BANGKALAN, RadarMadura.id – Selain di kelas mengajar siswa, waktu Abdul Muiz diisi bersama kambing.
Setiap hari dia harus ke kandang untuk merawat hewan ternaknya itu. Keberhasilannya dalam beternak telah menginspirasi orang lain untuk menirunya.
Baginya, mendidik dan beternak sama-sama dijalani penuh semangat dan kesabaran.
Selain itu juga dilakukan dengan penuh telaten. Apalagi, memelihara kambing itu merupakan bentuk sami’na wa atho’na kepada kiai.
Warga Dusun Galisan, Desa Batangan, Tanah Merah, Bangkalan, itu menekuni dunia peternakan kambing sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Aktivitas itu dimulai setelah mendapat perintah langsung dari kiai.
Pada saat itu, Muiz dipanggil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan KH Muhammad Makki Masir.
Saat itu Muiz menjabat sebagai Wakil Sekretaris Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Bangkalan.
Dia diamanahi untuk membantu masyarakat mengembangkan dunia peternakan, khususnya kambing.
Tanpa banyak pertimbangan dan sebagai bentuk ketaatan terhadap kiai, dia langsung menyanggupi perintah tersebut.
Padahal, kala itu belum memiliki pengetahuan yang mumpuni seputar dunia peternakan.
”Waktu itu saya dipanggil, langsung menghadap. Tiba-tiba saya diberi amanah untuk membantu kebangkitan ekonomi masyarakat melalui dunia peternakan. Saya mengiyakan,” kata Muiz, saat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mendatangi kediamannya Minggu (23/6).
Sejak itulah Muiz mulai belajar beternak secara otodidak. Dia hanya sekali melakukan studi peternakan pada peternak kambing di Probolinggo. Selebihnya banyak belajar dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.
”Saya memang tidak punya basic peternakan. Karena perintah kiai dan pengabdian untuk umat, saya laksanakan,” ungkap guru matematika itu.
Pada awal merintis, suami Muzayyanah ini memulai dengan memelihara dua ekor kambing.
Meski berangkat dari nol, dia memberanikan diri menggunakan metode atau cara beternak kambing yang modern.
Bila pada umumnya peternak lokal menggunakan pakan hijau (daun) untuk pakan ternak kambing, Muiz lebih memilih menggunakan konsentrat.
Alasannya kala itu cukup sederhana, setidaknya dapat mengurangi beban dan waktu kerja. Sehingga, bisa melakukan kegiatan yang lain.
”Saya tidak harus cari dedaunan untuk pakan. Sehingga, tidak mengganggu aktivitas saya mengajar. Ternyata cukup efektif,” kata guru di MAN Bangkalan itu.
Dengan cara itulah, lambat laun ternak Muiz menunjukkan hasil positif. Ilmu-ilmu yang didapat dari pengalaman itu kemudian dibagikan kepada para peternak di lingkungannya.
Dengan harapan, masyarakat bisa beternak lebih banyak tanpa harus memikirkan soal pakan.
Muiz mengaku, tidak mudah untuk mengubah kebiasaan masyarakat beralih ke metode ternak modern.
Menurut dia, dengan pola pakan kering, masyarakat tidak harus repot-repot mengembala kambingnya. Dia bersyukur lambat laun ada hasilnya. Masyarakat mulai tertarik.
Selain tidak banyak memakan waktu, beternak kambing menggunakan pakan kering sangat cocok untuk hitung-hitungan bisnis.
Sebab, pengeluaran mulai dari modal hingga biaya pakan dapat dihitung dan diketahui.
Menurut Muiz, satu ekor kambing selama penggemukan hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 250 ribu.
Lama perawatan antara tiga hingga empat bulan. ”Kalau untuk hasil maksimal tiga bulan,” tutur pria 42 tahun itu.
Muiz menjadikan pengalaman beternak kambing sebagai jalan untuk pegabdian. Tidak jarang dirinya berkeliling berbagi pengalaman dengan peternak di Kota Salak melalui pengurus NU di tinggat kecamatan.
”Bahkan, saat ini sudah terbentuk semacam komunitas peternak NU. Selain itu juga sudah cukup banyak yang menggunakan metode saya,” tuturnya.
Nama komunitas itu Komunitas Peternak NU Bangkalan. Jumlah anggota 20 orang tersebar di Kecamatan Labang, Tragah, Kwanyar, dan Burneh.
Selain itu, di Kecamatan Tanah Merah, Galis, Konang, Kokop, Geger, Klampis, Sepulu, dan Bangkalan. Tiap orang rata-rata memelihara 20 ekor kambing.
Selain di Bangkalan, tidak berbentuk komunitas. Namun, ada satu dua orang yang belajar kepadanya.
Selama kurang lebih lima tahun berbagi pengalaman dengan masyarakat, Muiz tidak pernah menceritakan keberhasilan orang lain. Dia hanya berbagi ilmu sesuai pengalaman sendiri.
”Kalau mau cerita, jangan cerita keberhasilan orang lain. Tapi, ceritakan keberhasilanmu,” tutur pengurus Lakpesdam NU Bangkalan itu menirukan perintah kiainya.
Saat ini Muiz mampu mengembangkan ternak 40 ekor kambing. Namun, saat JPRM berkunjung, kambing miliknya sudah banyak yang dijual dan hanya tersisa tujuh ekor di kandang. (*/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti