Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Lulus MA Mambaul Ulum Al-Birowy Sampang, Siswa Harus Punya Karya Tulis

Fatmasari Margaretta • Selasa, 2 April 2024 | 17:55 WIB
SEMANGAT: Santri Mambaul Ulum Al-Birowy berfoto bersama usai mengikuti kajian kitab dalam program Ramadan.
SEMANGAT: Santri Mambaul Ulum Al-Birowy berfoto bersama usai mengikuti kajian kitab dalam program Ramadan.

MASYARAKAT Madura, khususnya yang berdomisili di wilayah pantura, banyak yang merantau ke luar negari sebagai pekerja migran Indonesia (PMI).

Sementara anak-anak mereka banyak ditinggal di rumah dan dititip kepada kerabat dekat.

Akibatnya, sering kali pendidikan anak PMI tidak terurus. Pergaulannya juga tidak terkontrol.

Sebagian dari mereka beranggapan bahwa pendidikan dianggap tidak penting. Padahal, pendidikan menjadi bekal untuk masa depan.

Keberadaan Pondok Pesantren Mambaul Ulum Al-Birowy, Desa Bira Timur, Kecamatan Sokobanah, Sampang, sangat membantu dalam menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan.

 Baca Juga: Anggaran Pengadaan Alat Panen DKPP Pamekasan Capai Ratusan Juta

Kehadiran lembaga ini lambat laun menarik anak PMI belajar di lembaga pendidikan yang berlokasi di Jalan Taman Pahlawan.

”Bisa dikatakan mondok di sini sebagai tempat penitipan anak TKI. Mereka dititip di sini, karena orang tuanya berangkat merantau,” kata RKH Achmad Mahfudz AQ selaku pengasuh Maktab Nubdzatul Bayan Mambaul Ulum Bira Timur.

Sebab itu, semangat belajar anak PMI yang mondok di Mambaul Ulum Al-Birowy berbeda-beda. Bahkan, juga berpengaruh pada prestasi belajar mereka.

”Ada yang hanya sebatas mondok, ada juga yang punya semangat belajar ketika sudah mondok. Tapi, banyak juga yang dari awal semangat untuk belajar atau mencari ilmu,” ujarnya.

Tokoh yang akrab disapa Ra Mahfudz itu mengungkapkan, pengelola atau pengurus memiliki tantangan sendiri dalam mendidik santri. Sebab itu, santri yang semangat belajarnya rendah dipisah di tempat khusus.

 Baca Juga: Sidang Keempat Kasus Pengeroyokan di Desa Patapan, Sampang, Dua Terdakwa Akui Pukul Mat Halil

Misalnya, santri cilik ditempatkan khusus di Maktab Nubdzatul Bayan Mambaul Ulum Bira. ”Sebab mereka termasuk santri khusus yang perlu treatment khusus,” tuturnya.

Pihak pesantren akan senantiasa mendidik santri dan memberikan penyadaran pentingnya belajar atau berpendidikan.

RKH MUHAMMAD ISMAIL AQ: Pengasuh  Ponpes Mambaul Ulum Al-Birowy
RKH MUHAMMAD ISMAIL AQ: Pengasuh Ponpes Mambaul Ulum Al-Birowy

Terkadang perlu treatment khusus, sehingga dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan.

”Itu tugas kita untuk bisa menyadarkan mereka agar memiliki motivasi belajar. Yang penting, anak dan walinya masih semangat,” ungkapnya.

Ra Mahfudz bersyukur, berkat didikan para guru, santri yang mayoritas anak PMI tersebut banyak yang memiliki kompetensi berbagai disiplin keilmuan.

Seperti mengetahui tata cara salat, baca Al-Qur’an, membaca, dan memahami kitab kuning dengan benar.

Yayasan Miftahul Khairat Ponpes Mambaul Ulum Al-Birowy menaungi sejumlah lembaga formal.

