PAMEKASAN, RadarMadura.id – Semangka biasa ditanam menjalar di tanah. Tapi, butuh teknis khusus agar kulit buah itu mulus. Salah satu caranya dengan menggantung buah tersebut.
Tanaman buah semangka sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Seiring berjalannya waktu, kini sudah banyak jenis dan varietas dari tanaman menjalar ini.
Alin Purnomo, warga Desa Panaguan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, sudah belasan tahun menanam semangka.
Saat ini dia mencoba teknik baru dengan membiarkan semangka jenis black hero yang dia miliki tumbuh bergantung di lahan.
”Perbedaannya hanya satu, yaitu dilihat dari kulitnya, yang black hero ini nanti lebih halus dan bersih. Kalau yang tumbuh di bawah ini iya seperti biasanya,” kata Alin.
Cara tanam tidak berbeda dengan tanaman semangka lain. Yakni, dengan membajak terlebih dahulu lahan.
Kemudian, ditaburi pupuk kandang yang sudah difermentasi serta dicampur phonska dan ZA. Bisa juga dicampur dengan dolomit apabila tanahnya masih basah agar pH tanahnya bisa naik lagi.
Setelah itu, membuat bedengan dan ditutup dengan mulsa. Lalu, bibit dari hasil penyemaian ditanam di lubang mulsa dengan jarak berkisar lima sentimeter.
Sebelum penyemaian, hendaknya ujung biji semangka dilukai agar tumbuhnya bisa menghasilkan yang buah tanpa biji. ”Itu kuncinya. Jadi, ujungnya itu harus dilukai agar bisa menghasilkan buah semangka nonbiji,” tegas Alin.
Dia menyebut, apabila sudah berumur 14 hari atau daunnya sudah berjumlah lima lembar, maka pucuknya dipotong.
Setelah itu, akan muncul ranting cabang, maka cukup dibiarkan. Perkawinan dilakukan di usia 24 hari dan dilakukan sesaat setelah subuh dan tidak boleh lewat dari itu karena serbuk dari bunga jantan sudah tidak ada.
Yang kemudian direkatkan ke bunga betina dengan tanda di tangkai bunga tersebut berbenjol. ”Nah, keesokannya itu terus sampai hari-hari berikutnya benjolan itu semakin besar, maka perkawinan seperti itu sukses,” ucap Alin.
Penyiraman bisa dilakukan setiap hari sampai usia 10 hari. Setelah itu cukup dengan memperbanyak air di setiap bedengan itu yang sebelumnya dilakukan pemupukan. Menurut Alin, semangka harus cukup air agar tanaman tersebut bisa tumbuh dengan maksimal.
Apabila kekurangan air, rasa manis dari semangka juga tidak bisa maksimal. Selain itu, jika kekurangan air, warna merahnya juga tidak secerah dan sesegar seperti sudah cukup air.
Adapun pupuk yang digunakan Alin berbagai macam. Di antaranya, pupuk 16-16 untuk pertumbuhan. Sedangkan pospat tidak boleh terlalu banyak karena berdampak pada biji.
”Dari sebelum perkawinan itu perbanyak kalium, jadi bisa menggunakan ZK atau KCL,” ujar Alin.
Hama yang perlu diwaspadai adalah thrips dan kutu kebul. Hama itu bisa dibasmi menggunakan insektisida. Lalu, embun tepung bisa diobati dengan fungisida dan sebagainya.
”Asalkan rajin penyemprotan, semuanya aman-aman saja. Bisa dipanen diantara usia 51 sampai 60 hari dan itu sudah maksimal,” kata Alin.
Menurutnya, apa pun yang ditanam asalkan bisa merawat dan mengerti caranya maka hasilnya akan maksimal. Selain itu, tidak malas untuk merawat.
”Biaya mahal beli obat-obatan dan pupuk itu sudah biasa. Kalau hasilnya maksimal nanti yang didapat bisa lebih dari modalnya,” imbuhnya. (ail/luq)
Editor : Achmad Andrian F