BANGKALAN, RadarMadura.id – Menjadi atlet profesional merupakan cita-cita setiap insan olahraga. Namun, prosesnya tidak mudah. Butuh kerja keras dan konsistensi untuk sampai pada level atlet profesional.
Salah satu atlet Bangkalan yang sampai pada level profesional yaitu Azfar Burhan. Dia merupakan pemain futsal asal Bangkalan yang berlaga di Pro Futsal League bersama Sadakata United Aceh. Yaitu, kompetisi tertinggi futsal di tanah air.
Putra pasangan Mohammad Haris Sugianto dan Nanik Wijayati itu memulai kariernya di olahraga futsal dengan bergabung ke Sinjay FC saat duduk di bangku kelas XI SMA. Namun jauh sebelum itu, Asfar sudah akrab dengan olahraga si kulit bundar.
Sebab, dia pernah bergabung dengan salah satu Sekolah Sepak Bola (SSB) di Bangkalan. Namun karena berbagai pertimbangan, atlet 23 tahun tersebut akhirnya lebih fokus berkarier di olahraga futsal.
Salah satu pertimbangannya, tidak banyak pemain sepak bola di Bangkalan yang memiliki karier moncer. Kecuali, Imam Bagus yang merupakan eks pemain Madura United (MU).
”Setelah melihat senior-senior itu, akhirnya saya memutuskan untuk memilih futsal,” ujarnya.
Alumnus SMPN 2 Bangkalan itu menjadi pemain futsal profesional sebagai penjaga gawang.
Meski di awal memulai kariernya bersama Sinjay FC berposisi pemain biasa, akhirnya Asfar memilih jadi penjaga gawang karena posisi tersebut sangat menjanjikan.
Yaitu, memiliki kesempatan untuk bermain lebih besar dibandingkan pemain biasa.
”Tetapi, risikonya lebih besar karena bola yang ditendang keras bisa mengenai badan, bahkan muka. Makanya, banyak yang tidak mau di posisi penjaga gawang”, katanya.
Asfar tidak langsung menjadi pemain inti. Awalnya hanya menjadi pemain pelapis kedua. Karena itu, eks pemain Tim Porprov Bangkalan tersebut namanya sering tidak masuk dalam daftar susunan pemain (DSP) sehingga hanya menjadi penonton di tribun suporter.
Namun, hal tersebut tidak membuat semangatnya berkurang. Dia tetap semangat dan konsisten dalam berlatih guna meningkatkan kemampuannya.
Hingga akhirnya, kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya tiba. Yaitu, saat Sinjay FC berlaga di Liga Nusantara (Linus) 2019.
”Saat itu saya mendapat kepercayaan dan terpantau oleh tim pra-PON. Dengan demikian, setelah kompetisi itu, saya bergabung latihan di skuad pra-PON Jatim meski akhirnya dicoret. Tetapi, dari situ saya mendapat banyak sekali pengalaman,” ujarnya.
Asfar memulai, karier profesional di kompetisi futsal tertinggi di tanah air yaitu saat bergabung dengan Unggul FC Malang pada musim 2021–2022. Satu tahun berikutnya, dia memperkuat IPC Pelindo Jakarta.
Saat menjadi bagian dari Sadakata United, kontraknya dengan klub asal Aceh tersebut akan berakhir setelah selesainya Liga Futsal Profesional.
”Sekarang tetap tercatat sebagai Sadakata, tetapi masih libur kompetisi karena Lebaran. Jadi, sekarang ada di Bangkalan,” tuturnya.
Pernah Mendapat Tawaran Bermain di Luar Negeri
Azfar Burhan diikat kontrak oleh Sadakata United selama dua musim.
Sedangkan saat memperkuat dua tim lainnya yang juga berkompetisi di Pro Futsal League hanya diikat kontrak selama satu tahun.
Yakni, saat memperkuat Unggul FC Malang dan IPC Pelindo Jakarta.
Ada beberapa target yang ingin dicapai sebagai pemain profesional.
Yakni, menjadi bagian dari timnas futsal putra. Juga bisa berkarier dan mengembangkan kemampuannya bersama klub luar negeri.
Target yang kedua tersebut sebenarnya pernah menghampirinya dua tahun yang lalu.
Saat itu, pemain berbadan tegap tersebut mendapat tawaran untuk bergabung dengan salah satu klub futsal asal Malaysia.
Namun, kesempatan itu tidak diambil karena masih terikat kontrak dengan IPC Pelindo.
”Jadi, sebagai pemain profesional harus menghormati kontrak dan kerja sama dengan tim,” ujarnya.
Asfar mengungkapkan, sosok yang paling berpengaruh terhadap kariernya di dunia futsal yaitu kedua orang tuanya. Yakni, Mohammad Haris Sugianto dan Nanik Wijayati.
Meskipun kedua orang tuanya sempat menentang keinginannya berkarier di dunia olahraga. Orang tuanya ingin dirinya lebih fokus terhadap pendidikan.
Sosok lain yang paling berpengaruh terhadap karier Asfar Burhan yaitu Muhaimin yang merupakan bos Sinjay FC.
”Abah (Muhaimin) selalu mendukung dan memfasilitasi. Bahkan saat libur seperti sekarang, saya masih tetap bermain dan berlatih dengan Sinjay FC,” imbuhnya.
Asfar menyampaikan, tidak ada yang mustahil dalam dunia olahraga. Semua atlet dari seluruh cabang olahraga (cabor) bisa menjadi yang terbaik. Dengan catatan, mau bekerja keras, berlatih disiplin, dan konsisten. (jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti