BANGKALAN, RadarMadura.id – Kata kèjhung tidak bisa dilepaskan dari kesenian sandur. Yakni, salah satu kesenian asli Pulau Madura. Namun, kini kesenian itu tidak begitu akrab di telinga anak muda. Pesatnya perkembangan teknologi membuat kèjhung dan sandur tergeser dengan sendirinya.
Orang Madura pasti tidak asing saat mendengar kata kèjhung. Salah satu kesenian yang jadi primadona pada masanya. Kesenian tersebut kerap ditampilkan dalam pementasan sandur. Namun, sebagian orang mungkin ada yang tidak mengerti kèjhung yang didendangkan seniman.
Seiring berjalannya waktu, diakui atau tidak, kesenian tersebut mulai punah di Madura, khususnya di Bangkalan. Indikasinya, sudah tidak banyak orang yang berminat menampilkan kèjhung. Baik dalam pertunjukan sandur maupun dalam kegiatan kesenian lainnya.
Agar kesenian tersebut tidak punah, Nisful Qomar menggelar Demonstrasi Kèjhung Madhurâ Ruang Publik. Narasumbernya Sudarsono dan M. Sadun. Acara tersebut digelar di Taman Paseban pada Minggu (27/8). ”Kèjhung kurang diminati generasi muda karena dianggap kuno dan tidak layak ditampilkan di zaman modern ini,” ucapnya.
Mirisnya lagi, sambung Nisful Qomar, kesenian sandur di Madura juga sudah sangat jarang ditampilkan. Jika sandur dari tahun ke tahun terus berkurang, otomatis kesenian kèjhung juga bernasib sama. Salah satu dampaknya, membuat kèjhung semakin tenggelam.
Dia menjelaskan, setelah melakukan diskusi panjang, ternyata kesenian kèjhung memiliki keterbatasan ruang dalam berkarya. Misalnya, dengan adanya anggapan bahwa kèjhung merupakan seni yang berada dalam satu paket dengan sandur. Karena itu, kèjhung tidak bisa dimainkan di luar pertunjukan sandur.
”Anggapan semacam itu akan membelenggu kreativitas seniman saat membawakan kèjhung. Sebab, pemain kèjhung sangat menjunjung tinggi asas ajek dan pakem. Mereka tidak berani mengeksplorasi diri karena khawatir dianggap melanggar pakem,” ungkap Nisful Qomar.
Perjalanan seni dari tahun ke tahun dituntut menyesuaikan dengan zaman. Hal itu juga harus dilakukan oleh pegiat seni kèjhung. Dengan begitu, keberadaannya tetap diterima oleh semua kalangan. Misalnya, dengan menampilkan kèjhung di luar pertunjukan sandur. ”Dalam diskusi demonstrasi kèjhung ini, kami mengajak kawula muda untuk mengenal dan mencintai kèjhung,” ajaknya.
Nisful Qomar menambahkan, kesenian kèjhung tidak akan terbelenggu dalam satu ruang seni. Sebaliknya, bisa berkembang dan tidak lagi berada dalam ruang kesenian sandur. ”Jika itu dilakukan, kesenian kèjhung bisa diterima oleh semua kalangan,” tandas Nisful Qomar. (za/yan)
Editor : Berta SL Danafia