Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kegigihan Warga Desa Klampar, Pamekasan, Tekuni Industri Batik Harus Dilestarikan karena Warisan Nenek Moyang

Berta SL Danafia • Senin, 2 Oktober 2023 | 23:21 WIB
ULET: Sa’diyah mewarnai batik dengan malam di Dusun Mor Leke, Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Jumat (29/9). (AYU LATIFAH/JPRM)
ULET: Sa’diyah mewarnai batik dengan malam di Dusun Mor Leke, Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Jumat (29/9). (AYU LATIFAH/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.idTerik mentari hinggap di sekujur tubuh saat Jawa Pos Radar Madura melaju menuju kampung batik, Desa Klampar. Jalan bebatuan dan kerikil seperti menyapa perjalanan yang ditempuh lebih kurang 15 menit dari Kota Pamekasan.

Gapura bertulis ”Selamat Datang di Sentra Industri Batik” menyambut kedatangan koran ini. Pasca melintasi gapura itu, kain putih penuh corak berjejer rapi memenuhi pandangan. Nyaris setiap halaman rumah terpajang kain bahan dasar batik itu.

Tampak gubuk berdinding anyaman bambu mengeluarkan asap halus. Terdengar gurauan para perempuan di balik bambu itu. Mereka adalah para pembatik yang dengan lihai memalam di atas kain putih.

Di antara para perempuan itu, salah satunya adalah Sa’diyah. Perempuan yang di usia senjanya itu masih semangat membatik. Tangannya masih lihai memainkan canting penuh malam di atas kain putih. ”Sejak kecil saya sudah membatik, untuk membantu ekonomi keluarga,” katanya Jumat (29/9).

Dia bercerita, ketika usinya masih 10 tahun, dia belajar membatik kepada orang tuanya. Kala itu, dia tidak mengenyam pendidikan formal. Pagi hari, Sa’diyah membatik. Sementara sore hari, dia bersekolah di madrasah diniyah.

Perempuan berusia 65 tahun itu merupakan warga Dusun Mor Leke, Desa Klampar. Dia perajin batik yang sangat tekun. Bahkan, dia tidak segan menularkan ilmunya kepada siapa pun yang ingin belajar.

”Rata-rata masyarakat di sini pekerjaannya membuat batik. Pekerjaan ini sudah kami lakukan secara turun-temurun sejak puluhan tahun lalu,” katanya sembari melanjutkan pekerjaannya.

Menurut Sa’diyah, membatik butuh kesabaran dan ketelatenan. Jika dikerjakan dengan tergesa-gesa, bisa berdampak pada kualitas. Ujung-ujungnya, juga akan berpengaruh pada harga jual batik tersebut.

Kebanyakan perajin batik itu perempuan. Tujuannya, untuk membantu perekonomian keluarga. Biasanya, para suami bekerja di sektor lain, seperti pertanian, peternakan, dan pertukangan. Sementara, para istri membatik.

Perajin batik lain yang ditemui koran ini adalah Sittiani. Perempuan yang biasa dikenal dengan sapaan Bu Maani itu sudah berusia 80 tahun. Tapi, tangannya masih sangat lihai membatik.

Sejak kecil dia hidup dalam jeratan ekonomi serba keterbatasan. Dia tidak mengenal pendidikan formal. Keterbatasan ekonomi itu mengantarkan dia pada kesenian membatik yang masih ditekuni hingga sekarang.

”Saya tidak sekolah dari dulu, karena orang tua saya tidak mampu. Jadi hasil batik ini yang menutupi kebutuhan hidup kami dulu,” terangnya.

Menurut Maani, membatik bukan sekadar pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Tetapi, juga sebagai upaya melestarikan warisan nenek moyang.

”Orang tua kami dulu pekerjaannya bikin batik, karena desa kami ini rata-rata bebatuan sehingga sulit untuk dijadikan lahan pertanian,” terangnya.

Maani mengaku prihatin anak muda zaman sekarang banyak yang meninggalkan kesenian batik. Padahal, jika diseriusi, kesenian itu juga memiliki nilai ekonomi tinggi. ”Kesenian batik harus dilestarikan,” katanya.

Dia mengakui, industri batik sekarang mulai lesu. Harga di pasaran semakin murah. Dengan demikian, butuh sentuhan dari pemerintah agar industri yang ditekuni sejak turun-temurun itu kembali membaik seperti dulu kala.

”Dulu kami sejahtera dari hasil membatik, sekarang pendapatan kami berkurang. Kalau tidak membatik, kami tidak punya penghasilan,” tandasnya. (ay/pen)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Berta SL Danafia
#perempuan #batik #pamekasan #Perajin #radar madura