Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Bertahan Hidup dari Kerajinan Odheng, Belangkon, dan Rok Marlena, Anita: Kalau Hanya Menunggu Pesanan Bisa Tidak Makan

Hera Marylia Damayanti • Jumat, 24 Mei 2024 | 17:15 WIB
KREATIF: Anita memperlihatkan hasil kerajinan rok marlena di Jalan Raya Kamal, Dusun Bedak Barat, Banyuajuh, Bangkalan, Kamis (23/5). (M. KHOLIL RAMLI/JPRM)
KREATIF: Anita memperlihatkan hasil kerajinan rok marlena di Jalan Raya Kamal, Dusun Bedak Barat, Banyuajuh, Bangkalan, Kamis (23/5). (M. KHOLIL RAMLI/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Pelabuhan Kamal tidak seramai dulu. Pedagang buah-buahan, kerajinan, makanan, dan minuman terdampak pengoperasian Jembatan Suramadu.

Ada yang gulung tikar, ada juga yang bertahan. Namun, ada juga perajin baru. Harapan mereka sama, dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga tercukupi.

Anita termasuk yang menggantungkan kebutuhan keluarga pada kerajinan tangan.

Dia memproduksi odheng, belangkon, dan rok marlena. Selain memproduksi, dia juga menjual barang-barang itu.

Bagi Anita, menjadi pelaku kerajinan mungkin tidak seberuntung pelaku kerajinan lainnya.

Hasil kreativitasnya yang berupa udeng, belangkon, dan rok marlena hanya bisa mencukupi biaya hidup sehari-hari.

Penghasilan dari kerajinannya itu juga digunakan untuk membiayai sekolah anak semata wayangnya yang saat ini duduk di bangku kelas enam SD.

Meskipun usahanya belum menghasilkan keuntungan besar, Anita tetap gigih melakoni hidup menjadi perajin.

Anita menjual hasil kerajinannya itu di lapak kecil. Lapak itu ada di depan Musala Al-Mubarak tak jauh dari rumah.

Yakni di Jalan Raya Kamal, Dusun Bedak Barat, Desa Banyuajuh, Kecamatan Kamal, Bangkalan.

Istri Romli tersebut mengaku sudah tiga tahun menjadi perajin dan membuka lapak. Terhitung sejak ikut suaminya pulang kampung kala itu.

”Saya membuat kerajinan sendiri. Tiga jenis itu, udeng, belangkon, dan rok marlena,” kata perempuan asal Surabaya itu Kamis (23/5).

Anita tidak hanya menunggu pesanan untuk membuat kerajinan baju adat Madura tersebut.

Kerajinan itu biasa dibuat untuk dijual sendiri. Sebab, pesanan yang datang tidak menentu.

”Produksi rumahan saja. Kalau pesanan paling banyak 300 sampai 500 buah,” jelasnya.

Anita berusaha tetap produktif meskipun tanpa ada pesanan yang pasti. Dia menyadari pentingnya inisiatif dalam menjaga kelangsungan usaha kerajinan.

”Kalau hanya menunggu pesanan, bisa tidak makan kami,” ujarnya sembari tersenyum.

Dia mengaku belajar membuat udeng, belangkon, dan rok marlena secara otodidak kepada tetangganya.

Pekerjaan ini dilakukan karena desakan ekonomi keluarga. ”Tidak ada cara lain yang bisa saya lakukan selain membuat kerajinan seperti ini,” ujarnya.

Perempuan kelahiran Kota Pahlawan itu tidak memastikan berapa penghasilan yang didapat dari hasil kerajinannya ini.

Penghasilan yang tidak menentu membuatnya sulit memprediksi pendapatan bulanan.

Apabila tidak ada pesanan, Anita tidak bisa memastikan jumlah udeng, belangkon, dan rok marlena yang laku. Sebab, kalau tidak ada pesanan, penghasilan bergantung berapa yang terjual di lapak.

”Kalau lagi sepi, kadang memang karena tidak ada yang beli,” ujarnya.

Namun, Anita tetap bersyukur dengan penghasilannya yang pas-pasan itu. Setidaknya kebutuhan keluarga dan biaya anaknya sekolah tercukupi. Bagi Anita itu sudah lebih dari cukup.

Ketidakpastian ini memaksa dirinya untuk terus berinovasi dan mencari pasar baru demi menjaga kelangsungan usahanya.

Namun untuk mengembangkan usaha kerajinannya lebih besar, Anita selalu dihadapkan dengan masalah modal.

”Tidak jarang kalau ada pesanan, modal untuk membuat kerajinan ini saya pinjam dulu ke tetangga,” ujarnya.

Harga tiap potong tiga jenis kerajinan Anita bervariasi. Untuk odheng mulai Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu.

Sementara rok marlena berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Sedangkan belangkon mulai Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Selain menjual tiga jenis kerajinan buatannya, perempuan 34 tahun itu juga menjual beberapa baju adat Madura lainnya dan mainan kuda lumping.

Namun, barang-barang tersebut tidak dibuatnya sendiri, melainkan kulakan kepada orang lain.

”Kalau seperti kaus garis merah putih, mainan kuda lumping, dan ikat pinggang khas ini saya kulakan. Ngambilnya sama orang lain,” sebutnya. (c3/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Anita #odheng #kerajinan #Rumahan #Pelabuhan Kamal #Kamal #Belangkon #rok marlena