Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Warga Lestarikan Tradisi Rokat Tase’ sebagai Bentuk Syukur

Abdul Basri • Rabu, 3 Mei 2023 | 18:59 WIB
RITUAL: Peserta rokat tase’ berdoa bersama setelah pelepasan sesajen di perairan Desa Kwanyar Barat, Kecamatan Kwanyar, Bangkalan, Senin (1/5). (ABRAR GHAZY HARDIAN/JPRM)
RITUAL: Peserta rokat tase’ berdoa bersama setelah pelepasan sesajen di perairan Desa Kwanyar Barat, Kecamatan Kwanyar, Bangkalan, Senin (1/5). (ABRAR GHAZY HARDIAN/JPRM)
BANGKALAN – Selain abantal omba’ asapo’ angen, nelayan juga abantal syahadat apajung Allah. Selain bekerja keras di tengah gelombang, mereka tak lupa memanjatkan doa.

Warga duduk melingkar di bawah terop cokelat dengan nasi tumpeng dan olahan laut terhidang di tengah mereka. Ayat suci, tahlil, dan doa mulai dibacakan. Pertanda tradisi rokat tase’ segera dimulai.

Sebelum berangkat melarung sesajen, warga Desa Kwanyar Barat, Kecamatan Kwanyar, makan bersama dengan hidangan nasi tumpeng. Nasi itu dinikmati dengan lauk ikan kering, sejenis ikan kapas bumbu merah, dan sayur lodeh. Disajikan juga buah-buahan segar seperti jeruk, semangka, dan salak.

Rokat tase’ merupakan warisan nenek moyang mereka yang rutin digelar setiap tahun. Tepatnya saat memasuki Syawal. Bulan tersebut dipilih dalam rangka menyambut keuntungan dan keberkahan baru nelayan. Sebab, beberapa bulan sebelumnya nelayan tidak melaut dan tidak mendapat penghasilan.

Dengan adanya petik laut atau rokat tase ini diharapkan membuat nelayan mujur. ”Mudah-mudahan dengan adanya petik laut itu, nelayan kami lebih sempurna, berkah, dan manfaat. Karena tanpa kami, tidak akan ada ikan di atas meja,” terang Ketua Kelompok Nelayan Pantai Harapan Moh. Sihab.

Setelah menyantap hidangan, beberapa warga menggotong sajen ke atas perahu. Ada lima perahu yang disiapkan untuk melaksanakan upacara tersebut. Kemeriahan ini tidak hanya ditandai dengan umbul merah putih pada perahu. Namun, juga semarak warga menyaksikan proses rokat tase yang memenuhi bibir pantai.

Iring-iringan istri nelayan juga tidak mau kalah melaksanakan upacara tersebut. Mereka kompak berbaju putih dengan kerudung hitam. Mereka bersila duduk di perahu bernama Sambo.

Di perahu lain berisi para ketua kelompok nelayan, tokoh masyarakat, dan beberapa warga lain yang dilengkapi pelantang untuk mengumandangkan azan dan salawat. Selain Pantai Harapan, kegiatan ini melibatkan Kelompok Nelayan Bintang Samudra dan Sinar Laut.

Sementara sesajen berbentuk perahu berada di kapal yang mayoritas ditumpangi anak-anak. Sajen tersebut berisi olahan makanan khas laut, nasi, buah, dan beberapa lembar uang. ”Tujuan tradisi ini menyatukan para nelayan secara kekeluargaan,” tutur pria 50 tahun itu.

Tradisi rokat tase dilakukan dengan mengelilingi perairan laut Kwanyar. Tradisi itu merupakan bentuk syukur mereka kepada Allah SWT atas kecukupan nikmat yang diberikan kepada nelayan. ”Kalau tidak seperti ini, kita tidak mengetahui besar nikmat Tuhan,” jelas tokoh masyarakat Ighm Mahfudz.

Selama pengarungan, masyarakat tidak henti-hentinya membaca salawat di atas perahu. Ujung barat dan ujung timur akan ditandai dengan pengumandangan azan. Setelah kumandang azan, sesajen itu dilarung di tengah laut dengan penuh harap. Doa kembali dipanjatkan sebelum mengitari laut sisi timur. Sekitar dua mil perahu berlayar ke sisi timur untuk mengumandangkan azan kali kedua.

Warga menjawab azan itu. Mereka berharap bisa dijauhkan dari segala bentuk kesialan. ”Azan sebagai bentuk tolak bala. Harapannya untuk dijauhkan dari tolak bala dan musibah,” ucap Mahfudz.

Mahfudz menjelaskan, tradisi ini berbeda dengan rokat tase zaman dahulu. Dahulu tradisi ditandai dengan pembuangan kepala sapi atau kerbau. Sekarang tradisi tersebut mengalami perubahan, hanya berupa makanan olahan laut yang disebut sedekah laut.

Setelah mengitari laut di perairan Kwanyar, kapal-kapal nelayan itu kembali menepi ke tempat semula. Sebelum benar-benar sampai di tepi, tokoh agama kembali membaca salawat Mahalul Qiyyam di atas perahu.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Bangkalan Muhammad Syafii mengatakan, rokat tase merupakan salah satu momen dari budaya bahari. Hal itu merupakan bentuk dukungan program presiden dalam melestarikan budaya bahari agar tetap lestari. (*/luq) Editor : Abdul Basri
#lestarikan tradisi #rokat tase’ #nelayan #tradisi