BANGKALAN, RadarMadura.id – Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) tak lepas dari peran Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah petugas pembawa baki.
Dua anggota Paskibraka yang ditunjuk pelatih sebagai pembawa baki pada upacara pengibaran bendera dan penurunan bendera yakni Putri Safira dan Armaz Safitri.
Putri merupakan siswa kelas XI MAN Bangkalan. Dia dipercaya membawa baki pada upacara pengibaran. Sedangkan Armaz bertugas pada upacara penurunan.
Putri mengungkapkan rasa bahagia dan syukurnya karena terpilih menjadi petugas inti upacara kemerdekaan. Salah satu pertimbangan yang membuat dia terpilih adalah kemampuannya dalam baris-berbaris dan penilaian selama karantina.
Dia memang mempunyai keinginan untuk jadi anggota Paskibraka. Namun, tidak pernah menyangka bakal menjadi pembawa baki bendera Merah Putih. Berkat ketekunannya dalam berlatih dengan keras, akhirnya ditunjuk oleh pelatih.
”Senang dan bahagia karena itu salah satu impian saya,” kata Putri Safira kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di Pendopo Agung Bangkalan, Kamis (15/8).
Kakak kelasnya di MAN Bangkalan yang menjadi Paskibraka kabupaten dan provinsi menginspirasi pelajar 16 tahun tersebut. Karena itu, dia berusaha untuk melaksanakan amanah itu dengan baik sebagai wujud cinta tanah air.
Dia berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini semakin baik.
Sementara Armaz Safitri merupakan siswa kelas XI SMAN 1 Blega. Awalnya dia hanya jadi cadangan. Karena itu, setelah terpilih, dia sangat senang, terharu, campur aduk, karena dipercaya menjadi petugas yang diinginkan banyak orang itu.
”Termasuk satu kebanggaan karena bisa menyenangkan kedua orang tua dan membawa nama baik sekolah,” kata Armaz.
Armaz merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Mamanya, Azizah, pernah menjadi anggota Paskibraka di Jakarta. Dialah yang menginspirasi dirinya menjadi anggota Paskibraka. ”Tapi, tidak tahu tahun berapa,” ujarnya.
Baca Juga: DPRKPCK Jatim Sukses Gelar Bimtek Drainase
Siswa usia 17 tahun itu ingin membuktikan bisa melaksanakan tugas dengan baik. Siswa asal Blega itu berhasil melewati seleksi yang sangat ketat. Dari ratusan pelajar yang mendaftar, Armaz terpilih bersama 70 pelajar lainnya.
Menurutnya, baris-berbaris merupakan materi tes yang cukup sulit. Namun, berkat latihan intens, tes itu dapat dilalui dengan baik. ”Karena di buku panduan baris-berbaris angkat kakinya tidak setinggi tahun sekarang, jadi agak sulit untuk latihan itu,” tuturnya. (c5/luq)
Editor : Ina Herdiyana