Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Saat Air Laut Surut Biasa Mencebur untuk Bisa Naik Perahu

Abdul Basri • Kamis, 5 September 2019 | 14:25 WIB
Saat Air Laut Surut Biasa Mencebur untuk Bisa Naik Perahu
Saat Air Laut Surut Biasa Mencebur untuk Bisa Naik Perahu


Mencebur ke laut itu sudah biasa bagi warga kepulauan. Bahkan, tidak jarang harus berbasah-basah ketika air laut surut. Itu terjadi karena perahu tidak bisa merapat ke dermaga.


JUNAIDI PONDIYANTO, Sumenep, RadarMadura.id


PANAS matahari sangat menyengat ketika Jawa Pos Radar Madura sampai di Pelabuhan Cangkarman kemarin (4/9). Aktivitas pelabuhan di Desa Aengbaja Kenek, Kecamatan Bluto, itu tetap ramai. Pelabuhan menjadi akses warga menuju Pulau Gili Raja, Kecamatan Giligenting, atau sebaliknya.


Beberapa orang berbondong-bondong membawa barang. Mereka bergegas mendekati perahu kecil di ujung dermaga. Sesekali perahu kecil itu terlihat seperti mau terbalik terhempas ombak. Penumpangnya tampak saling berdesakan.


Perahu tambangan itu mengantar penumpang ke perahu angkutan lebih besar yang ada lokasi agak ke tengah laut. Perahu yang lebih besar itu tidak bisa merapat ke dermaga karena air laut sedang surut. Jadi, para penumpang harus berpindah-pindah perahu.


Seorang pria bersarung lengkap dengan kopiahnya berteduh dari panas di gardu pinggir laut. Pria itu adalah Misbahul Khair Ali. Umur 27 tahun, warga Pulau Gili Raja. Dia sedang menunggu jadwal pemberangkatan perahu berikutnya karena sudah ketinggalan.


Kepada JPRM dia menyampaikan, pemandangan di ujung pelabuhan itu sudah lumrah terjadi ketika air laut sedang surut. Perahu besar tidak bisa merapat karena air laut dangkal. Tiap orang dikenakan tarif Rp 2.000 untuk diantar perahu tambangan menuju perahu yang lebih besar.


Menurut dia, saat ini air laut tidak begitu surut. Kejadian itu belum seberapa dibandingkan ketika perahu kecil saja tidak bisa menepi sampai ujung dermaga. Penumpang perahu harus turun ke laut untuk bisa menaiki perahu kecil.


”Ketinggian air kira-kira sampai paha orang dewasa, bagi warga kepulauan seperti saya begini sudah biasa,” tuturnya. Kondisi pasang dan surutnya air laut tidak menentu.


Setiap hari ada enam perahu yang beroperasi di pelabuhan itu. Perahu pertama berangkat pukul 06.30, perahu kedua pukul 09.00, dan perahu ketiga pukul 11.00. Kemudian, perahu kempat pukul 13.00, perahu kelima pukul 15.00, dan perahu keenam pukul 16.00. Tarif Pelabuhan Cangkarman–Pulau Gili Raja Rp 15.000 per orang.


Sebagai warga kepulauan, Misbah berharap perhatian pemerintah untuk memperpanjang dermaga di Pelabuhan Cangkarman. Dengan begitu, transportasi jalur laut menjadi lebih lancar dan tidak memprihatinkan. Harapan itu juga sudah disampaikan ketika warga kepulauan ada yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif.


Aktivitas di pelabuhan itu terbilang ramai. Tidak sedikit warga Pulau Gili Raja yang ke luar pulau setiap hari. Bahkan, banyak yang pergi merantau ke luar daerah untuk mengais rezeki.


Pemandangan itu bisa dilihat di tepi Jalan Raya Sumenep–Pamekasan dekat pelabuhan. Hampir setiap hari banyak orang menunggu bus antarkota antarprovinsi (AKAP) tujuan Jakarta. Sebab, tidak sedikit warga pulau yang terdiri atas empat desa itu buka usaha di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang.


Editor : Abdul Basri