Dua penjaga duduk di depan pintu lobi SMAN 4 Bangkalan, Rabu (3/5). Satu di antaranya berseragam gelap. Mereka menanyakan keperluan setiap tamu yang datang ke lembaga yang terletak di Jalan Pertahanan, Kelurahan Bancaran, tersebut.
Setelah mengetahui maksud kedatangan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), seorang di antara penjaga tersebut mempersilakan duduk di lobi. Tidak berselang lama, mempersilakan untuk masuk ke ruang kepala sekolah (Kepsek).
Di ruangan itu JPRM bertemu Hendrik Dewantara. Kepala sekolah itu bercerita tentang perjalanan hidupnya. Termasuk cikal bakal tiga karya buku yang diterbitkan. Masing-masing berjudul Media Sosialisasi dalam Konteks Madura, Penanganan Kekerasan Rumah Tangga melalui Mediasi, dan antologi puisi Syair Cinta.
Perjalanan pria 39 tahun itu di dunia pendidikan dimulai 2005. Yaitu, saat ibundanya meminta untuk tinggal di tanah kelahiran. Sementara Hendrik saat itu sudah bekerja di Bank BTN Syariah di Surabaya.
Awalnya, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Trunojoyo Madura itu sempat bimbang meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai bank. Karena setelah mengundurkan diri akan kesulitan mendapatkan pekerjaan lagi. Apalagi, tempat tinggalnya jauh dari pusat Kota Bangkalan. ”Tetapi, yang meminta adalah ibu, akhirnya saya pulang,” kenang warga Kecamatan Tanjungbumi itu.
Setelah itu, suami Dwi Agustina tersebut memutuskan untuk mengajar sebagai tenaga sukarelawan di SMAN 1 Tanjungbumi. Pendapatannya saat itu tidak seberapa sehingga mengaruskannya untuk mengajar di berbagai lembaga pendidikan. Yaitu, di SMP Terbuka dan MTS Nurul Huda.
Paling tinggi saat itu dibayar Rp 53 ribu. Bahkan ada yang Rp 25 ribu. Padahal, saat itu gaji dia di bank sudah Rp 750 ribu ke atas awal 2000-an.
Mata pelajaran yang diampu Hendrik di beberapa lembaga tempatnya mengajar serabutan. Sebab, tidak sesuai dengan kapasitasnya sebagai sarjana ekonomi. Sulung tiga bersaudara pasangan Suhadi dan Siti Rohmatun itu mengajar pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn), kimia, sosiologi, seni budaya, ilmu pengatahuan sosial (IPS), dan ilmu pengetahuan alam (IPS).
Hendik akhirnya bisa menyandang status sebagai pegawai negeri sipil (PNS) setelah diterima dalam seleksi formasi 2009. Penempatannya di SMAN 1 Tanjungbumi dan diperbantukan di SMKN 1 Tanjungbumi.
Bapak tiga anak itu pernah mengampu mata pelajaran sosiologi di SMAN 1 Tanjungbumi. Salah satu materi pembelajarannya yaitu media sosialisasi. Namun, materi dan bahan literasi yang tersedia berbeda dengan media sosialisasi warga Madura sehingga dinilai kurang cocok.
Karena itu, dia menulis buku berjudul Media Sosialisasi dalam Konteks Madura. Dia berharap buku itu dijadikan bahan ajar bagi siswa sesuai dengan budaya masyarakat Madura.
”Buku ini saya buat sekitar enam bulan di 2020. Namun, pemikiran ingin membuat buku tentang media sosialisasi dalam konteks Madura ini sudah lama,” ujarnya.
Buku Penanganan Kekerasan Rumah Tangga melalui Mediasi ditulis karena fenomina sosial. Yaitu, saat menemukan sebuah keluarga yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Saat itu penyelesaian masalah pidana bukan di meja hijau. Melainkan diselesaikan oleh tokoh agama atau tokoh masyarakat. Padahal, secara normatif perkara pidana diselesaikan di criminal justic system. Yaitu, kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan.
”Jadi, jika orang mengatakan KDRT itu tidak bisa diselesaikan, Madura bisa melalui mediasi,” ujarnya.
Hendrik mengaku sempat dihubungi oleh salah seorang dosen di kampus swasta mengenai Penanganan Kekerasan Rumah Tangga melalui Mediasi. Dosen itu izin untuk dijadikan bahan perkuliahan bagi mahasiswa. ”Ya saya persilakan,” ujarnya.
Pihaknya juga pernah dihubungi penerbit masalah royalti. Namun, Hendrik enggan untuk mengambil. Disepakati, royalti dari karya yang diterbitkan akan diserahkan ke lembaga panti asuhan.
Sedangkan antologi puisi Syair Cinta diterbitkan 2022. Karya tersebut lahir karena kekhawatiran atas kondisi siswanya. Yaitu, cenderung kesulitan saat membuat karya fiksi, khususnya puisi. ”Akhirnya, saya coba buat buku ini dan saya berikan kepada siswa,” katanya.
Menurut Hendrik, sebenarnya siapa pun bisa menjadi penulis. Kuncinya harus peka terhadap lingkungan sosial. Kemudian, konsisten untuk menulis dan menuntaskan karya-karyanya. ”Sekarang masalahnya siswa disibukkan dengan gadget,” sambungnya.
Tahun ini dia akan meluncurkan buku berjudul Sang Guru. Karya tersebut membahas tentang guru yang selama ini hanya selalu mengajar. Padahal, guru juga bisa jadi pengusaha, seniman, penulis, dan lain-lain. ”Banyak peluang yang bisa ditekuni guru,” tukasnya. (jup/luq)
Editor : Abdul Basri