MOH. ALI MUHSIN, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura
SALAH seorang santri almarhum RKH. Ahmad Mahfudz, pengasuh kedua Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba), yang masih hidup, yaitu KH. Abdul Halim. Saat nyantri di Bata-Bata, dia termasuk seorang santri kepercayaan Kiai Mahfudz.
Kiai Abdul Halim menjadi pemateri pada acara Pekan Ngaji 8 di Ponpes Muba, Senin (9/11). Dia bercerita kepada ribuan santri Bata-Bata tentang sosok Kiai Mahfudz. Di hadapan santri, tokoh agama asal Desa Tobungan, Kecamatan Pademawu, itu menceritakan sosok Kiai Mahfudz dengan pelan dan penuh khidmat.
Para santri begitu saksama menyimak penyampaian kiai yang pernah nyantri di Bata-Bata selama 5 tahun tersebut. Berdasar hikayat Kiai Abdul Halim, ada empat karakter atau sifat yang ada pada diri Kiai Ahmad Mahfudz. Yaitu, ikhlas, istiqamah, tawakkal, dan qanaah.
”Menurut pandangan pribadi saya, insyaallah Kiai Mahfudz termasuk melaksanakan kepemimpinan yang ikhlas, istiqamah, tawakal, dan qanaah,” ujarnya.
Ulama 59 tahun itu menyatakan, dalam segi keikhlasan, khususnya di bidang pendidikan, Kiai Mahfudz sering datang ke kamar-kamar atau blok untuk membangunkan santri. Tujuannya, agar para santri bisa melaksanakan salat malam. Para santri juga diminta ikhlas dalam beramal.
Selain itu, Kiai Mahfudz di mata santrinya juga dikenal sebagai sosok yang sangat istiqamah. Khususnya, dalam mengajar. Sesibuk apa pun, Kiai Mahfudz tetap menyempatkan untuk mengajar santri-santrinya di musala.
”Misalnya, ketika menghadiri undangan masyarakat. Saat datang, beliau tidak langsung ke ndalem, tapi ke musala untuk mengajar. Jika tidak mengajar, maka di-qadha’ (diganti),” tuturnya.
Sesibuk apa pun, tidak ada alasan bagi Kiai Mahfudz untuk meninggalkan kewajibanya dalam mengajar. ”Jadi, santri ayo untuk berpikir dan meniru keikhlasan dan keistiqamaan beliau. Jangan sampai mengabaikan sekecil-kecilnya hal yang baik,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, Kiai Mahfudz juga dikenal sebagai sosok yang tawakal. Sekitar 1960-an Kiai Mahfudz memiliki masalah. Menurut Kiai Abdul Halim, bakda salat Isya, dirinya dipanggil. Kemudian, Kiai Mahfudz memerintahkan dirinya dan santri mendoakan masalah yang dihadapinya. Saat itu santri diminta baca surah Yasin 41 kali tengah malam.
Itu kata Kiai Abdul Halim sebagai wujud dari tawakal kepada Allah SWT. Segala urusan dan masalah yang dialami dipasrahkan sepenuhnya kepada Allah SWT dengan cara berdoa. ”Tentu ikhtiar selain doa juga pasti dilaksanakan,” ucapnya.
Buah dari tawakal dan berdoa kepada Allah itu, hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Setelah melaksanakan doa berhari-hari, masalah tersebut selesai. ”Ketika mau ke Jawa, Kiai Mahfudz meminta saya bersama teman-teman untuk berdoa. Saat datang dari Jawa, Kiai Mahfudz menyampaikan kalau masalahnya teratasi,” tuturnya.
Kemudian, Kiai Mahfudz juga dikenal sebagai sosok yang qanaah. Almarhum menerima kondisi apa pun yang terjadi pada dirinya. Menurut Kiai Abdul Halim, Kiai Mahfudz sangat suka makan singkong. Di akhir penyampaiannya, Kiai Abdul Halim mengajak para santri untuk meneladani kegiatan positif yang dilakukan Kiai Mahfudz.
”Kami mengajak santri supaya melaksanakan slogan kiai lakona-lakoni kennenganna-kennengi. Semoga menjadi jalan yang bermanfaat dan barokah serta nantinya bisa ikhlas, istiqamah, tawakal, dan qanaah,” tambahnya. (*/han) Editor : Abdul Basri