Orang Madura seolah tidak bisa dipisahkan dengan carok. Peristiwa carok itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Senjata yang digunakan juga memiliki makna filosofis.
ANIS BILLAH, Pamekasan
GEDUNG Kesenian Pamekasan di Jalan Trunojoyo, Kelurahan Patemon, sesak dengan generasi milenial, Selasa malam (12/2). Mereka duduk bersila tak beraturan. Namun pandangannya fokus ke tiga orang di depannya. Kaum milenial itu berasal dari berbagai komunitas kepemudaan di daerah Madura.
Wajah-wajah mereka masih terlihat segar. Mereka asyik mendengarkan satu per satu penjelasan dari tiga orang di depan mereka. Suguhan kopi membuat muda mudi keasyikan menyimak koloman budaya Civitas Kotheka dengan tema Psikologi Kejantanan Orang Madura.
Ango’a pote tolang etembang pote mata (lebih baik putih tulang daripada putih mata). Kata-kata itu mengawali diskusi yang dimoderatori Rayyan Julian. Kemudian, satu per satu pemateri diberi kesempatan memberikan gagasan tentang psikologi kejantanan orang Madura.
Dua pemateri berbagi keilmuan pada kegiatan tersebut. M. Budi Hartomo S.W membahas tentang carok. Sedangkan Hadi Suyono membahas psikologi orang Madura.
Budi sudah melakukan observasi ke beberapa daerah di Madura. Dia mencoba mendalami karakter orang Madura yang terkenal kasar, keras, dan semaunya sendiri. Yang dia temukan saat berkomunikasi dengan orang Madura sangat santun, tidak ada yang keras seperti yang dikenal banyak orang.
”Artinya, saya berkesimpulan bahwa sikap orang Madura bergantung pada lawan bicaranya. Kalau santun dibalas lebih santun. Sebaliknya, kalau kasar akan dibalas lebih kasar,” tutur warga Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, itu.
Orang Madura memiliki berbagai cara untuk menunjukkan kejantanannya. Kejantanan itu berarti memiliki keberanian dalam menghadapi berbagai persoalan. Orang Madura memiliki keberanian yang besar dalam mempertahankan dan memperjuangkan apa yang mereka miliki.
Tiga hal penting yang membuat kejantanan orang Madura meluap. Yakni, kehormatan, keluarga, dan harta. Jika tiga hal ini diusik, jangan heran jika orang Madura melakukan sesuatu di luar nalar. ”Bahkan, mereka rela mempertaruhkan nyawanya,” kata pria lulusan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Menurut dia, carok menjadi cara orang Madura mempertahankan kejantanannya. Sebab hal itu menjadi senjata untuk menjaga kehormatan. Bahkan, dalam praktiknya carok direncanakan.
Praktik carok unik. Bisa terjadi karena diundang. Tentunya, hal itu sudah direncanakan. Sebelum carok, berbagai persiapan dilakukan oleh kedua belah pihak. ”Beberapa persiapan biasanya dilakukan sebelum carok dimulai. Jadi, pelaku carok mulai meningkatkan ibadahnya sebagai bekal spiritual. Persiapan dalam hal supranatural juga dilakukan,” ujarnya.
Selain itu, ada makna filosofi yang terkandung dalam praktik carok. Misalnya, bentuk celurit yang seperti simbol tanda tanya. Itu berarti orang Madura jarang merasa puas terhadap sesuatu sehingga mereka terus bertanya-tanya.
Cara meletakkan celurit juga memiliki filosofi. Biasanya pelaku carok meletakkan celurit di bawah tulang rusuk bagian kiri. Selain untuk mempermudah mengambilnya saat berhadapan dengan musuh, celurit sangat dihargai oleh orang Madura.
”Bahkan kalau menurut Bapak Abdurrahman (salah satu pelaku carok), celurit diibaratkan sebagai istri ketika berada di luar rumah. Celurit diletakkan di bawah tulang rusuk bagian kiri karena tulang rusuk laki-laki kurang satu. Makanya, ketika istri diganggu, suami orang Madura itu pasti berang,” kata pria 33 tahun itu.
Hadi Suyono menambahkan, karakter kejantanan orang Madura berhubungan dengan psikologi maskulinitas. Yakni sebuah perilaku atau simbol-simbol kelaki-lakian. Baik laki-laki maupun perempuan juga bersifat maskulinitas.
Namun, psikologi kejantanan orang Madura lebih dikenal pada stereotip bentuk kekerasan. Hal itu muncul karena faktor lingkungan sehingga terbentuk tradisi. Hal itu terjadi pada zaman dahulu.
”Kita bisa lihat di daerah yang rawan terjadi carok. Biasanya kalau ada yang mati karena carok, pakaiannya disimpan tanpa dicuci. Tujuannya, untuk diberitahukan kepada anaknya bahwa bapaknya meninggal karena dibunuh. Dari situ muncul identitas sosial,” terang pria asal Jogjakarta itu.
Menurut dia, identitas sosial tidak perlu dikembangkan. Sebab, bagaimanapun bentuk kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Perlu kesadaran masyarakat untuk mengubah diri.
”Jadi, kesempatan untuk memperbaiki identittas sosial masih mungkin terjadi. Tapi bukan berarti menghilangkan maskulinitas atau keberanian dalam diri kita. Artinya, karakter orang Madura tidak akan hilang hanya karena meninggalkan carok,” pungkas dosen psikologi Universitas Ahmad Dahlan itu.
Editor : Abdul Basri