Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mudhar, Guru yang Gigih Lestarikan Bahasa Daerah

Abdul Basri • Minggu, 4 Desember 2022 | 03:02 WIB
TEKUN: Mudhar menulis cerpen di ruang tamu rumahnya di Perumahan Puri Matahari Blok A Nomor 48, Sampang, kemarin. (FADIL/Radarmadura.id)
TEKUN: Mudhar menulis cerpen di ruang tamu rumahnya di Perumahan Puri Matahari Blok A Nomor 48, Sampang, kemarin. (FADIL/Radarmadura.id)
Banyak yang merasa minder ketika menggunakan bahasa Madura. Contohnya, ketika mengucapkan eh ta’ ngedhing bau ya? Sontak ucapan itu biasanya mendapat ejekan. Padahal, ungkapan itu mengandung makna sinestesia.

FADIL, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

BERDIAM di Perumahan Puri Matahari Blok A Nomor 48, Mudhar merasa nyaman. Alasannya, tempat tersebut jauh dari hiruk pikuk bunyi kendaraan. Setiap hari dia hanya mendengar kicauan burung cendet. Burung kebanggaan orang Madura yang hampir punah itu.

Mudhar belajar bahasa Madura semata-mata ingin melestarikan. Sebab, dia merasa punya tanggung jawab untuk tetap menjadikan bahasa Madura sebagai bahasa daerah yang harus terus dipertahankan. Ditambah, karena sudah hidup di tanah Madura dan menjadi manusia berakal.

”Maka, saya merasa perlu belajar,” kata dia kemarin (2/12).

Menurut Mudhar, setelah menghayati percakapan sehari-hari, dia mulai berpikir tentang bentuk. Misalnya bahasa percakapan yang banyak hal luar biasa. Dan, bentuk tersebut tidak dimiliki oleh bahasa lain. ”Dari situ saya perlu belajar lebih jauh lagi tentang bahasa Madura,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjut Mudhar, pihaknya sering menjumpai masih banyak orang yang enggan berbahasa Madura. Padahal, itu dalam konteks keseharian dan sesama orang Madura.

Kenapa banyak yang merasa minder ketika menggunakan bahasa Madura. Ternyata karena tidak paham saja. Misalnya, seperti mengucapkan eh ta’ ngedhing bau ya?

Saat mendengar ucapan itu, terlintas dalam pikiran bahwa seharusnya pendengaran berhubungan dengan telinga, bukan justru indra penciuman berupa bau. Sedangkan yang punya istilah pertukaran panca indra seperti bukan hanya bahasa Madura. Dalam bahasa Indonesia juga ada istilah demikian yang disebut dengan sinestesia.

”Untuk bahasa Indonesia, misalnya seperti kata pedas. Kata-kata itu kan masuk ke telinga, kenapa justru muncul kata pedas. Jadi, bahasa Madura itu tidak apa-apa bersinestesia,” terang alumnus STKIP PGRI Sumenep itu.

Dia menjelaskan, ketika belajar serius tentang itu, pihaknya kagum. Ternyata, bahasa Madura sangat luar biasa. Faktor ketidaktahuan jangan lantas menjadikan diri minder. Sebutan lain adalah orang yang tertinggal. Padahal, bahasa Madura juga mempunyai struktur dan tata aturan.

”Setiap bahasa punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalau dalam bahasa kita, ada istilah Lalonget,” terang kepala SMPS Al-Ittihad Camplong itu.

”Misalnya lagi belajar tentang ondhagga basa dan Lalonget masuk pada kerata basa. Kemudian ada rora basa. Ada kata yang seharusnya digunakan seperti ini, tapi maksudnya seperti itu, dan itu ada di bahasa Madura,” kata pria kelahiran Sumenep, 29 November 1980 itu.

Untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang bahasa Madura, pada 2021 dia mengikuti les Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Sampang. Selain itu, dia belajar dari buku. Di antaranya, kamus, buku cerita, file kamus bahasa Madura, dan novel berbahasa Madura.

Dia menyampaikan, belajar bahasa Madura sudah dilakukannya sejak di bangku kuliah. Tepatnya, pada saat mata kuliah minor bahasa Madura. Ketika itu ada dosen dikenal dengan nama pena Arach Djamaly. Dosen tersebut seorang penyair dan puisinya sering dibaca oleh orang Sumunep. ”Kalau nama aslinya Abd. Rahem,” kenang pria asal Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Sumenep, itu.

”Setiap Rabu dan Kamis saya belajar hingga sekarang di disarpus. Namun, sekarang diganti menjadi Selasa dan Rabu. Biasanya mulai bakda asar hingga menjelang magrib,” pungkasnya. (*/daf) Editor : Abdul Basri
#Mudhar #Guru yang Gigih #bahasa daerah #lestarikan