SAMPANG, RadarMadura.id – Jatuh bangun dalam meniti karier tidak akan lepas dari kehidupan manusia.
Begitu pun yang dialami Moh. Zainal. Grup musik yang didirikan Inank Pelangi di kampusnya dengan nama Pelangi Band sempat bubar.
Saat dibentuk, grup band musik tersebut membuat satu album dengan judul lagu Musik Bebas. Pada album itu, dia menyumbangkan dua lagu ciptaannya pada 2003. ”Yakni, lagu Cinta Pertama dan Katamu,” katanya.
Tantangan grup bandnya setelah merilis album tersebut akhirnya muncul. Karena sudah banyak fan, personel bertengkar lantaran saling mengakui lagu ciptaannya.
”Akhirnya membubarkan diri setelah tiga bulan grup Pelangi Band itu berdiri,” terangnya.
Kemudian, pada 2007 dia pulang ke kampung halaman di Kota Sampang. Saat di kampung halaman, dia masih melanjutkan hobinya dengan membuat lagu Seperti Kertas dan lagu lainnya.
”Sehingga sampai 2015 ditawari sama produser dari Bangkalan, Rampak Naong Record, untuk membuat lagu Islam Palsu. Tapi, lagu yang dibuat tidak laku. Produser itulah yang mengangkat nama Inank Pelangi sampai dikenal banyak orang,” terangnya.
Pada 2016, dia kembali menciptakan lagu Aku Lelah. Lagu itu viral di kanal YouTube milik orang lain. Akibatnya, dia sebagai pencipta lagu tersebut tidak mendapatkan apa-apa.
Masa pahit perjalanan Inank tidak hanya sampai di situ. Pada 2018, dia diajak kerja sama oleh produser dari Sidoarjo. Ternyata, produser itu malah menipunya.
”Saya ikut labelnya tidak dapat apa-apa dan rugi. Awalnya mau dibayar Rp 1 juta, ternyata hanya dibayar Rp 250 ribu,” tuturnya.
Setelah itu, dia memutuskan membuat studio musik yang memanfaatkan kamar 3x3 meter dengan modal Rp 5 juta untuk perlengkapan studio. Tujuannya hanya ingin memberantas plagiat musik di Madura.
”Dari dulu Madura dikenal sebagai tukang jiplak lagu India dan Malaysia. Malu kita disebut sebagai tukang jiplak lagu itu,” terangnya.
Melalui klub musik yang didirikannya, dia ingin merangkul orang-orang yang ingin belajar musik.
Dia mengajak orang yang sefrekuensi tidak terjerumus pada plagiasi musik seperti musisi lain.
”Awalnya, saya gratiskan klub musik yang saya dirikan untuk membina anak-anak yang pengin belajar musik. Tapi, setelah pintar, mereka menghilang saat saya butuhkan,” ujarnya.
Keseluruhan anak didik yang pernah belajar di Klub Musik Inank Pelangi sebanyak 7 orang. Namun, semuanya menghilang dan melupakannya sebagai guru musik.
”Makanya, sekarang jika ada yang mau belajar musik, saya pasang tarif karena sudah kecewa dengan yang hilang itu. Sehingga meskipun menghilang, saya sudah tidak sakit hati kehilangan murid,” ujarnya.
Setelah tujuh anak asuhnya tersebut hilang, ada warga yang mencarinya untuk meminta anaknya diajari musik (bernyanyi).
Orang tersebut merupakan orang tua Aulia Putri. Dia mendapatkan informasi bahwa dirinya pandai mengajari anak-anak hingga pandai bernyanyi.
”Aulia Putri itu katanya memang suka musik sejak TK. Bapak Aulia Putri datang ke sini. Meski trauma, saya berusaha untuk tetap mengajarinya secara gratis hingga bisa dan viral seperti yang diketahui saat ini,” katanya.
Inank menambahkan, dirinya berkenan mengajari Aulia Putri hingga pandai bernyanyi lantaran ingin membantu keluarganya. Dia berharap agar satu muridnya tersebut tidak seperti murid-murid sebelumnya.
”Karena akan percuma punya suara bagus, jika sampai melupakan jasa guru yang telah mengajarinya. Saya senang punya murid seperti Aulia. Lagu-lagu lama ciptaan saya bagus saat dibawakan oleh Aulia Putri,” tuturnya. (bai/luq)
Editor : Achmad Andrian F