BANGKALAN, RadarMadura.id – Museum Perusnia di Jalan KH Moh. Kholil, Gang IX Kelurahan Demangan, Kecamatan Bangkalan, terlihat sepi Minggu (19/5).
Di dalam ruangan yang penuh dengan koin dan mata uang kuno itu hanya ada Salman Alrosyid Dungmoso.
Uang kertas dan koin ditempatkan terpisah. Ratusan uang kertas dipajang mengelilingi dinding museum.
Sedangkan koin ditempatkan di etalase khusus. Koleksi uang berbahan perak, perunggu, dan emas itu berasal dari sejumlah kerajaan.
Koleksi mata uang yang paling tua, yakni peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Yakni, uang kati tin boat yang diperkirakan digunakan Kerajaan Sriwijaya pada Abad 6–9 Masehi.
Kata kati merupakan nama mata uang atau satuan berat yang digunakan di masa itu.
Lalu, kata tin boat berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti kapal timah.
Alasan uang tersebut dinamai tin boat karena bentuknya menyerupai bentuk kapal Jong Java atau kapal Jawa yang digunakan Kerajaan Sriwijaya saat melakukan perdagangan internasional.
Selain itu, ada koleksi koin massa perak Kerajaan Sriwijaya.
Koin yang diperkirakan ada di abad 6–12 Masehi ini dicetak sebagai alat perdagangan Nusantara. Koin tersebut terbuat dari bahan tembaga, timah, dan emas.
Owner Museum Perusnia RP Salman Alrosyid Dungmoso menyampaikan, mata uang koin Kerajaan Sriwijaya memiliki ciri khas.
Bentuknya menyerupai kapal dan terbuat dari perunggu. Selain itu, ada ukiran-ukiran unik yang memiliki nilai tawar yang tinggi.
”Semakin berat dan banyak ukiran di koin itu, maka akan semakin mahal harga jualnya,” ujarnya kepada JPRM Minggu (19/5).
Koleksi yang dipamerkan dalam Museum Perusnia tidak hanya berasal dari Kerajaan Sriwijaya.
Misalnya, koin gobog wayang dari Kerajaan Majapahit yang diperkirakan diproduksi pada abad 12–14 Masehi.
Ada juga koin kasha kuningan pada masa Kesultanan Banten 1550–1590 Masehi.
”Tapi, koleksi yang paling tua hanya milik Kerajaan Sriwijaya,” ungkap pria berusia 23 tahun itu.
Dia memaparkan, semua koin peninggalan kerajaan tersebut didapat dari hasil lelang.
Menurutnya, tidak mudah untuk mendapatkan mata uang tersebut. Rata-rata uang itu ditemukan oleh penyelam di dasar Sungai Musi, Brantas, dan Kali Mas.
”Jumlah koin yang ada di Museum saya sebanyak 1.200. Tapi, tidak semuanya dipajang karena tempatnya tidak muat,” tukasnya. (c4/bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti