Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Tukang Pijat Hotijah yang Hidup Seorang Diri Luput dari Perhatian Pemerintah, Hanya Dapat Uang dari Pemberian Orang yang Iba

Ina Herdiyana • Rabu, 5 Juni 2024 | 18:22 WIB
DINDING SENG: Hotijah (kanan) berdiri di teras depan rumahnya di Desa Lergunong, Kecamatan Klampis, Bangkalan, Minggu (2/6). (AYU LATIFAH/JPRM)
DINDING SENG: Hotijah (kanan) berdiri di teras depan rumahnya di Desa Lergunong, Kecamatan Klampis, Bangkalan, Minggu (2/6). (AYU LATIFAH/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Hidup layak dengan rangkulan kehangatan keluarga adalah harapan semua orang.

Begitu juga yang diinginkan Hotijah. Di usi senjanya, dia tinggal di rumah berdinding seng seorang diri.

Bunyi serangga di alam bebas bersahutan di sela rerimbunan pohon jati dan jenis pohon liar lainnya.

Rumah sederhana dengan genting kecokelatan tampak teduh. Sebab, kanan dan kiri rumah yang berdiri dengan seng aluminium tersebut hanya bertetangga hijau rerumputan.

Hotijah hanya bisa pasrah hidup dengan rumah sederhana berpagar jaring ayam tersebut.

Aktivitas kesehariannya hanya menjadi tukang pijat panggilan. Tidak ada siapa-siapa di rumah itu selain Hotijah.

Sesekali, tetangga sekitar 50 meter di depan rumahnya datang untuk membesuk.

”Saya hidup sendiri di sini,” katanya sambil mencabut rumput di halaman rumahnya Minggu (2/6).

Dia beranjak dan menjajaki batas jaring yang mengelilingi tiang rumahnya. Lantai yang retak dan kayu batang yang berantakan dibiarkan begitu saja.

Perlahan, Hotijah membuka gembok pintu dengan perlahan. ”Ini keadaan rumah saya. Tidak ada apa-apa,” tambahnya.

Tidak bisa dibayangkan, bagaimana Hotijah berbaring saat melepas penat. Sebab, kondisi rumahnya yang berantakan dan pakaian bergelantungan seakan sudah lama tak dirawat.

Seekor kucing tampak mengendus sisa nasi di bakul dan piring yang berceceran di lantai tanah.

”Saya kalau tidur tidak di sini, tapi di mana saya nyaman, saya berbaring,” tuturnya sambil menunjuk lincak teras samping.

Perempuan 84 tahun itu tidak memiliki anak. Untuk mencukupi hidup, dirinya mendapatkan dari seseorang yang iba terhadapnya.

Jamban dan kamar mandi saja dia tak punya. Hotijah hanya punya dua tong berkarat yang disediakan untuk menadah air hujan. ”Mandi saya menggunakan air hujan,” ucapnya.

Di usianya yang tak lagi muda, Hotijah hanya pasrah terhadap apa yang dia alami. Kecuali, kala itu ada ponakannya, Subairi, yang pulang dari perantauan.

”Kalau sakit mau aserro ka sapa? Enggi karo ka emma embu se la tadha’ (kalau sakit mau mengeluh kepada siapa? Ya hanya bisa menyebut ayah dan ibu yang sudah meninggal). Jika ada Subairi, saya ke dia,” terangnya.

Selama memiliki kartu tanda penduduk (KTP), warga Dusun Barat, Desa Lergunong, Kecamatan Klampis, itu tidak pernah mendapat bantuan.

Baik dari program kepala desa (Kades) maupun dari pemerintah kabupaten (pemkab).

Apalagi untuk memperbaiki rumah tidak layak huni (RTLH), tempat dia berlindung dari panas dan hujan.

”Kalau hujan iya bocor. Tapi, kadang ada yang memperbaiki. Saya hanya dapat uang dari orang yang kasihan kepada saya. Saya juga tidak dapat bantuan beras,” ungkapnya.

Rumah yang dia tempati saat ini merupakan hasil jerih payahnya sendiri. Itu didapatkan dari sisa-sisa harta yang dia miliki.

Setelah ditinggal suami meninggal dunia, dia sempat berdagang meski hanya permen dan snack yang dijajakan di perkampungan.

Enggi mellas mon daddi reng ta andhi (memang menyedihkan kalau jadi orang miskin),” ujarnya.

Setiap waktu Hotijah berdoa diberi kesehatan dan kecukupan rezeki untuk bertahan hidup. ”Semoga ada yang memberi saya makan. Diberi kesehatan,” harapnya.

Subairi menuturkan, jika tidak ada dirinya, bibinya dititipkan kepada kerabat yang lain. Setiap hari bibinya memang jarang ada di rumah.

Terkadang tidur di mana-mana setelah mendapat panggilan pijat. ”Untungnya, dia punya handphone yang bisa kami hubungi,” jelas pria 41 tahun itu.

Upah memijat itulah yang dia tabung untuk menunaikan ibadah haji. Pada 2018, Hotijah sudah dipanggil untuk berangkat.

Namun, karena tidak ada famili yang mendampingi, dia meminta agar jadwal keberangkatannya diundur.

Saat ini dia sudah siap berangkat. Doa selalu dipanjatkan dengan mengharap keberkahan hidup.

Dia bersyukur telah diberi nikmat rezeki hingga bisa menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Kepala Dinsos Bangkalan Wibagio tidak memberikan respons banyak. Dia hanya meminta data kependudukan Hotijah untuk ditindaklanjuti. ”Kirimkan KTP dan KK-nya biar saya cek datanya,” pintanya. (*/luq)

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#rukun islam ke-5 #tukang pijat #naik haji