, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan, tradisi itu juga dilakukan saat acara pertunangan.

Orang tua bahagia melihat anak bahagia. Kebahagiaan itu, salah satunya, dirasakan saat buah hati mereka siap berumah tangga. Seperti Ach. Ghufroni, 27, yang mengikat cinta Dewi Septika Rini, 22.

Ungkapan kebahagiaan tersebut tidak cukup diekspresikan dengan menyematkan cincin pada jari manis menantu. Namun, juga dirayakan dengan ontalan atau salaman.

Baca Juga: Masih di Bawah 5 Persen, Luas Hutan Kota Pamekasan Tidak Sesuai PP 63/2002

Acara pertunangan yang digelar pada Minggu (15/12) tersebut viral. Sebab, pasangan Ghufroni dan Rini disawer hingga jutaan rupiah.

Dalam video yang beredar, Ach. Ghufroni dan Dewi Septika Rini tampak duduk di atas kursi cokelat. Di depan mereka terdapat meja dengan taplak motif bunga merah muda.

Di atas meja itu terdapat talam. Satu per satu warga yang datang melemparkan uang ke talam tersebut.

Ibu-ibu tampak semringah dan heboh. Uang yang di-ontal pecahan Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Ja’ kaloppae, Bunda-Bunda, ontale (jangan lupa, Bunda-Bunda, lempar (uangnya),” kata salah seorang warga yang hadir. ”Tambai-tambai (tambah-tambah),” ucap suara perempuan yang lain.

Selain uang di atas talam tersebut, calon menantu perempuan itu memegang buket bunga dan kalung yang terbuat dari uang.

Sorak meriah dilontarkan warga yang ikut menghitung hasil salaman tersebut. Perolehan uang ontalan itu Rp 9,2 juta sehingga membuat ibu-ibu bersorak bahagia.

Pemberian uang tersebut diperuntukkan calon menantu perempuan. Warga menyebutnya sebagai ontalan.

Baca Juga: Slamet Layak Jadi Tokoh Pendidikan Favorit, SMAN 4 Pamekasan Dukung Penuh

Sebab, pemberian uang di atas talam itu dilakukan dengan cara eontal atau dilempar. Selain uang di atas talam itu, terdapat bunga kenanga.

Tradisi ontalan itu diberikan saat acara tongkebban atau silaturahmi keluarga perempuan ke pihak laki-laki.

Uang tersebut diberikan oleh keluarga laki-laki dan tetangga sekitar. Hal itu dilakukan sebagai bentuk syukur dan berbahagia memiliki calon menantu.

Ach. Ghufroni membenarkan video yang viral itu acara pertunangan dirinya dengan kekasihnya yang merupakan warga Desa Tamberu Alet.

Menurut dia, acara ontalan tersebut merupakan tradisi turun-menurun yang biasa dilakukan di desanya. ”Itu sudah tradisi di sini,” katanya kemarin.

Ghufroni tidak mengetahui secara pasti tujuan pemberian uang tersebut. Namun, itu sudah wajar diberikan saat keluarga perempuan silaturahmi. Biasanya diberikan oleh keluarga dan tetangga laki-laki selaku tuan rumah.

”Kalau yang cewek main ke rumah yang cowok memang ada ontalan uang gitu,” papar pria 27 tahun itu.

Salah seorang warga Desa Tamberu Alet Intan Khikmatus Sholehah menyampaikan, tradisi tersebut sudah biasa dilakukan.

Bahkan, uang yang diberikan bisa sampai Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Jumlah itu bergantung pada keluarga atau orang yang memberikan.

”Kadang lebih dari itu. Ada yang sampai Rp 20 juta. Ada juga yang dapat Rp 3 juta. Jadi, tergantung yang mau memberi,” jelas perempuan 26 tahun tersebut.

Sementara itu, budayawan Kadarisman Sastrodiwirjo menyampaikan, ontalan itu merupakan tradisi baru. Tradisi pemberian sangu dari bangaseppo kepada manten baru.

”Jadi, pemberian sangu itu untuk bekal hidup bagi mereka yang menjalin rumah tangga baru,” katanya.

Baca Juga: IAI Al Khairat Pamekasan Kukuhkan 343 Mahasiswa Jadi Sarjana

Secara filosofi, pihaknya tidak memahami betul tradisi itu. Namun, tradisi tersebut bisa menjadi jembatan untuk mempererat silaturahmi. Selain kepada calon mantu, juga kepada tetangga sekitar.

”Positifnya, tradisi ini bisa memperat silaturahmi. Cuma jangan sampai berlomba-lomba. Artinya, masyarakat harus melakukannya sesuai dengan kemampuan,” pesannya. (ay/luq)

 

Editor : Ina Herdiyana
#Desa Tamberu Agung #batumarmar #pamekasan #keseruan #pertunangan #ontalan #tradisi