Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Safiuddin, Pengusaha Baju Pesa’an Asal Pamekasan, Komitmen Ingin Lestarikan Warisan Leluhur

Berta SL Danafia • Sabtu, 16 September 2023 | 17:41 WIB
KREATIF: Safiuddin memantau karyawan saat membuat baju pesa’ di rumahnya yang terletak di Desa Panempan, Kecamatan Kota Pamekasan, Jumat (15/9). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM)
KREATIF: Safiuddin memantau karyawan saat membuat baju pesa’ di rumahnya yang terletak di Desa Panempan, Kecamatan Kota Pamekasan, Jumat (15/9). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Agar bisa sampai ke rumah Safiuddin sangat mudah. Sebab, jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari Kota Gerbang Salam. Setelah melewati jalan protokol dan melintasi beberapa gang kecil, Jawa Pos Radar Madura (JPRM), akhirnya berkesempatan bersua dengan Safiuddin Jumat (15/9).

Saat JPRM datang, terlihat seorang pria menemani perempuan menjahit baju berwarna hitam. Pria tersebut mengenakan baju pesa’an. Setelah berkenalan, ternyata pria tersebut Safiuddin, pemilik usaha pembuatan pesa’an. Rumah yang ditempati Safiuddin sekaligus menjadi tempat produksi pesa’an.

Safiuddin mempersilakan JPRM masuk dan duduk. Setelah itu, menyuguhi koran ini segelas air dan aneka kue. ”Saya memulai usaha pembuatan baju pada 2008. Saat itu, kebanyakan orang memesan baju formal, masih sedikit yang minta dibuatkan baju adat,” ujarnya mengawali perbincangan.

Namun, sejak 2013, Safiuddin mulai membuat pesa’an. ”Bukan semata-mata karena ingin melayani pesanan, melainkan karena saya ingin melestarikan baju adat Madura pesa’an. Sehingga, semakin dikenal publik di luar Madura dan disukai lintas generasi,” tutur warga Desa Panempan, Kecamatan Kota Pamekasan, itu.

Safiuddin mengungkapkan, semula memiliki pemikiran bahwa tidak perlu membuat pesa’an dalam jumlah banyak. Sebab, dia khawatir baju pesa’ buatannya tidak laku. Sebab, pesa’an kala itu lebih banyak dikenakan oleh kalangan orang tua. ”Anak-anak muda jarang memakai pesa’an. Justru, pakai baju yang sedang tren di era kekinian,” ujarnya.

Suami dari Siti Anisyah itu menuturkan, kekhawatirannya pun mendekati realita. Pemesan pesa’an sedikit. Jarang ada permintaan pembuatan pesa’an. Karena itu, dia sempat berpikir untuk berhenti membuat pesa’an. ”Tapi karena saya berniat ingin melestarikan warisan leluhur, akhirnya kembali semangat untuk tetap memproduksi pesa’an,” jelasnya.

Pria 41 tahun itu memaparkan, generasi muda harus ikut mempromosikan dan melestarikan pesa’an. Jika tidak, generasi berikutnya akan asing dengan pesa’an. ”Saya komitmen untuk terus mempertahankan usaha pembuatan pesa’an. Alhamdulillah, sekarang sudah banyak yang memesan pesa’an. Baik dari kalangan orang tua maupun pelajar,” ungkapnya.

Alumnus IAI Al-Khairat Pamekasan itu memaparkan, pesa’an merupakan salah satu ikon Madura. Pakaian adat itu memiliki ciri khas berupa kaus dengan warna kombinasi merah putih, baju hitam tanpa kancing, dan celana tanpa ritsleting. ”Juga, aksesori di kepala berupa odheng atau kopiah hitam tinggi,” jelasnya.

Ditambahkan, jika tidak memperkenalkan diri, siapa pun yang mengenakan pesa’an akan disangka orang Madura. Itu mengindikasikan pesa’an terkenal. Apalagi, pesa’an ditetapkan sebagai salah satu busana adat terbaik dalam HUT Ke-78 Kemerdekaan RI di Istana Negara, Kamis (17/8). ”Harus bangga dan tetap dilestarikan agar tidak kalah dengan baju yang lain,” tandasnya. (bai/yan)

Editor : Berta SL Danafia
#pamekasan #baju #madura #adat