Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Imam Syafi’i Pelajari Manajemen Sepak Bola hingga Amerika Serikat, Biarkan Anak-Anak Bermain Lepas tanpa Beban

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 7 Maret 2024 | 15:57 WIB
PEGIAT SEPAK BOLA: Imam Syafi’i mengenakan seragam sepak bola saat mengikuti manajemen sepak bola di Amerika Serikat pada 2011. (IMAM SYAFI’I UNTUK JPRM)
PEGIAT SEPAK BOLA: Imam Syafi’i mengenakan seragam sepak bola saat mengikuti manajemen sepak bola di Amerika Serikat pada 2011. (IMAM SYAFI’I UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Usia Imam Syafi’i sudah tidak muda lagi. Dia saat ini sudah berusia 55 tahun.

Namun, hasratnya untuk mendidik para pemain sepak bola usia dini patut diacungi jempol. Tidak hanya soal keterampilan menggocek bola.

Anak-anak binaannya juga diedukasi nilai-nilai kehidupan seperti kedisiplinan, kejujuran, dan bekerja keras.

Stadion Gelora Bangkalan (SGB) menjadi saksi sejarah bagaimana pesan moral itu selalu dia sampaikan kepada anak didiknya.

Dalam setiap gelaran festival sepak bola yang digelar oleh Bangkalan Soccer Academy (BSA), Imam tidak pernah absen memberikan nasihat kepada pemain asuhannya.

Prinsip itulah yang terus ditanamkan Imam kepada semua pemain usia dini binaannya. Bagi pria kelahiran Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Bangkalan itu, kemenangan atau juara tidak pernah menjadi target atau tujuan utama.

”Anak-anak tidak boleh dibebankan dengan target juara. Biarkan mereka bermain lepas tanpa harus memikirkan beban,” ungkapnya Selasa (5/3).

Menurut dia, sejumlah akademi sepak bola mungkin menargetkan juara sebagai tujuan utama mereka.

Sehingga, tidak jarang harus menempuh berbagai macam cara. Seperti memanipulasi pemain dan umur sudah menjadi fenomena yang lazim dalam dunia sepak bola.

Imam justru ingin menembus batas itu. Dia tidak ingin dunia sepak bola dikonversi dengan cara-cara yang kurang baik.

Target kemenangan atau juara menjadi stimulasi yang buruk untuk psikologi pemain. Maka dari itu, tidak jarang para pemain usia dini yang menjadi korban ketidakpuasaan pelatihnya lantaran gagal memenuhi target ambisi mereka.

Pengalaman buruk akibat dampak ekspektasi yang begitu tinggi pernah dia lihat langsung dalam kegiatan festival sepak bola dengan tema Grassroots Football Day 2019.

Festival itu diselenggarakan oleh Indonesia Soccer Academy (ISA) di Stadion Jenggolo, Sidoarjo.

Sangat tampak jelas bagi Imam kala itu, ada seorang anak ditampar orang tuanya usai keluar lapangan lantaran performanya jelek.

”Peristiwa yang tidak mendidik sama sekali, apalagi itu di muka umum, itu akan berakibat fatal bagi anak-anak yang lain juga,” sambungnya.

Imam bukanlah sosok baru dalam kancah sepak bola Jawa Timur ataupun nasional. Pria yang bergelar doktor ilmu kesehatan olahraga itu kini masih aktif sebagai dosen.

Dia mengabdi di Fakultas Ilmu Olahraga (FIO) Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Dia juga tercatat sebagai pengurus PSSI Jawa Timur sejak 1999 hingga 2018. Dia tercatat lima periode menjadi pengurus.

Dunia sepak bola yang dia tekuni justru membawanya berkeliling dunia. Pada 2011, Imam berangkat ke Amerika Serikat untuk mengikuti pertukaran pelatih dan pemain muda.

Kurang lebih dua minggu dia belajar manajemen sepak bola di negeri Paman Sam. Tepatnya di Stanford University.

Keberuntungan serupa juga dia dapatkan satu tahun kemudian. Dia diundang sebagai pembicara utama (keynote speaker) dan memberikan coaching clinic di Phuket, Thailand.

Bahkan, dia juga melaksanakan studi banding mengenai manajemen sepak bola Arsenal di Singapura.

”Akademi sepak bola merupakan wadah pembinaan anak-anak yang berkaitan dengan karakter,” jelasnya. (*/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#sepak bola #mendidik #Imam Syafi’i #keliling dunia