Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puluhan Tahun Menekuni Usaha Pandai Besi Haderi Tak Pasang Target Omzet, Yang Terpenting Berkah

Abdul Basri • Senin, 20 November 2023 | 07:42 WIB

 

KERAS: Haderi memanasi baja di tempat kerjanya di Dusun Pandiyan, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan. (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
KERAS: Haderi memanasi baja di tempat kerjanya di Dusun Pandiyan, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan. (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)

Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Komitmen itu yang terus dipegang teguh Haderi.

Dia menekuni usaha pandai besi sejak puluhan tahun. Berkat kegigihan itu, dia berhasil menunaikan rukun Islam kelima.

LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

TERIK matahari menemani sepanjang perjalanan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menuju Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan.

Salah satu dusun di desa tersebut diberi nama Dusun Pandiyan.

Nama itu merupakan representasi pekerjaan warganya yang banyak menekuni usaha pandai besi.

Suara pukulan antara palu dan baja panas menyambut kehadiran JPRM.

Bangunan dengan luas 4x4 meter tampak di hadapan JPRM.

Bangunan itu tempat Haderi dan tiga orang pekerjanya membuat beberapa perkakas dapur, celurit, cangkul, linggis, dan sebagainya.

Baja, arang, mesin penghalus, dan beberapa alat pandai besi lainnya tergeletak di ruangan yang cukup terbuka itu.

Ya kayak gini keadaannya, namanya juga tempat kerja pandai besi,” ucap Haderi.

Dia mengaku, sudah sejak 1990 menekuni pandai besi. Pekerjaan itu mengikuti jejak orang tuanya.

Sampai sekarang, pekerjaan itu menjadi tumpuan hidup Haderi dan keluarganya.

”Hanya saya dan saudara yang bertahan menekuni usaha pandai besi ini. Tidak tahu nanti kalau kita ini sudah meninggal seperti apa.

Ditawarkan ke anak-anak, tidak ada yang mau,” katanya sambil bercanda.

Haderi mampu membuat berbagai alat dari baja yang dia tempa. Di antaranya, pisau dapur, berbagai jenis celurit, cangkul bahkan linggis.

Baja menjadi bahan dasar. ”Selain baja, hasilnya tidak bagus. Harganya Rp 20 ribu per kilogram,” ucap Haderi.

Beberapa tahun yang lalu pernah ada turis asing yang ingin belajar pandai besi. Kedatangan orang luar negeri itu disambut baik oleh warga.

Bahkan, teknik membuat perkakas dari besi juga diajarkan kepada turis itu.

Dalam sehari, pria berusia 60 tahun itu mampu membuat 40 celurit, 15 cangkul, dan 2 linggis.

Harganya pun beragam. Celurit dijual mulai Rp 35 ribu hingga 40 ribu. Sedangkan cangkul dijual dari harga Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu.

Penjualannya sudah keluar Madura. Mulai dari Lumajang, Bandung, Kalimantan, Sulawesi, dan sebagainya.

Dia tidak pernah memasang target omzet. Bagi Haderi, yang terpenting bekerja, urusan rezeki dipasrahkan pada Sang Pencipta.

Hasil dari pandai besinya selama puluhan tahun itu berhasil memberangkatkan dia dan saudaranya menunaikan rukun Islam kelima.

Keberangkatannya ke Tanah Suci itu merupakan pencapaian yang luar biasa dalam hidupnya.

”Hasil kerja ini sudah bisa memberangkatkan kami haji, insyaallah itu sudah berkah. Jadi, apa pun pekerjaannya yang penting berkah,” tukasnya. (*/pen)

Editor : Abdul Basri
#besi #pandai besi #Haderi #rukun Islam #Dusun Pandiyan