PAMEKASAN, RadarMadura.id – Tidak berlebihan jika menyebut Royyan Julian sebagai representasi sastrawan muda Madura saat ini. Karya-karyanya mampu bertarung di kancah sastra nasional. Mulai dari puisi, novel, hingga kritik. Bahkan, tahun ini dia didapuk sebagai dewan juri dalam Sayembara Manuskrip Puisi oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Memenangkan sayembara yang rutin digelar DKJ setiap tahun menjadi kebanggaan setiap penulis sastra di tanah air. Terutama generasi muda. Sebab, sayembara itu dinilai sangat bergengsi dan prestisius. Dan, Royyan Julian sudah dua kali memetik kegembiraan itu.
Namun, kali ini berbeda. Pria yang berkarib dengan buku sejak duduk di bangku SMA itu malah tidak mengikuti sayembara tersebut. Lembaga yang berdiri pada 7 Juni 1968 itu justru memilihnya sebagai salah satu dewan juri pada Sayembara Manuskrip Puisi.
”Saya tidak tahu kenapa Komite Sastra DKJ itu memilih saya. Saya menduga, mungkin karena saya pernah memenangkan sayembara ini, puisi sekaligus kritik,” tutur dia, memulai pembicaraan, Sabtu (29/7).
Diceritakan, pemenang sayembara DKJ dipilih menjadi juri memang pernah terjadi pada 2021. Meski, hal itu bukan sebuah tradsi dalam sayembara DKJ. Namun, panitia pastinya memiliki kriteria tertentu yang sangat ideal.
”Ketika saya dihubungi memang sudah menyangka. Karena sudah musim sayembara. Di samping itu, saya pernah ditanya teman, enak mana jadi peserta atau dewan juri,” ingatnya.
Pemilihan dewan juri, apalagi dalam sayembara skala nasional bukanlah hal sepele. Jika tidak memiliki kemampuan yang kompleks, bukan tidak mungkin akan banyak protes. Namun, Royyan sanggup menerima amanah besar dari panggung sastra Ibu Kota itu sampai tuntas.
Dia sekaligus siap mempertanggungjawabkan pada publik hasil penilaiannya. Royyan mengisi kursi dewan juri bersama dua rekannya. Yakni, Kiki Sulistyo dan Inggit Putria Marga. ”Saya menerima amanah itu sebagai tantangan untuk memperkaya pengalaman,” tegasnya.
Berat. Tentu saja. Menjadi juri—meminjam satu kalimat dalam pidato pertanggungjawaban yang dibacakan Royyan pada malam Anugerah Sastra DKJ 2022—ibaratnya seseorang yang harus mampu menemukan gandum di antara ilalang, tak sukar memisahkan terang dari gelap.
”Kesulitan tentu saja ada, karena kami harus mencari satu irisan dari ketiga juri yang ada,” terang penggagas Sivitas Kotheka itu.
Karena itu, lanjut Royyan, yang dilakukan sekurang-kurangnya ada dua. Pertama, membuang ego selera dan harus tega. Bukan tidak mungkin, dari ratusan manuskrip yang dibaca, salah satunya milik teman atau orang terdekatnya. Meskipun panitia sudah lebih dulu menghapus identitas pemilik manuskrip sebelum masuk dewan juri.
”Jadi, ego selera itu tidak boleh diprioritaskan. Karena tidak sulit sebenarnya untuk tahu bahwa manuskrip ini milik siapa. Jadi kalau sudah tidak sesuai dengan kriteria, maka harus disingkirkan,” ucap Royyan.
Pria yang berulang tahun setiap 3 Juli itu menuturkan, meski naskah-naskah yang dimenangkan akan diproduksi ke publik (pembaca), dewan juri tetap tidak boleh mengikuti selera publik. Selagi layak, memiliki tawaran baru, dan kesesuaian dengan kriteria penilaian maka harus tetap dipilih.
Royyan membocorkan metode yang dilakukan dalam membaca ratusan naskah yang akan dinilai. Pertama, memisahkan naskah yang tidak layak lebih dulu. Tentu tidak perlu dibaca secara keseluruhan, cukup satu sampai belasan 10 puisi terlebih dahulu. ”Saya kira ini juga dilakukan oleh dewan juri yang lain. Itu cara gampangnya,” tuturnya.
Sebagai praktisi dan penikmat sastra, Royyan tentu sangat bersyukur dengan kesempatan tersebut. Pengalamannya tentu saja kian bertambah. Bahkan, penelusuran JPRM sejauh sayembara ini dilaksanakan, belum satu pun penulis Madura pernah menyabet penghargaan sayembara ini. Apalagi sampai dipercaya menjadi dewan juri. ”Ya, tentu saya bersyukur,” ungkapnya.
Sekadar diketahui, manuskrip yang diikutkan oleh penyair dari masing-masing daerah pada sayembara ini berjumlah 431. Perinciannya, penyair perempuan 115 dan laki-laki 316. (di/pen)
Editor : Dafir.