Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Dua Puluh Satu Tahun Warga Sambas Tinggal di Kecamatan Sepulu

Abdul Basri • Kamis, 16 Juli 2020 | 03:13 WIB
Dua Puluh Satu Tahun Warga Sambas Tinggal di Kecamatan Sepulu
Dua Puluh Satu Tahun Warga Sambas Tinggal di Kecamatan Sepulu

Kerusuhan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, terjadi 21 tahun silam. Warga yang tinggal di Desa Kelbung, Kecamatan Sepulu, menatap masa depan lebih gemilang. Mereka kompak dalam kegiatan-kegiatan positif.


DARUL HAKIM, Bangkalan, RadarMadura.id


AKTIVITAS warga Sambas sama dengan masyarakat Madura di pedesaan pada umumnya. Keakraban dan kekompakan terlihat begitu kental. Terutama dalam kegiatan positif demi menjalin silaturahmi.


Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkesempatan silaturahmi dengan mereka di Kampung Sambas, Desa Kelbung, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, Kamis malam (9/7). Malam itu, para sesepuh dan tokoh pemuda menghadiri peresmian sekolah dasar Islam tarbiyah (SDIT). Jarak tempuh dari Kota Bangkalan ke lokasi hanya satu jam menggunakan kendaraan roda empat.


Abu Hasan tiba di Dusun Longkak, Desa Kelbung, pada 2000. Setahun setelah kerusuhan terjadi di tanah kelahirannya pada 1999. Sebelumnya sesepuh warga Kampung Sambas itu tidak memiliki famili di Madura. Warga Sambas ditampung oleh seorang warga di Bangkalan.


Pria 74 tahun itu menambahkan, daerah yang ditempatinya awalnya dinamakan Dusun Longkak. Karena sudah ditempati warga Sambas, kemudian terkenal dengan sebutan Kampung Sambas dan Dusun Sambas. ”Pertama kali warga Sambas yang datang ke sini ada 377 KK,” ungkapnya.


Warga Sambas awalnya ditampung di lahan perbukitan milik Perhutani. Oleh pemerintah disediakan rumah huni. Luasnya 5 x 7 meter. Lambat laun karena masyarakat sudah punya pekerjaan untuk menyambung hidup, rumah huni dibangun. Warga merantau ke Malaysia, Sumatera, Jakarta, dan sebagainya.


”Rata-rata merantau ke Malaysia,” tuturnya. ”Saat ini rumah warga ada sekitar 250 unit. Jumlahnya menjadi 400 KK,” imbuhnya.


Menurut Hasan, masyarakat luar biasa kompak lantaran memiliki penderitaan yang sama. Karena itu, kegiatan-kegiatan positif dilakukan. Misalnya, yasinan di masjid setiap malam Jumat. Sedangkan kaum hawa menggelar acara muslimatan setiap Jumat. ”Lokasinya berpindah-pindah. Giliran ke rumah warga,” ungkapnya.


Warga berharap, lahan yang ditempati bisa disertifikat dan menjadi tanah pribadi. Dulu, kata Hasan, pemerintah berjanji lahan itu bisa menjadi hak milik otomatis jika ditempati selama lima tahun. ”Kenyataannya, sampai saat ini tidak ada kejelasan,” sesalnya.


Meski tinggal di Madura, mereka tidak melupakan budaya tanah asal. Misalnya, saat hari raya warga bersilaturahmi ke sanak famili. Momen hari raya itu digelar tujuh hari. Keliling ke rumah famili dan tetangga. Istilahnya Yeraye.


”Yeraye kurang afdal kalau tidak ada kue lapis,” timpalnya. Masyarakat luar Kampung Sambas untuk merasakan kue lapis datang pada saat Lebaran. Sebab, setiap rumah menyediakan kue lapis.


Selain keagamaan, sarana pendidikan dan masjid dibangun secara swadaya. Sarana pendidikan yang sudah dibangun yakni PAUD, TK, MI, dan SDIT. Semua bangunan dibangun secara swadaya.


Kegiatan kepemudaan juga dilakukan secara bersama-sama. Para pemuda mengambil peran supaya kekompakan tidak pernah luntur. Giat kepemudaan dibangun dari segala hal. Pemuda membentuk organisasi untuk menampung potensi mereka.


Di bidang olahraga ada futsal. Meskipun kampung kecil, bisa dikatakan banyak dikenal orang. Secara individu, untuk olahraga futsal sudah menonjol.


”Dalam giat kepemudaan juga ada hadrah. Latihan hadrah seminggu sekali agar pemuda memiliki kreativitas dan tidak timbul hal negatif. Dengan begitu, kegiatan positif terus ditonjolkan,” beber Abdul Mannan, tokoh pemuda Kampung Sambas.


Dul Mannan itu menambahkan, pada bulan Ramadan, ada kegiatan buka bersama. Kegiatan Isra Mikraj. Apalagi, pada acara agustusan. Pemuda berada di garda terdepan. Kalau agustusan, selain mengadakan lomba, juga digelar upacara. Pada malam 17-an, ada acara pawai obor. ”Alhamdulillah, para pemuda dan warga Sambas kompak dalam segala hal,” jelasnya.


Pria 36 tahun itu berharap, kekompakan yang sudah dibangun tidak pernah luntur dan surut. Pihaknya mengajak para pemuda terus memajukan kampung dalam semua hal positif. ”Awal mula, kami hanya main ke rumah kerabat. Lambat laun, kerabat balas main ke rumah kami pada saat hari raya,” tuturnya tentang interaksi dengan warga lain.


Kepala Desa (Kades) Kelbung Muhammad Isni bersyukur atas kekompakan masyarakat Kampung Sambas. Jalinan kekompakan yang kuat itu bisa ditiru masyarakat dusun lain di Desa Kelbung.


”Itu (menjaga kampung, Red) kewajiban bersama. Tidak hanya menjadi kewajiban kepala desa,” ucapnya.


Kekompakan itu bisa menjadi modal untuk pembangunan. Warga bisa saling membantu. ”Umpama yang tua perlu, yang muda harus bantu. Ketika yang muda perlu, maka yang tua harus bantu. Seperti itu kan bagus,” ucapnya.


Menurut Isni, kekompakan warga Dusun Pangloros juga bagus. Pihaknya sangat mengapresiasi. ”Meskipun mereka (warga Sambas) pendatang, tapi sudah seperti warga pribumi. Kami semua welcome. Mereka sudah tinggal di desa kami. Jadi, sama saja. Tidak ada pilah pilih. Semuanya warga Kelbung,” tegasnya.


Pemerintah desa siap memfasilitasi hobi pemuda Desa Kelbung. Misalnya, futsal agar semakin meningkat. ”Harapan kami, delapan dusun di Desa Kelbung bisa sama-sama menjaga keamanan, kesatuan, kekompakan, dan saling bersinergi dalam hal positif,” harapnya.

Editor : Abdul Basri
#kerusuhan