Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kampung Kreatif Kebonagung Awalnya Angker

Abdul Basri • Rabu, 4 Juli 2018 | 19:49 WIB
Kampung Kreatif Kebonagung Awalnya Angker
Kampung Kreatif Kebonagung Awalnya Angker

SUMENEP – Sumenep kaya akan wisata alam. Ada yang murni faktor alam. Ada juga karena olahan manusia. Salah satunya, Kampung Karang Raddunan, Desa Kebonagung, Sumenep. Lahan tidak produktif dan terkenal angker itu kini disulap menjadi kampung kreatif yang banyak dikunjungi pencinta bola.


Banyak cara membuat lokasi menjadi tempat wisata. Atau agar lokasi tersebut menjadi lebih menarik. Momen Piala Dunia 2018 di Rusia dimanfaatkan oleh warga Desa Kebonagung. Di samping untuk ajang silaturahmi dan berkumpul, juga supaya Desa Kebonagung lebih ramai.


Jarak dari jembatan Kebonagung menuju Kampung Kreatif Kebonagung sekitar 250 meter. Sangat mudah dilalui karena pintu masuk gang di pinggir jalan raya. Di pintu masuk Kampung Karang Raddunan banyak hiasan. Misalnya, gambar olahraga di dinding dan lampu hias bergelantungan.


Kampung yang awalnya terkenal angker kini menjadi pusat warga nonton bareng (nobar) piala dunia. Saat malam, kampung angker itu terlihat indah. Warga yang datang tidak hanya nobar, tapi juga berswafoto.


Adri Bolam, anggota Generasi Pemuda Kreatif (Gemuk) Kebonagung, mengatakan, kreativitas tersebut merupakan inisiatif warga Desa Kebonagung. Setelah dirembuk bersama tokoh dan kepala desa (Kades), akhirnya disepakati membuat kampung piala dunia. Apalagi ada lomba Piala Dunia Rusia 2018. ”Teman-teman awalnya melihat iklan. Dari situ idenya,” kata dia Selasa (3/7).


Pria 24 tahun itu menyampaikan, lokasi nobar awalnya lahan tidak produktif. Ditumbuhi semak belukar, bambu, dan berdekatan dengan kuburan. Lahan tersebut milik dua orang. Setelah pemilik memberi izin, lahan tersebut digarap oleh warga. ”Awalnya terkenal Kampung Angling Dharma karena angker,” ujarnya. ”Banyak warga melihat penampakan. Seperti hantu,” imbuhnya.


Berkat kekompakan warga Kebonagung, selama dua bulan lokasi angker itu terlihat lebih menarik. Hingga saat ini, lokasi itu terus dikembangkan. Misalnya, mengecat dinding, menambahi hiasan, dan semacamnya. ”Yang mengerjakan warga Kebonagung semua. Tidak ada orang lain,” jelasnya.


Lantaran lokasi mulai menarik, banyak warga dari luar Kebonagung berdatangan. Ada yang sekadar foto-foto. Ada juga yang nobar hingga dini hari. ”Biasanya, yang banyak datang dari sore. Kalau sudah malam hari tempatnya penuh. Berdesak-desakan,” bebernya.


Koordinator Gemuk Achmad Junaidi menambahkan, organisasi Gemuk berdiri lebih kurang 11 tahun. Organisasi ini bertujuan mengumpulkan anak muda supaya ada wadah untuk mengisi kekosongan. Misalnya, pertandingan sepak bola, seni, dan semacamnya. ”Jadi, tidak fokus pada satu hal. Semua wadah ditampung. Kebetulan saja momen saat ini piala dunia,” jelasnya.


Pria yang biasa dipanggil Edi itu menyampaikan, karena kekompakan warga, Kampung Kreatif Kebonagung terlihat lebih menarik. Pembelian cat tembok, bendera, gabus, dan bahan-bahan lainnya lebih kurang menghabiskan Rp 40 juta. ”Semoga menjadi jauara dan kekompakan warga terus terjalin,” harapnya.


Editor : Abdul Basri