Sosok Wiyanto Kawiriyan tak banyak diketahui orang. Namun, peran dan kontribusinya cukup besar. Terutama, bagi masyarakat Sumenep yang punya warung kelontong di Jakarta. Dia merupakan warga Desa Grujugan, Kecamatan Gapura.
DAFIR FALAH, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura
SELAMA ini, Perkumpulan Pedagang Kelontong Sumenep Indonesia (PPKSI) dikenal sebagai salah satu organisasi yang menghimpun pejuang rupiah asal Sumenep di tanah rantau. Khususnya di kawasan metropolitan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek).
Organisasi tersebut secara resmi lahir pada 13 November 2019 di Hotel Sofyan, Jakarta. Tetapi, baru terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM pada 23 Agustus 2019. Kini keberadaan anggota dan pengurus PPKSI sudah menyebar ke sejumlah provinsi di Indonesia. Bahkan, hingga Kalimantan dan Bali.
Kemarin (21/6) Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkesempatan menemui pendiri sekaligus Ketua Umum PPKSI Wiyanto Kawiriyan di kediamannya di Desa Grujugan, Kecamatan Gapura. Dengan ciri khas orang Madura, kopiah hitam dan sarung tetap menjadi pakaian sehari-hari mantan aktivis HMI itu.
Kesan pertama, dia cukup humble dan sederhana. Sepintas, dia memang punya jiwa sosial yang tinggi. Tak heran dia memiliki inisiatif untuk mendirikan PPKSI yang tujuannya untuk mewadahi orang Sumenep di tanah rantau.
Pertemuan tersebut semakin hangat saat dia bercerita panjang lebar awal mula berdirinya PPKSI. Sebagai pelaku atau penjaga warung kelontong di Jakarta, dia merasakan betul susahnya hidup di tanah rantau.
Tindak kriminal atau premanisme tak terelakkan. Termasuk, ketika ada keluarga yang meninggal dan sakit. Suasana itu benar-benar membuatnya bingung. Tidak punya pangkuan bantuan.
Atas dasar itu, dia terdorong untuk membuat perkumpulan orang Sumenep yang berjuang mencari rupiah di tanah rantau. Semata-mata untuk saudara sesama orang Sumenep. Terutama, ketika mendapat kesusahan di tanah rantau.
Dia menjelaskan, latar belakang berdirinya PPKSI tidak bisa dilepaskan dari dunia keaktivisan. Sebab, dunia itu yang mengantarkannya hijarah ke Jakarta. ”Saya kan pendiri Komisariat Paramadina HMI di Universitas Wiraja Sumenep. Selepas itu, saya jadi pengurus PB HMI,” katanya.
Sembari menjalani dunia keaktivisan, dia juga berwirausaha dengan membuka warung kelontong. Pada saat itu, dia merasakan betul bahwa membuka warung kelontong di Jakarta tidak semudah yang dibayangkan.
”Banyak tindakan kriminal, baik sebagai pelaku maupun sebagai korban. Terus ketika penjaga warung meninggal dan sakit, benar-benar sendiri,” terangnya.
Atas peristiwa-peristiwa yang demikian, Wiyanto akhirnya tergerak mendirikan perkumpulan. Setidaknya, perkumpulan itu sebagai saudara kandung kedua bagi penjaga warung kelontong di tanah rantau. ”Itu sebenarnya yang mendorong saya tergerak untuk mendirikan PPKSI,” katanya.
Tujuan didirikannya PPKSI, selain untuk pemberdayaan ekonomi, juga pemberdayaan sosial. Misalnya, pemulangan jenazah gratis, pengurusan orang sakit, dan bantuan sosial lainnya untuk masyarakat Sumenep di tanah rantau. Terutama yang jaga warung kelontong, khususnya di Jabodetabek.
”Karena hampir setiap Minggu orang Sumenep ada yang meninggal. Itu hanya di Jabodetabek. Cuma karena kita belum punya ambulans, akhirnya kita kerja sama dengan pihak lain. Termasuk dengan ambulans dari PB NU,” paparnya.
Selain pemberdayaan sosial, PPKSI juga memberikan pendampingan hukum. Tidak sedikit penjaga warung kelontong yang mengalami tindak kriminal. Bisa sebagai pelaku maupun korban. ”Peristiwa seperti itu bukan sesuatu yang sederhana,” terangnya.
Pria kelahiran April 1980 itu menambahkan, adapun pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dari lahirnya PPKSI. Sebab, selama ini masyarakat Sumenep yang ada di tanah rantau belum punya agen.
”Karena itu, target ke depan harus punya agen sendiri. Sementara, distributor dan koperasi sudah punya meskipun belum berjalan maksimal,” pungkasnya.
Editor : Abdul Basri