 Baca Juga: Lima Partai di Pamekasan Mulai Jajaki Koalisi, Tak Bisa Usung Calon secara Mandiri

Yakni, raudlatul atfal (RA), madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), dan madrasah aliyah (MA). Selain itu, ada pendidikan madrasah diniyah ula dan wusto.

”Awalnya yang berdiri madrasah diniyah. Lalu, mendirikan lembaga formal karena beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat sekitar,” ucapnya.

Ra Mahfudz menjelaskan, di lembaga tersebut pihaknya mengimplementasikan sistem integratif antara pendidikan diniyah dengan pendidikan formal.

Karena itu, pembelajaran madrasah diniyah mempengaruhi capaian pendidikan siswa di lembaga formal.

”Misal pada jenjang diniyah santri tidak naik kelas, maka pendidikan formalnya bisa tidak naik kelas juga,” terangnya.

 Baca Juga: Temukan Jasad Bayi Lengkap Dengan Tali Pusar dan Gunakan Kaos Kaki di Pinggir Pantai Taddan

Di sisi lain, lembaga mengembangkan program ekstrakurikuler. Di antaranya, kaligrafi, pencak silat, dan Pramuka yang sering meraih prestasi.

Ada juga program pengembangan bahasa Inggris, Arab, dan mandarin. Selain kegiatan di pondok, setiap Selasa malam ada program bahsul masail.

RKH AHMAD MAHFUDZ AQ: Pengasuh Maktab Nubdatul Bayan Mambaul Ulum Al-Birowy
RKH AHMAD MAHFUDZ AQ: Pengasuh Maktab Nubdatul Bayan Mambaul Ulum Al-Birowy

”Untuk kegiatan harian, pagi ngaji kitab, siang ngaji ke musala (safinah, bidayah, sullam). Kalau sore ngaji kitab ke pengasuh (RKH Muhammad Isbat),” paparnya.

Di pesantren ini, santri ditekankan bisa membaca dan memahami kitab kuning sebagai program unggulan.

Untuk menunjang program itu, pesantren menggunakan metode program prakomisi (prakom) dan metode Nubdzatul Bayan.

Materi pembelajaran di madrasah mengombinasikan kurikulum pemerintah dan pesantren. ”Pada pelajaran sejarah saja kita menggunakan kitab kholasoh,” tutur Ra Mahfudz.

Pesantren juga menjalankan progam tahfizul Qur’an. Santri yang ikut program ini dapat keringanan dalam menghafal materi lainnya.

Namun, hafalan santri tidak ditarget. ”Ada yang hafal 30 juz dalam 1 tahun hingga 2 tahun. Tapi, ada juga yang tidak tuntas meskipun sudah lulus dari pesantren dan itu tidak masalah,” paparnya.

Ra Mahfudz menerangkan, santriwati dibekali pelajaran fikih kewanitaan, seperti haid dan kitab uqudulujjain yang familiar di kalangan pesantren.

”Sebab sebelum lulus, terkadang mereka sudah dinikahkan. Jadi, santriwati diberi pembekalan atau ilmu khusus agar menjadi istri atau ibu rumah tangga yang baik,” terangnya.

Program literasi juga terus dikembangkan. Siswa kelas akhir MA diwajibkan membuat karya tulis. Misalkan membuat buku atau menerjemahkan kitab.

Hal itu menjadi tanggung jawab dari RKH Mohammad Ismail dalam rangka meningkatkan literasi santri.

 Baca Juga: Polres Pamekasan Siagakan Ratusan Personel Jelang Pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2024

”Alhamdulillah, sudah ada yang menerbitkan buku seperti cerpen, terjemahan kitab, buku panduan, dan sebagainya. Bahkan, santri juga aktif membuat film-film pendek yang mengedukasi dan memotivasi,” pungkasnya. (sin/bil)

Editor : Fatmasari Margaretta
#film #sampang #karya tulis #program #pendidikan #alquran #kitab #santri #cerpen #Hafalan #Al-Qur'an