Bunga kol atau kembang kol lumrahnya tumbuh di kawasan dengan suhu dingin. Seperti di Malang, Batu, dan daerah sejuk lainnya. Namun, siapa sangka tumbuhan yang termasuk dalam kelompok botrytis itu juga bisa tumbuh subur di tanah Madura. Suparman, warga Desa Dasok, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, membuktikan itu.
LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura
KEMBANG kol sudah tidak asing di telinga masyarakat. Sayuran itu dapat diolah untuk beberapa jenis makanan. Namun, dibutuhkan perawatan esktra jika ingin menanamnya. Biasanya, kembang kol membutuhkan suhu ruangan berkisar 24 sampai 28 derajat Celsius. Bunga kol lebih cocok ditanam di kawasan sejuk.
Sebagian orang berpendapat jika bunga kol mustahil tumbuh di Madura. Namun, hal tersebut terbantahkan setelah Suparman, warga Desa Dasok, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, berhasil menanamnya. Bahkan, dia sudah empat tahun membudidayakan bunga kol.
Semua itu berawal dari pengalamannya yang pernah membudidayakan tanaman kol pada 2020. ”Alhamdulillah bisa tumbuh di Madura.
Buktinya, saya menanam bunga kol sejak empat tahun silam,” katanya sambil lalu menunjuk kembang kol yang sudah dipanen kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Suparman mengatakan, tanaman bunga kol miliknya tumbuh di tanah pasir yang letaknya persis berada di samping rumahnya.
Dia mendapatkan bibit kembang kol tersebut dari Kota Malang. ”Saya beli secara online,” ungkapnya.
Menanam bunga kol tidak sulit bagi Suparman. Sebab, dia merujuk pada pengalamannya saat bekerja di Kota Malang.
”Jarak tanam antara bibit satu dengan yang lain berkisar 10–20 sentimeter. Ketika sudah tumbuh, daunnya akan semakin lebar dan buahnya semakin besar.
Kalau jarak tanamnya terlalu dekat, daunnya nanti tidak bisa berkembang,” ucap Suparman.
Menurutnya, selama masa tanam berlangsung, kembang kol membutuhkan banyak air. Kandungan air itu nantinya akan memengaruhi kualitas dari tanaman tersebut.
”Bunga kol cukup disiram satu kali sehari. Tapi, takaran airnya cukup banyak sampai benar-benar tergenang,” ingatnya.
Pria berusia 72 itu menambahkan, khusus pupuk, selama ini mengandalkan pupuk tawon emas, mutiara 16-16-16, dan pupuk ZA.
”Saya juga pakai pupuk kandang yang berasal dari kotoran sapi. Kalau pupuk urea jangan coba-coba diberikan kepada sayuran, langsung mati,” jelasnya.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Madura (Unira) Moh. Zali menyampaikan, penanaman bunga kol biasanya menerapkan sistem benih dan proses seleksinya 12 jam. Biasanya menggunakan air tawar dengan campuran garam.
Hasilnya, bibit unggul atau kualitas A yang ditaruh dalam ari garam akan terendam.
”Kemudian dicuci bersih, baru direndam di air hangat sampai bijinya keluar. Setelah itu, disimpan dalam kain di ruang tertutup. Keesokannya baru bisa ditanam,” jelasnya.
Sebelum ditanam, dia menyarankan pembudi daya untuk menyiapkan lahan yang diberi campuran pupuk organik dan anorganik.
Setelah ditanam selama 20 hari, harus diberi air yang banyak. ”Agar gulma di bunga kol hilang, harus dilakukan penyiangan selama satu bulan sekali,” terangnya.
Zali menyatakan, para petani hendaknya waspada terhadap penyakit yang menyerang kembang kol. Seperti kutu daun, tusuk pelepah, dan akar ganda.
”Hama yang paling dominan adalah ulat grayak karena sangat suka makan daun,” jelas pria yang juga menjadi dosen di Fakultas Pertanian Unira itu. (*/yan)
Editor : Abdul Basri