Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Maestro Cerpen Revitalisasi Bahasa Daerah Madura 2023 Percaya Bahwa Menulis Jalan Menjadi Hebat

Dafir. • Sabtu, 8 Juli 2023 | 00:31 WIB
Mudhar CH membaca buku di rumahnya yang beralamat di Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Kota Sampang, Rabu (5/7). (JUNAIDI PONDIYANTO/JPRM)
Mudhar CH membaca buku di rumahnya yang beralamat di Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Kota Sampang, Rabu (5/7). (JUNAIDI PONDIYANTO/JPRM)

SAMPANG - ”Membaca itu sehat, menulis itu hebat” ungkapan sederhana yang disampaikan Mudhar kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di ruang tamu rumahnya, di Kelurahan Karang Dalem, Kecamatan Kota Sampang, Rabu (5/7).

Seseorang membutuhkan pengetahuan itu sehat. Pengetahuan itu bisa diperoleh dengan membaca. Seseorang bisa menjadi hebat karena punya karya tulis.

Seperti yang selama ini dilakukan Mudhar dengan membuat banyak karya cerpen berbahasa Madura. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak cerpen karyanya.

Utamanya yang berbahasa Madura. Menguasai pengetahuan tentang bahasa Madura memang tidak disia-siakan oleh Mudhar.

Sudah banyak cerpen berbahasa Madura yang ditulis oleh pria berusia 43 tahun itu. Seperti, cerpen dengan judul Ngeccèt Parao, Kancèng Kothèka, Baluddrâk, dan lainnya.

Karya tulis yang sebenarnya tidak hanya memuat pesan moral dalam tatanan kehidupan. Juga untuk pelestarian bahasa Madura yang kian terkikis. Bahasa ibu masyarakat Madura yang wajib dilestarikan untuk diwariskan kepada generasi muda.

”Paling banyak tulisan saya itu untuk pelestarian bahasa Madura. Ingin mengungkap sesuatu yang sulit karena banyak yang bilang bahasa Madura itu sulit. Juga ingin menyampaikan bahwa belajar bahasa Madura tidak sulit,” jelasnya.

Pria kelahiran Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, itu menuturkan, karya tulisnya banyak berangkat dari fenomena sosial. Dituangkan dalam bentuk fiksi sesuai imajinasinya. Sehingga, bisa membuat pembaca merasa banyak pengalaman dari membaca cerpen.

Menurut dia, menulis cerpen itu mengungkap sesuatu yang kemungkinan terjadi. Atau mengungkap kegelisahan diri meski tidak memberi solusi.

Bagi Mudhar, sastra yang baik itu bukan sastra yang berhasil menjuarai perlombaan. Tetapi, sastra yang tidak lapuk oleh zaman karena masih relevan dibaca sampai kapan pun. Bisa dinikmati pembaca dari masa ke masa.

Bapak dua anak itu menyebut, cara belajar menulis itu butuh ketekunan. Tidak langsung ingin cepat menjadi penulis hebat saat masih belajar. Semuanya butuh proses dan waktu yang tidak sebentar.

Suami dari Nine Apriliyatin itu mengaku belajar menulis sejak duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Masih sangat segar dalam ingatannya ketika disuruh bercerita dengan menulis di papan tulis oleh guru. Sehingga, dia merasa yang dilakukan sekarang hanya mengembangkan dari pengalaman itu.

”Saya rasa tidak bisa impian besar itu dicapai secara instan. Orang bisa mendapatkan gelar sarjana saja harus belajar pada lembaga pendidikan di bawahnya bertahun-tahun,” terang bapak dari Agnidha Najda Q Nanti dan Bintang T Rangi Jagad itu.

Mudhar menegaskan, menjadi seseorang yang hebat itu bisa dicapai dengan menulis. Modalnya adalah kemauan dan ketekunan dalam belajar. Itulah yang menjadi modal bagi dirinya untuk bisa menghasilkan karya yang bagus.

Sekadar diketahui, pria yang memiliki nama pena Mudhar CH itu lahir pada 29, November 1980 di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep. Menempuh pendidikan dasar di SDN Lobuk 1, MTs Sunan Giri Lobuk, MA 1 Annuqayah, dan STKIP PGRI Sumenep. Selain menulis, kini Mudhar aktif sebagai tenaga pendidik di Pesantren Al Ittihad Al Islami di Desa Dharma Camplong, Kecamatan Camplong, Sampang. (jun/yan)

 

Editor : Dafir.