SUMENEP, RadarMadura.id – Dari atas Gunong Pegga’, Sumenep, Anda akan disuguhi pemandangan pohon siwalan yang menjulang. Jika berdiri menghadap utara di atas bukit yang terbelah jalan itu, mata Anda yang dimanjakan kebun siwalan.
Sebelah timur merupakan wilayah Desa Banaresep Timur. Sedangkan sebelah barat jalan Desa Lembung Timur. Keduanya masuk wilayah Kecamatan Lenteng, Sumenep. Di kejauhan barat laut juga terlihat bebukitan yang terhubung dengan Gunong Pajudan.
Lambaian daun palma penghasil nira itu menyimpan harapan. Pohon-pohon itu akan setia tegak berdiri sekalipun kemarau panjang. Nemor kara tidak membuat mereka kering. Sebaliknya, saat musim panas itulah, air nira yang dihasilkan akan lebih manis.
Di jalan yang membelah ladang siwalan itu Anda akan menjumpai para perempuan penjual nira dan siwalan. Jika Anda mujur, juga akan menyaksikan kaum pria pemanjat pohon siwalan setiap pagi dan sore. Mereka inilah yang menyadap nira untuk diolah (ekella) menjadi gula merah.
Memasuki musim kemarau ini aktivitas warga bertambah. Daun-daun siwalan (rakara) yang melambai itu turut dipangkas untuk diproses menjadi uang. Daun itu menjadi sumber penghasilan setelah dianyam menjadi tikar. Terutama tikar pembungkus tembakau rajang.
Semakin ke utara jalanan semakin menurun. Pohon-pohon siwalan semakin berkurang berganti permukiman penduduk. Rumah-rumah warga itu semakin padat mendekati simpang tiga Talaga.
Pohon siwalan kembali padat ke arah timur simpang tiga itu. Di beberapa titik jalan yang terhubung dengan Kecamatan Saronggi itu terlihat beberapa gubuk para penjual nira dan siwalan muda.
Banyaknya pohon siwalan diabadikan menjadi nama kampung. Yakni, Kampung Tarebung Kerrep atau kampung padat pohon siwalan. Sebab di Dusun Talaga, Desa Banaresep Timur, Lenteng, ini banyak sekali pohon siwalan. Pohon-pohon inilah yang menjadi sumber penghasilan masyarakat.
Terlebih memasuki musim kemarau kali ini. Orderan kepada mereka cukup tinggi. Tak sedikit dari mereka lembur untuk memenuhi permintaan. ”Kadang lembur tiap hari, selama seminggu bisa jutaan,” jelas Muntaha, seorang perajin tikar siwalan, Rabu (13/9).
Musim panen tembakau kali ini benar-benar berdampak baik bagi para perajin tikar. Selembar tikar yang asalnya hanya dijual Rp 27.000 hingga Rp 30.000 kini tembus hingga Rp 45 ribu dan Rp 50 ribu. Permintaan yang tinggi mendongkrak harga hasil kerajinan tangan warga.
Saat ini hampir seluruh warga Kampung Tarebung Kerrep membuat anyaman tikar siwalan. Selembar tikar biasanya diselesaikan selama 1,5 jam. Dalam seminggu paling sedikit perajin mendapat 14 lembar tikar dengan penghasilan Rp 630 ribu. Jika cepat, bisa dua kali lipat, bahkan ada yang tiga kali lipat.
Di keluarga Muntaha saja ada 2–3 perajin. Mereka rata-rata menghasilkan 10 bundel tikar. Setiap bundel isi berisi 10 tikar. ”Berarti, seratus bundel seminggu, jika dikalkulasi, 100 tikar dikalikan Rp 45.000 ribu, hasilnya Rp 4.500.000” ungkapnya.
Selain membuat, Muntaha juga bertindak sebagai pengepul tikar. Selain dirinya juga banyak pengepul tikar yang biasa mengirim tikar siwalan kepada petani dan pengusaha tembakau. Mereka berada di Desa Banaresep Timur, Banaresep Barat, Desa Poreh, dan sekitarnya. ”Ada sekitar 25 lebih pengepul. Alhamdulillah, mereka semua sama-sama banjir orderan,” tuturnya.
Daun satu pohon siwalan bisa menghasilkan sekitar 12 tikar dengan ukuran rata-rata 2x3 meter. Namun, jumlah tikar itu bergantung pada lebat tidaknya daun di setiap pohon. ”Alhamdulillah, tikarnya laris. Buah siwalannya juga laris,” kata Sari, 76, perajin daun siwalan di sepanjang jalan Dusun Talaga, Desa Banaresep Timur.
Di tempat itu dia menganyam harapan bersama Latifah, 65. Selain menganyam tikar, mereka juga menjual siwalan muda. Buahnya sangat pas untuk melepas dahaga. Apalagi dicampur es, susu, dan gula siwalan.
Pohon siwalan tidak hanya tumbuh di Kecamatan Lenteng. Pohon ini juga banyak tumbuh di kecamatan wilayah Pragaan, Batang-Batang, Dungkek, Gapura, dan Talango serta beberapa kecamatan lain.
Jamaliya, 50, warga Desa Totosan, Kecamatan Batang-Batang, juga bersyukur kemarau kali ini mengembalikan keemasan daun tembakau. Menurut dia, bila tembakau mujur (katebbas) banyak yang diuntungkan. Termasuk dirinya sebagai salah seorang perajin tikar yang terbuat dari daun siwalan.
Meski tak semahal di Lenteng, Jamaliya bersyukur masih bisa menghasilkan uang dari kerajinan membuat tikar. Selembar tikar di daerahnya hanya Rp 20 ribu. Butuh ketelatenan untuk bisa menghasilkan tikar karena dia tidak membeli bahan baku.
Daun siwalan yang dianyam mengambil di kebun sendiri. Daun itulah yang dia jemur sebelum dianyam. Dia hanya mengeluarkan biaya untuk ongkos tukang panjat pohon. Setiap pohon Rp 10.000. (via/luq)
Editor : Berta SL Danafia