PEMKAB di seluruh Madura harus berupaya keras mempertahankan sapi ras Madura. Tujuannya, agar sapi khas Pulau Garam itu tidak punah akibat kawin silang yang mulai dilakukan beberapa peternak.
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Sumenep drh Zulfa mengatakan, sapi madura memliki ciri khas. Yakni, warna kulitnya lebih cokelat terang dan postur tubuhnya pendek dan padat.
Zulfa mengaku terus berupaya mempertahankan sapi asli Madura. Salah satu langkah konkret yang dilakukan yakni, mengurangi suntik sperma bibit sapi selain sapi asli Madura. ”Wilayah Guluk-Guluk, Ganding, Lenteng, dan Pasongsongan sudah tidak ada kawin suntik dengan bibit sapi selain sapi madura,” ujarnya.
Zulfa menambahkan, Sapudi merupakan lumbung sapi madura. Baik dari segi populasi dan kualitas lebih unggul dibanding daerah lain. Dalam rangka mempertahankan keaslian sapi tersebut, pemerintah mengimbau agar masyarakat tidak memasukkan sapi di luar ras Madura.
Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Bangkalan Hafid menyatakan, populasi sapi di Kota Salak mencapai 235 ribu ekor. Angka itu mengantarkan Kota Salak masuk 10 besar daerah dengan populasi sapi terbanyak di Jawa Timur (Jatim).
Hafid mengakui tidak banyak yang dapat dilakukan dalam penguatan sumber daya manusia (SDM) peternak. Program yang dilakukan hanya pemberian pakan agar sapi lebih cepat gemuk sehingga bernilai ekonomis tinggi. ”Program penguatan SDM sangat terbatas, menyesuaikan ketersediaan anggaran,” terangnya.
Kabid Pakan dan Produksi Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pamekasan Indah Kurnia Sulistiorini mengaku fokus menjaga keaslian sapi lokal. Salah satunya dengan pelestarian plasma nutfah sapi madura.
Pemerintah pusat juga telah menetapkan wilayah sumber bibit sapi madura di Pamekasan. Yakni, di Kecamatan Waru, Pasean, dan Batumarmar. ”Wilayah sumber bibit sapi madura itu tertera dalam SK Kementerian Pertanian 150/2017. Satu-satunya sumber bibit sapi madura yang ditetapkan pemerintah pusat,” ucapnya.
Indah menambahkan, pemkab menggembleng program strategi pengembangan sapi madura bibit secara simultan (Sang Sultan). Yakni, dengan penjaringan bibit unggul dan penertiban surat keterangan layak bibit (SKLB).
Program lain yakni, inseminasi buatan satu tahun satu kelahiran (Intan Satu Saka). Kemudian, program seleksi sapi bibit terintegrasi ala Pakong, Pasean, Batumarmar, dan Waru (Si Papa Baru).
”Ada juga tim bunting serentak (Tim Buser), dan sapi komoditas andalan negeri (Si Komandan),” urainya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperta KP) Sampang Suyono menyampaikan, populasi sapi di Kota Bahari cukup tinggi. Masyarakat yakin bahwa sapi memiliki nilai ekonomi.
Pemerintah mendukung pelestarian sapi dengan memberikan pelayanan kesehatan maksimal. Di antaranya, melakukan pemeriksaan kesehatan hewan dan vaksinasi di sejumlah tempat.
Suyono menyampaikan, perhatian terhadap kesehatan hewan ternak ditingkatkan pada momentum Idul Adha. Di antaranya, menyiapkan petugas kesehatan serta mewajibkan hewan ternak yang hendak dikirim ke luar daerah dalam kondisi sehat.
Konidisi kesehatan ternak bisa dibuktikan dengan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH). Tanpa surat tersebut, hewan ternak, khususnya sapi, tidak diperbolehkan dikirim ke luar daerah. ”Kami mendorong masyarakat berternak sapi tidak sekadar dijadikan usaha sampingan. Tetapi, bisa menjadi pekerjaan utama karena nilai ekonominya tinggi,” tandasnya. (iqb/jup/afg/jun/pen)
Editor : Abdul Basri