BANGKALAN, RadarMadura.id – Nama pelukis Chairul Anwar tidak asing bagi para seniman di Bangkalan. Di usianya yang kian senja, kesempatan berkarya yang dimiliki semakin besar. Baginya, tiada hari tanpa melukis dan berkarya.
Chairul Anwar sudah pensiun sebagai guru seni rupa di SMPN 1 Bangkalan sejak 2021.
Namun, dalam urusan berkarya, tidak pernah ada kata pensiun bagi dirinya. Saat ini, dia semakin produktif menghasilkan karya-karya seni lukis.
Kegiatan itu sudah mejadi rutinitas bagi Chairul Anwar untuk pelampiasan dan menghibur diri dalam kesunyiannya.
Hari-harinya dia habiskan di studio lukisnya. Di tempat itu, ratusan lukisan tertata rapi. Mulai dari lukisan realis hingga abstrak.
”Setiap hari datang ke studio untuk melukis. Pokoknya harus berkarya meskipun idenya tiba-tiba saja muncul setelah di studio,” ungkap Chairul Minggu (19/11).
Pelukis senior di Kota Salak itu tidak pernah memikirkan karya lukisannya berbentuk seperti apa.
Sebab, dia sudah terbiasa menekuni seni rupa dengan tanpa ide dan persiapan yang matang.
Dari sekian banyak karya yang dihasilkan, lukisannya lebih cenderung pada budaya Madura, misalnya karapan sapi. Sebagian besar tetap bernuansa abstrak.
”Saya lebih senang melukis sendirian. Lebih tenang dan fokus saat menggarap lukisan. Saya juga merasa tidak terbebani ketika melukis sendirian,” imbuhnya.
Chairul juga menerima pesanan lukisan dari orang lain. Tapi, tidak semua pesanan lukisan dia terima. Dia sangat berhati-hati untuk menjaga idealismenya dalam melukis.
Karena jika semua pesanan diterima, khawatir akan mengganggu produktivitasnya sebagai pelukis.
”Kalau semua pesanan saya ambil, orientasi saya sudah beda, artinya saya jadi tukang. Jadi saya memang memilah sesuai dengan objek yang saya inginkan. Jika tidak sesuai, saya tolak,” ucapnya.
Pria 62 tahun itu intens melukis tentang kebudayaan dan sejarah Madura sejak 2019–2022. Karya yang bercorak kemaduraan sudah ada sekitar 25 lukisan dihasilkan.
Karya-karyanya dipamerkan untuk mengedukasi dan menggerakkan kebudayaan yang ada di Bangkalan.
”Saya pamerkan, tapi tidak untuk mencari kemapanan. Saya turun ke kecamatan untuk menggerakkan kebudayaan, khususnya seni rupa di Bangkalan,” paparnya.
Chairul menambahkan, persepsi sebagian besar orang, melukis untuk menghasilkan uang dan kemapanan.
Namun, baginya puncak kepuasan dari melukis, yaitu bisa memamerkan karyanya kepada masyarakat dan anak-anak Bangkalan.
”Tujuan saya, lukisan yang saya buat ini bisa dinikmati oleh masyarakat dan anak-anak, kemapanan saya buang dulu,” sambungnya.
Sebagian dari karya lukis yang sudah dihasilkan dijual ke luar negeri. Itu pun dia lakukan dengan berat hati untuk melepasnya.
Karena dirinya ingin karya-karyanya itu diabadikan untuk generasi Bangkalan selanjutnya.
Dia ingin meyakinkan bahwa sejarah itu tidak melulu ditulis dan dibukukan. Tapi, sejarah juga bisa dituangkan dalam bentuk lukisan.
”Pada intinya, saya ingin menyampaikan bahwa sejarah itu bisa diceritakan melalui seni rupa,” lanjutnya.
Chairul berencana untuk mengabadikan ratusan karya lukisnya itu. Tapi, untuk saat ini dia masih kesulitan untuk menemukan tempat yang akan mengabadikan karya-karyanya itu.
Sehingga, nantinya bisa mengedukasi generasi Bangkalan agar menekuni budaya lebih serius.
”Saya berharap generasi kita ini bisa menekuni budaya secara serius, karena anak-anak muda kita belum ada yang menekuni secara serius. Tapi, mudah-mudahan penilaian saya ini salah,” tutupnya. (za/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia